SEKARANG INI ISLAM RENTAN DICAP SEBAGAI AGAMA PEMECAH PERSATUAN KESATUAN (Forum Catatan Tajug Kuring Asep Masko)

FOKUSATU-Lepas dari masalah setuju dan atau tidak bahwa sekarang ini Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah menyebarkan surat edaran soal aturan volume suara (Speaker) di mesjid yaitu terkait suara Adzan dan atau Ceramah.

Pertanyaannya; “Kenapa bisa terjadi hal seperti ini..?
Itu artinya sebuah sinyal bahwa seluruh kaum muslimin dipenjuru bumi dari mulai Ulama sampai Umat wajib intropeksi; kenapa Islam yang mutlak sebagai Rahmatan Lil Alamin tapi pada faktanya sekarang ini Islam malah menjadi rentan dicap sebagai pemecah persatuan kesatuan.

Tentu ini sangat ironi, kenapa..? karena kita sebagai Muslim seringkali menggemar-gemorkan bahwa Islam ajaran keyakinan yang bersifat Universal serta menjadi Rahmat Bagi Sekalian Alam. Tapi faktanya sekarang ini umumnya masyarakat dunia memandang Islam adalah bagian dari sekte keagamaan. Sehingga banyak orang yang merasa risi dengan suara Adzan dan atau Ceramah di mesjid, bahkan kerisian itu datang dari sosok Menteri Agama yang notabene pemeluk ajaran Islam (Muslim).

Fakta seperti ini merupakan bukti bahwa Islam yang sering digembor-genorkan sebagai Rahmatan Lil Alamin dan Universal itu hanyalah sebatas klaim saja. Dengan kata lain bahwa Edukasi Rielnya tentang Keuniversalan Islam dan pengejawantahan Kerohmatan Lil Alaminnya Islam samasekali tidak dirasakan oleh umumnya manusia. Karena itu wajar kalau suara Adzan dan atau Ceramah dianggap sesuatu yang bisa mengganggu kenyamanan, dalam artian ceramah dan atau Adzan samasekali tidak dipandang sebagai hal yang baik bahkan jauh untuk bisa dipandang sebagai “Rahmat”.
Mestinya kalau kita memang benar meyakini Islam bersifat Universal dan Rahmat Bagi Sekalian Alam, maka seyogyanya keyakinan itu harus bisa dibuktikan lewat pengetahuan yang bisa diterima oleh logika setiap orang demi untuk mengedukasi seluruh umat manusia sehingga bisa benar-benar paham dan yakin bahwa Islam memang layak dipandang ajaran keyakinan yang bisa menjadi Rahmat Bagi Sekalian Alam. Dengan begitu akhirnya semua umat manusia bisa merasa nyaman tentram ketika mendengar suara Adzan dan atau ceramah yang didengungkan di mesjid-mesjid.

Namun rasanya untuk membuktikan Islam Rahmatan Lil Alamin lewat pengetahuan itu sangat tidak mungkin, kenapa..? dasarnya karena untuk bisa membuktikan hal itu perlu pengetahuan dan wawasan yang sangat mendalam pada Islam. Artinya kalau pengetahuan dan wawasan kita pada Islam masih terbilang dibawah rata-rata, maka mustahil kita akan mampu membuktikan Islam sebagai Ajaran Keyakinan yang bersifat Universal dan sebagai Rahmat Bagi Sekalian Alam. Dengan kata lain kalau pengetahuan dan wawasan kita pada Islam masih terbilang dangkal, maka konsekwensinya “Cintra Islam” dimata umumnya orang akan menjadi terlihat “Abu-abu”. Faktanya bisa kita lihat potret Islam saat ini, bahwa sekarang ini Islam dimata umumnya masyarakat dunia diidentikan “Teroris Radikalisme”. Fenomena ini merupakan akibat dimana Islam masih dipahami secara dangkal.
Dalam acara Catatan Demokrasi di TV One terkait 189 pondok pesantren terafiliasi paham radikal, kepala BNPT Komjen Pol Rafli Amar mengatakan; teroris itu bukan agama dan agama itu bukan teroris. Bahkan beliau mengatakan; Islam adalah Rahmat bagi Sekalian Alam. Artinya apa..? Kalau kita simak dan kita simpulkan dari semua pernyataan Beliau pada acara Catatan Demokrasi tersebut, bahwa secara implicit beliau mengatakan; “Islam adalah ajaran keyakinan yang sangat mudah disusupi oleh paham Radikal (Teroris)”. Bahkan Komjen Pol Rafli Amar kepala BNPT baru-baru ini mengumumkan banyak organisasi Islam yang tersusupi paham teroris. Namun penting digaris bawahi bahwa beliau tidak mengenalisir.

Meski demikian tetap pernyataan beliau itu menjadi rancu, kenapa..? pertama yang harus kita pahami; Islam bukan ajaran keyakinan yang lahir atas hasil karangan nalar. Atau lebih jelasnya Islam bukan hasil rekayasa akal manusia.
Islam adalah Hukum Hidup (Aturan Hidup) yang secara alami bukan hanya berlaku bagi segenap manusia tapi mengikat kuat pada setiap makhluk. Hukum Hidup yang telah lebih dulu ada sebelum manusia tercipta menjelma hadir di muka bumi. Pendek kata Islam adalah Hukum Hidup yang mutlak merupakan ketetatan-ketetapan Sang Pencipta Hidup. Dimana semua ketetapan-ketetapan-Nya itu terkemas dalam bentuk Fitrah Alam (Sunnatulloh). Oleh karena Islam suka disebut Agama Fitrah.
Kedua yang perlu kita pahami sementara prinsip-prinsip paham radikal (teroris) murni lahir dari Ambisi Obsesi yang mutlak hampa dari hukum norma dan etika. Oleh karena itu sehingga secara maknawi paham radikal (teroris) samasekali tidak memiliki bahasa yang baik ketika mau masuk ke rumah orang lain. Contohnya seperti Ucapan “Salam”. Atau dengan katalain bahwa paham radikal (teroris) mustahil akan mengucapkan “Salam” ketika akan memprovokasi orang. Kenapa..? karena pintu masuk Radikalisme tidak lain pasti awalnya berangkat dari Rasa Kecewa, Dendam dan Kebencian. Oleh karena itu maka semua ucapan provokasi Radikalisme kalau diilustrasikan persis ibarat panasnya “Api Neraka Jahanam”.
Prinsip-prinsip Radikalisme tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan Islam. Islam sangat mewajibkan untuk mengucapkan salam ketika mau masuk ke rumah orang. Itu artinya Islam senantiasa mewajibkan pada setiap pemeluknya supaya memberi keselamatan pada semua orang begitupun terhadap dirinya sendiri.
Dengan demikian Islam dan radikalisme adalah dua “Genetic” yang sangat berbeda. Artinya Islam dan Radikalisme samasekali sedikitpun tidak memiliki persenyawaan. Kalau boleh saya analogikan jauhnya jarak antara Islam dan Radikalisme itu ibarat jauhnya jarak antara Masriq dan Magrib. Sehingga sampai dunia kiamatpun sangat mustahil keduanya bisa bertemu apalagi dipersatukan. Persis ibarat mustahil terjadinya pertemuan antara Hak dan Bathil.
Kita sebagai makhluk yang punya akal dan perasaan tentu tidak bisa memungkiri fakta yang terjadi bahwa sekarang ini banyak orang yang merasa bingung bahkan heran ketika melihat perilaku manusia-manusia yang mengaku sebagai pemeluk Islam. Bagaimana tidak, disatu sisi mereka mengimani bahwa Islam adalah Rahmat Bagi Sekalian Alam, Islam adalah ajaran keyakinan yang diridhoi Allah SWT, sementara disisi lain perilaku mereka membuat umumnya orang menjadi memandang buruk pada Islam.
Fenomena demikian ini merupakan bukti bahwa sekarang ini nyata sudah terjadi kemunduran yang sangat jauh dalam memahami Islam. Yang sudah barang tentu kemunduran tersebut tidak terjadi secara instan tapi terjadi secara Urwatan-urwatan atau sedikit-sedikit yang prosesnya melalui waktu yang sangat panjang mencapai ribuan tahun. Yang ceritanya dimuali dari sejak ketika Rasululloh Saw meninggal dunia (wafat).
Kesimpulan
Perlu dipahami bahwa Islam dan Muslim adalah dua hal yang pengertiannya berbeda. Islam adalah Hukum Hidup yang mutlak merupakan ketetapan Sang Pencipta Hidup. Sementara Muslim adalah orang yang memeluk (menganut) ajaran Islam. Artinya secara Hakikat sampai kapanpun Islam mustahil akan terkotori. Hal itu tentu berbeda dengan orang Muslim, atau lenih jelasnya yaitu orang yang mengaku sebagai penganut ajaran Islam, yang dimungkinkan bisa saja mudah terprovolasi oleh paham teroris (Radikalisme). Namun penting diketahui, bahwa sejatinya orang Muslim mustahil akan terprovokasi oleh pemikiran-pemikiran Bathil contohnya seperti oleh paham Teroris (Radikalisme).
Dan sejatinya seorang Muslim mustahil akan membangun Negara di Dalam Negara. kenapa..? karena Rasulullah Saw samasekali tidak mengajarkan tentang hal itu. Namun demikian sejatinya seorang Muslim akan selalu tetap berjuang untuk merubah peradaban “Hewani ke peradaban Manusiawi”. Atau dengan katalain peradaban “Gelap ke peradaban Terang”. Peradaban yang sarat Laknat ke peradaban yang sarat Rahmat (Islami). Suatu perubahan yang dilalui lewat Edukasi yang Etis Logis Realistis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *