Tya Bunda Aiko : Kata Ajaib “Tolong”

FOKUSATU-Cu.. cu…. “ teriak Aiko (2 tahun) . Balita mungil ini berteriak meminta untuk dibuatkan sebotol susu. Suaranya menggelegar terdengar sampai keluar pintu pagar.

Pada situasi ini, ada beberapa kemungkinan reaksi yang bisa saya berikan sebagai seorang ibu. Pertama, saya bergegas ke dapur untuk membuatkan sebotol susu sesuai permintaannya. Masalahpun cepat selesai, saya tidak perlu mendengar teriakan Aiko lagi karena sudah terpenuhi apa yang dia inginkan.

Kedua, saya bisa meminta si mbak untuk membuatkan sebotol susu sambil ikut berteriak sebagaimana teriakan Aiko. Mungkin dengan berkata “mbak, bikinin Aiko susu tuh”. Masalah selesai bahkan tanpa harus bergerak dari tempat aku duduk.

Namun, saya memilih reaksi yang ketiga. Pilihan yang lebih rumit dan tidak mudah, namun in syaa Allah akan berakhir indah.
Saya bergegas datang ke kamarnya, bukan ke dapur untuk memenuhi permintaanya itu. Saya pikir, inilah momen berharga untuk mengajarkan Aiko sebuah kata ajaib. Iya, inilah reaksi ketiga yang menjadi pilihan.

Saat saya datang ke kamarnya, kembali Aiko berteriak “cu cuuu…” kali ini sambil mengerak-gerakkan badannya, sesekali membanting-banting kakinya ke atas kasur. “Apa sayang? Mau minta susu?” tanya saya, mempertegas apa yang dia inginkan. “cu cuuuuu….” teriak Aiko sekali lagi, kali ini sambil menangis. Saat melihat sikapnya yang seperti itu, saya katakan padanya “maaf ya sayang, bunda gak bisa buatin susu kalau Aiko grumpy. Kalau Aiko udah gak grumpy nanti bunda ajarin gimana caranya minta susu yang baik ya”.

Grumpy adalah istilah yang kami gunakan untuk sikap suka mengeluh, berteriak, marah dan perilaku tidak baik lainnya.
Butuh waktu beberapa menit sampai dia menghentikan grumpy-nya. Setelah Aiko berhenti berteriak dan lebih tenang, saya mendekat, dan berkata “pinter, udah gak grumpy sekarang?”. Aikopun menjawab “nggak” sambil sesenggukan karena sisa tangisnya.

Kemudian, saya mengangkat tubuhnya untuk diletakkan di atas pangkuan saya, berhadapan. Saat kami saling memandang, saya sampaikan padanya “Aiko bisa minta susu pakai cara yang baik, bunda ajarin ya”. Aiko menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
“Yuk sekarang ikutin bunda” tegas saya, memberi petunjuk pada Aiko untuk mengikuti kalimat yang akan aku ucapkan satu persatu.

Kalimat pertama yang diucapkan adalah “bunda, Aiko haus”. Aikopun mengikuti dengan lancar “bunda, Aiko haus”. Kemudian dilanjutkan pada kalimat kedua “tolong buatin susu”. Aikopun mengikutinya kembali dengan nada centilnya “tolong buatin cu..cuuu..”. Lalu saya menutup momen berharga itu dengan berkata padanya “oke.. mau di botol besar atau kecil?” sambil menggelitiki perutnya. Aiko menjawab “cing” dengan tawa manjanya.
Situasi seperti ini terjadi berulang kali.

Saya bersyukur, Allah SWT memberi kesabaran dan konsistensi untuk menjalaninya. Sampai suatu saat, Aiko tidak perlu dibantu lagi untuk sekedar mengatakan “tolong” tanpa grumpy.
Bahkan saat ini, beberapa tahun berselang, bukan lagi saya yang membuatkan susu untuk Aiko, tapi Aiko yang sering membuatkan saya secangkir teh manis hangat. Cukup mengucapkan kata ajaib saat meminta, maka Aiko akan segera melaksanakannya.

Jika saya lupa dengan kata ajaib itu, maka Aiko akan berdiri mematung sambil tersenyum di hadapan saya. Dia tidak bergerak, sampai saya sadar dan ingat untuk mengatakan “tolong”. Tak jarang momen semacam ini membuat kami berdua tertawa bersama.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas karuniaNya. Jika saja Allah tidak memberikan ilham dan kesabaran untuk melewati fase saat Aiko berteriak meminta susu saat itu, mungkin saya tidak bisa merasakan kebahagiaan dibuatkan teh manis hangat oleh Aiko, saat ini. MasyaAllah, Tabarakallah.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *