Rosulullah Melarang Meniup Makanan Dan Minuman Panas, Setelah Diteliti Inilah Sebabnya

FOKUSATU-Banyak hal kebaikan yang di contohkan oleh Rosulullah Shalallahu alaihi Wasalam dalam kehidupan termasuk adab dalam menyantap makanan.

Menyantap makanan yang masih panas sangatlah beresiko karena dapat menyebabkan luka pada lidah atau tenggorokan kita, dari sariwan hingga radang pada tenggorokan.

Pada keadaan tersebut biasa nya orang akan meniup makanan dan minuman yang akan dikonsumsinya untuk mengurangi panas yang terdapat pada makanan yang akan disantap nya,tetapi ternyata ada resiko buruk yang terdapat saat kita meniup makanan dan minuman panas tersebut.

Rosululloh melarang kita untuk meniup dan menghembuskan nafas makanan dan minuman yang masih panas seperti termaktub dalam hadist yang diriwayatkan oleh At Turmudzi dan disahihkan oleh Al Albani.

Dari Astma binti Abukr; sesungguhnya jika beliau membuat roti tsarid wadahnya ditutupi sampai panasnya hilang kemudian beliau mengatakan, aku mendengar Rosulullah Shallahu alaihi Wasalam bersabda, “Sesungguhnya makanan yang sudah tidak panas itu lebih besar berkahnya”.

Dalam hadist lain juga disebutkan, “Sesungguhnya Rosulullah Shallahu alaihi Wasalam melarang bernafas dalam sebuah wadah atau meniup makanan dalam wadah tersebut. (HR At Tirmidzi).

Dan ternyata meniup makanan atau minuman yang masih panas memiliki resiko yang buruk untuk kesehatan, diatara beberapa penelitian terbukti bila uap panas yang kita tiupkan ke makanan atau minuman dapat mengundang bakteri jahat dan menyebabkan pereaksian kimiawi yang berakibat buruk untuk kesehatan kita.

Dari penelitian lain ditemukan hasil dari makanan atau minuman yang ditiup akan menghasilkan jamur dari spesies Candida Sp dan spesies Saccharomyces Sp, disamping itu dari kandungan karbondioksida melalui hembusan nafas akan terjadi pereaksian kimiawi yang merugikan kesehatan.

Dalam penelitian lain juga dihasilkan dari makanan dan minuman yang ditiup, dikipas dan didiamkan diruang terbuka dengan rumus (p= 0,0002) ditemukan cemaran dari jamur Candida dan Saccharomyces tersebut.

Disebutkan dalam aktifas dengan melakukan kegiatan seperti meniup, mengeluarkan udara, batuk, berbicara dan bersin akan mengeluarkan partikel-partikel berupa air yang ukurannya sangat kecil dan halus dan partikel tersebut masing-masing memiliki ukuran yang berfariasi dari ukuran 1 jum hingga lebih dari 20 jum dalam satuan partikel dan ketika satu kali kita bernafas akan menghasilkan hingga 7000 partikel, jika ditinjau dari ukuran bakteri rata-rata memiliki ukuran sekitar 0,2 hingga 2 jum dan virus berukuran sekitar 17 hingga 300 nanometer dari situlah mikroba-mikroba akan mencemarkan makanan dan minuman melalui partikel-partikel dari hasil tiupan yang kita lakukan.

Pada penelitian yang sama yang dilakukan oleh ahli gizi yaitu Lia Mustika dari Jurusan Program Ilmu Gizi Universitas Darussalam Gontor pada 2018 menunjukan perbedaan jumlah bakteri pada makanan dan minuman antara yang ditiup dan tidak ditiup.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Dawson pada tahun 2017 yang dikutip dari Journal Of Food Research Vol 6, No 4 dengan sample kue ulang tahun yang ditiup menghasilkan 1400% lebih banyak dari sample kue ulang tahun lainnya yang tidak ditiup, dijelaskan meniup makanan atau minuman menimbulkan metabolisme tubuh yang tidak seimbang, karena ketika CO2 atau karbondioksida yang dihasilkan oleh pernafasan bertemu dengan H2O atau air akan membentuk H2CO3 yang akan menyebabkan tubuh berada pada keadaan asidosis.

Lima ratus tahun yang lalu Rosululloh SAW sudah memberikan informasinya tentang kesehatan melalui banyak hadist, kita sebagai umat muslim hendaknya mengikuti petunjuk beliau untuk kesehatan serta keberkahan kita dalam kehidupan saat ini.

Dan banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengungkap kenapa Rosulullah melarang untuk meniup makanan atau minuman yang hendak kita kinsumsi, karena mengakibatkan resiko buruk untuk tubuh kita.

Akan tetapi larangan tersebut tidaklah dihukumkan dengan hukum haram, hanya dihukumkan dengan hukum makruh, dan siapa saja yang melakukan perbuatan tersebut tidaklah berdosa tetapi bila kita meninggalkan akan mendapat kebaikan serta pahala.
(JS)

Wallahualam bi sawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *