Sejarah Jakarta Menjadi Ibukota (Isyarat Langit)

FOKUSATU-Sejak lama Jakarta sudah dianggap tak layak sebagai pusat pemerintahan. Pilihan tempat sebagai pengganti pun ditetapkan. Inilah potret beberapa kota yang dipersiapkan sebagai ibukota di masa kolonial dan Orde Lama, yang karena sejumlah alasan gagal di tengah jalan.

Sebelum era kemerdekaan pemerintah hindia belanda sudah berulang kali mencoba membangun pusat pemerintahan (Ibukota) untuk Hindia Belanda, daerah-daerah seperti Bandung, Surabaya, Jogyakarta, Semarang, dan Malang adalah daerah yang rencananya akan dijadikan pusat pemerintahan kala itu. Namun dikarenakan beberapa hal rencana tersebut tak pernah terwujud.

Setelah Indonesia merdeka, Bandung menjadi salah satu calon ibukota negara. Tapi ia akhirnya hanya dikenal sebagai “ibukota Asia-Afrika” karena menjadi tempat Konferensi Asia-Afrika pada 1955.

Soekarno pun pernah mencoba berpikir untuk membangun sebuah kota, yang kelak bisa jadi ibukota negara. Pilihannya jatuh pada “Palangkaraya”. Saat itu, ada keinginan untuk membentuk Provinsi Kalimantan Tengah, memisahkan diri dari Kalimantan Selatan, yang kemudian ditetapkan pada 7 Mei 1957 melalui UU Darurat No 10 tahun 1957.

Sukarno membuat desain kotanya. Namun mimpi Soekarno harus kandas di tengah jalan, dan Palangkaraya gagal menjadi ibukota dikarenakan berbagai hal.Peristiwa yang terjadi di atas adalah rentetan sebuah peristiwa yang tercatat dalam buku sejarah.

Namun tahukah kita semua, bahwa ada sebuah atau beberapa peristiwa hebat yang terjadi sehingga membuat Presiden Soekarno bertekad bulat menjadikan Jakarta sebagai Ibukota negara, dan peristiwa tersebut dinamakan ” Peristiwa Suara Langit “.

Soekarno adalah seorang presiden yang sangat senang menanyakan sesuatu yang ghaib kepada para Ulama-ulama tertentu yang oleh beliau di anggap sangat mumpuni untuk membaca isyarat langit. Pada saat Soekarno ingin membangun serta menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota negara, maka dia berkomunikasi dengan Ulama kharismatik Banjar yang telah memberikannya sebuah tongkat kepadanya, yaitu Tuan Guru KH. Zainal Ilmi atau yang sering dikenal sebagai Abah sekumpul.

Oleh Abah sekumpul Sorkarno disarankan untuk tidak menjadikan daerah kalimantan sebagi ibukota negara, pada saat ditanyakan apa alasannya, Abah Guru Sekumpul hanya tersenyum dan bilang, nanti kamu akan lihat sendiri, Abah juga menyarankan agar Jakarta saja sebagai ibukota.

Begitupun ketika Soekarno ingin menjadikan daerah Jogyakarta sebagai ibukota negara, dia berkomunikasi dengan KH. Baidlowi Lasem atau yang lebih dikenal sebagai Mbah lasem ( Gurunya para Guru ). Saran dari KH. Baidlowi pun sama dengan Abah Guru Sekumpul, bahwa Jogyakarta ” saat ini belum bisa ” lebih baik Jakarta saja dijadikan ibukota.

Hal yang sama terjadi ketika Sorkarno ingin menjadikan Bandung dan sekitarnya ( Bogor ) sebagai Ibukota dia berkonsultasi dengan murid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Keramat Empang Bogor) yaitu Al Allamah Al Arifbillah Al Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad, oleh Habib Alwi Soekarno disarankan untuk menjadikan Jakarta saja sebagai ibukota negara.

Soekarno sedikit heran mengapa harus jakarta, bukankah daerah tersebut berada di bawah permukaan air laut, dan sewaktu-waktu bisa saja tenggelam, namun habib Alwi mengatakan ” Selama Makam Habib Husein bin Abu bakar Alaydrus ( Kramat Luar Batang ) masih tetap berada di sana ( Jakarta utara ) Insya Allah Jakarta akan baik-baik saja dan tidak akan tenggelam.

Lihatlah, apa yang dikatakan oleh ketiga ulama besar tersebut telah menjadi kenyataan. Peristiwa demi peristiwa terjadi pada ketiga daerah tersebut, seperti bencana alam, banjir, gunung meletus, peristiwa sampit, dll.

Jadi dari peristiwa tersebut, kita dapat mengambil pelajaran serta hikmah besar, bahwa penunjukan Jakarta sebagai Ibukota bukan hanya berdasarkan geografis wilayahnya semata, namun ada hal-hal lain yang perlu diketahui, bukan asal membentuk atau membangun ibukota..!

Wallahu A’lam..

# Cerita ini saya dapat dari perjalanan spiritual seseorang yang saat ini bermukim di ujung kulon 13 Tahun lalu.*Muchlis Hasan Pegiat Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *