Nurangsih S Hasan : Cinta, Seks Dan Karakter

FOKUSATU– Berbicara tentang cinta artinya berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah habis untuk dibahas. Bahkan, sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalâm sampai kelak hari kiamat datang. Pembahasan tentang cinta tidak akan selesai. Setiap generasi mempunyai bahasan menarik untuk membahas dan mendiskusikan tentang cinta, begitu juga dengan Seks dan Karakter. Keduanya juga merupakan hal yang sama seks dan karakter juga ada sejak manusia itu ada, dari itu ketiganya merupakan komponen yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa cinta adalah mendamaikan, memberikan kebaikan, dan melatih pribadinya untuk terus menjadi seorang hamba yang lebih baik lagi. Cinta tentu saja banyak objeknya, dan objeknya tergantung bagaimana si subjek menyandingkannya.
Ibnu Hazm Al-Andalusi juga pernah menjelaskan tentang cinta. Menurutnya, bentuk cinta bersumber dari satu rumpun. Cinta ditandai dengan rasa rindu kepada yang dicintai. Cinta semacam ini objeknya dapat menyentuh apapun, bisa cinta dari orang tua kepada anak atau sebaliknya, cinta kepada kekasih, dan yang paling hakiki adalah cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Cinta merupakan sesuatu yang suci, artinya bahwa manusia yang memiliki naluri menyukai dan mencintai manusia lain merupakan hal istimewa yang dimiliki. Dengan begitu cinta harus ditempatkan sesuai porsinya hingga seks bukan menjadi alasan manusia untuk jatuh cinta.

Cinta merupakan motivasi terbesar bagi berbagai jenis perilaku berbudi terhadap sesama, termasuk di dalamnya memperhatikan orang lain dan toleran terhadap karakter orang lain. Cinta adalah konsep yang jauh lebih luas daripada sekadar seksualitas, cinta dapat menciptakan ikatan yang erat bagi keluarga, teman, dan pasangan.
Seks merupakan wilayah yang rumit. Potensi kontroversinya lebih tinggi daripada area lainnya dalam pendidikan. Akan tetapi, empat decade setelah revolusi seksual muncul kesamaan. Pantangan sekarang di akui menjadi pilihan yang paling bijaksana karena berbagai alasan. Lebih dari setengah juta remaja yang hamil sebelum menikah setiap tahunnya. Memiliki bayi semasa remaja sebelum menikah adalah jalan yang paling pasti menuju kemiskinan. Satu dan tiga kasus seseorang yang masih sendiri mendapatkan PMS di usia 24 tahun. Licona (2012. hlm, 108).
Karakter merupakan unsur pokok dalam diri manusia yang dengannya membentuk karakter psikologi seseorang dan membuatnya berperilaku sesuai dengan dirinya dan nilai yang cocok dengan dirinya dalam kondisi yang berbeda-beda. Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek,sementara seorang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai
orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitanya dengan
personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa disebut orang yang
berkarakter (a person of character) apabila perilakunya sesuai dengan kaidah
moral.

Seks dan Hati Manusia untuk manusia tentu saja, seks adalah tentang segala hal yang lebih dari sekedar masalah tubuh. Seluruh diri ikut terlibat. Itu sebabnya seks memiliki emosional yang kuat dan konseksuensi spiritual itu sebabnya tidak ada kondom untuk hati selain ada seks untuk hati.
Untuk memberikan pemahaman yang mememadai tentang seksualitas manusia, baik sekolah maupun orang tua harus memberikan pemahan yang baik kepada anak cara menempatkan seks pada tempatnya.

Jangan merasa bahwa seks adalah hal yang tabu kemudian tidak diajarakan atau diberikan pemahaman kepada anak.
Di jaman yang serba modern dan perkemabangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat orang tua harus benar-benar jelih memperhatikan perkembangan anak dengan siapa ia berteman, pada siapa dia bercerita tentang masalah hidupunya, dengan siapa yang menjadi motivatornya dan terlebih lagi dengan siapa dia komunikasi setiap saat baik itu secara langsnung maupun tidak langsung/via Ontidak

Pada tahun 1999 konferensi “Beyond Relativism” di Universitas George Washington, Dr. Armandi Nicholi, Profesor Klinis psikiatri di Harvard Medical School, berkomentar. Tidak alama setelah revolusi seksual berlangsung, seorang dokter Ortodoks Freudian, menyatakan bahwa kebebasan seksual yang baru menimbulkan bencana psikologis. Kami mulai mempelajari mahasiswa Harvard yang mengeluhkan kekosongan dan kesedihan.

Ada kesenjangan antara kesadaran sosial dengan moralitas kehidupan mereka. Kebebeasan seksual baru ini telah mengarah pada hubungan kosong dan perasaan terhadap penghinaan diri. Banyak siswa yang asik dengan berlalunya waktu dan dengan kematian. Mereka mendambakan makna sebuah kerangka kerja moral. Ketika beberapa dari mereka beralih dari moral relativisme kepada system nilai yang jelas dengan menganut gaya hidup bebas narkoba dan kode seksual yang ketat mereka melaporkan bahwa hubungan mereka dengan lawan jenis mulai membaik. Begitu pula hubungan dengan teman sebaya secara umum, hubungan dengan orang tua mereka, dan kinerja akademik mereka.
Karena seks memiliki konsekuensi secara pribadi dan konsekuensi sosial, etika seksualitas bersikap dengan menghormati diri sendiri dan orang lain harus dianggap sebagai bagian dari karakter baik. Maka dari itu pendidikan seks harus menjadi bagian dari pendidikan karakter. Seperti seorang pendidik di Baston, Kevin Ryan menunjukkan, mengajar siswa dengan membawa disiplin diri untuk seksualitas mereka, yang artinya mengembangkan karakter mereka dan mempersiapakan diri mereka untuk hubungan yang lebih dalam, hubungan penuh kasih sebagai orang dewasa. Licona (2012. hlm, 110).

Seks tidak menjadi syarat bagi seseorang untuk jatuh cinta. Karena, cinta bukan menjadi tolak ukur sesorang untuk mendaptakan seks. Pengertian cinta masih banyak yang salah menafsirkan hingga orang yang mencintai harus menuntut imbalan pada pasangannya dalam hal ini adalah seks.
Karakter manusia harus lebih mendominasi dari cinta dan juga seks sehingga bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatanya terutama seks dan juga cinta.

*Nurangsih S. Hasan
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Prodi Pendidikan Umum dan Karakter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *