Walikota Payakumbuh Riza Falepi Utamakan Sektor Pendidikan Untuk Bentuk Karakter Bangsa

FOKUSATU-Walikota Payakumbuh, Sumatera Barat Riza Falepi berkeyakinan agar bangsa Indonesai maju maka sektor pendidikan harus diutamakan. Maka ketika periode awal menjadi walikota, ia pun membenahi sektor itu. Dia pun sering masuk-keluar sekolah, madrasah dan menjadi pembicara di berbagai lembaga pendidikan. Dia tidak segan-segan menegur guru dan kepala sekolah yang mengajar asal-asalan.
Sehingga periode pertama kepemimpinan Payakumbuh menjadi nomor satu di bidang pendidikan.

“Capaian ini cukup menggembirakan. Biasa yang yang selalu unggul adalah Kota Padang dan Bukittingi. Tetapi dengan tekad yang kuat dan bantuan dari semua pihak, Payakumbuh pun menjadi nomor satu. Bahkan saya pernah menaikkan anggaran pendidikan sampai 37% lebih. Jauh diatas yang disyaratkan secara nasional, yakni 20%, “ tambahnya.

Selain sektor pendidikan, menurut, Riza yang juga fokus digarap adalah infratsruktur. Sekarang- jalan-jalan utama, jalan kampung, trotar dan fasilitas umum lainnya di Kota Payakumbuh mulus.
“Lebih dari 90% jalanan beraspal licin dan mulus. Yang belum dan masih ada sedikit masalah adalah jalan propinsi dan jalan nasional karena untuk memperbaikinya, anggarannya dari pusat, bukan dari daerah. Jadi saya tidak mempunyai kewenangan untuk menggelontorkan anggarannya. Namun demikian saya tetap berusaha agar yang rusak diperbaiki,” jelasnya.

Rendang go internasional
Rendang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Chef internasional Gordom Ramsay di National Geographic Channel menobatkannya sebagai makanan terlezat dunia.
Ingat rending, ingat Sumatera Barat. Karena kuliner khas Indonesia ini memang berasal dari tanah Tanah Minang. Tetapi siapa sangka yang membranding rendang sebagai merek dagang dan menjadi komoditi ekspor adalah walikota Payakumbuh dua periode, Riza Falepi .

“Awal saya membranding rendang Payakumbuh memang mendapat banyak tanggapan dari daerah lain di Sumatera Barat. Misalnya Bukittinggi, Padang, Solok dan Pariaman. Karena rendang mereka mempunyai ciri khas juga. Tetapi saya katakan kepada mereka, rendang mana sih yang sudah punya sentra produksi, punya ISO, punya label Halal, punya semua persyaratan yang diharuskan dalam sebuah produksi massal? Yah, hanya rendang Payakumbuh,” tutur Riza Falepi saat ngobrol santai dengan wartawan, usai buka puasa bersama di Saung Sampireum, Bintaro, Tangsel, Kamis 22/4.

Karena sudah mempunyai branding itulah rendang Payakumbuh menembus pasar ekspor, utamanya ke Arab Saudi. Tahun lalu rendang Payakumbuh mendapat kontrak sebanyak 480 ton untuk kebutuhan jamaah haji.

120 Penghargaan
Cerita rendang merupakan salah satu dari sekitar 120 penghargaan dan cerita sukses yang diperoleh Riza Falepi selama menjabat sebagai walikota ‘Kota Galamai’ ini. Penghargaan lain yang bertaraf nasional dan internasional pun sering diraihnya. Lebih dari 120 penghargaan dan sertifikat terkoleksi apik di kantornya.

Jebolan Teknik Elekro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini pun sering secara bersama-sama Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), Tri Rismaharini (sekarang Mensos) meraih penghargaan-penghargaan bergengsi.
“Tapi mereka kan untuk ukuran kota Besar sementara saya untuk kota kecil,” tutur mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI ini merendah.

Namun dari sekian pengharagaan, di luar yang diberikan pemerintah, yang paling berkesan baginya adalah anugerah yang diberikan oleh Majalah Tempo Grup.

“Tiba-tiba saja saya dinobatkan sebagai walikota yang berprestasi, yang diukur dari kinerja saya. Diantara kinerja yang diukur adalah meningkatkan pendapatan daerah, pembuatan sanitasi, pengentasan kemiskinan dan peningkatan pelayanan umum. Ya, karena diberi penghargaan tentu saya terima,” tambahnya.

Sementara penghargaan dari pemerintah, menurutnya, semuanya membanggakannya karena penghargaan tersebut diberikan itu diukur dari capaian kinerja.
Namun bagi Riza, bukan penghargaan-penghargaan itu yang mebuatnya bangga tetapi semangat mengabdi untuk mensejahterakan masyarakat di wilayahnya.
“Penghargaan itu kan hanya pengakuan bahwa kinerja saya dihargai. Namun yang lebih penting adalah niat dan kemauan yang untuk meningkatkan kualitas masyarakat Payakumbuh dengan tulus ikhlas,” tuturnya.
Riza bercerita, awalnya dia tidak punya niat terjun ke birokrasi maupun ke dunia politik.

Karena dia adalah seorang pengusaha sukses. Dia pernah bekerja di perusahaan multinasional dan mendirikan perusahaan sendiri. Diantaranya Telecommunication Engineer (Systems Engineer), Bandung, Private Entepreneur in ICT/Joint Businesses, GM Operation di PT Aldomaru, Manager IBS, PT Indonesian Tower dan Business Development di RPE Engineering. Semuanya bergerak di bidang engineering/ IT.

“Tetapi, sekitar tahun 2011, sejumlah tokoh Payakumbuh memangil saya ke Jakarta, kemudian Ibu saya juga memintanya. Akhirnya saya pun pulang kampung. Lucunya, awalnya saya hanya berniat satu periode saja, tetapi tau-taunya berlanjut dua periode,” tambahnya.

Meski meraih sejumlah penghargaan, Riza tidak cepat puas. Ia selalu bergerak dan berinovasi. Seperti dalam kunjungannya ke Jakarta kali ini. Ia rencananya menghadiri “Pameran Artefak Islam Peninggalan Rasulullah” di Islamic Center Jakarta.

Ia pun berencana akan menyelenggarakan pameran serupa di ranah Minang, karena ia mahfun, orang Minang sangat religius dan pasti senang jika di daerahnya diselenggarakan pameran artefak peninggalan Nabi Muhammad.

“Nanti saya akan bicarakan dengan panitia, khususnya Pak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, bagaimana teknisnya untuk menyelenggarakan di tanah Minang, kapan waktunya dan di mana lokasinya. Mudah-mudahan semuanya lancar,” tutup Riza.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *