MUCHLIS HASAN : PPP BUTUH SANDIAGAUNO.

FOKUSATU– Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan dari beberapa kawan-kawan saya yang menjadi kader PPP di Jakarta, Bekasi dan Banten, tentu saja mungkin sama dengan yang ada dalam hati kader PPP di Indonesia pada umumnya.

Sebagai Partai politik yang sudah sangat mengakar dan berpengalaman tentu saja PPP sangat berharap kebesaran nama partai berlambang Ka’bah tersebut mampu menjadi magnetik untuk menarik simpatik masyarakat Indonesia, namun pada kenyataannya sejak era reformasi bergulir nasib partai yang lahir dari rahim para ulama kian hari kian tenggelam dan kalah pamor dari partai-partai baru seperti, Gerindra, Nasdem, PKS, PKB dan PAN.

Bahkan pada pemilu 2019 lalu PPP hampir tidak lolos ambang batas parlemen di Senayan, karena perolehan suara nasionalnya hanya dapat 4,25% dengan jumlah pemilihnya cuma 6.323 juta orang. Jujur saja untuk sekelas PPP perolehan angka tersebut sangatlah memalukan dan membuat malu para ulama yang telah membesarkan partai tersebut.

Sebagai partai besar di jamannya, sudah sepatutnya para petinggi partai mau realistis dengan apa yang terjadi saat ini, para petinggi partai harus sadar bahwa keadaan sekarang bukanlah jaman orde baru lagi, persaingan antar partai politik semakin ketat.

PPP harus belajar pada Partai Gerindra, sejak berdiri pada tahun 2008 perolehan suara partai besutan mantan danjen kopassus Prabowo Subianto, terus merangkak naik, bahkan pada pemilu 2019 yang lalu mempu mematahkan dominasi Golkar dalam klasemen tiga besar, Gerindra nangkring di peringkat kedua setelah PDIP, hal tersebut tidak lain karena adanya figur seorang Prabowo Subianto.

Jika ingin terus berada dalam parlemen maka alangkah baiknya pada pemilu 2024 besok, PPP harus berani mengambil langkah strategis demi menjaga nama baik partai dan nama para pendiri partai yang kebanyakan diinisiasi oleh para ulama. Saat ini figur seorang pemimpin partai politik menjadi alasan utama masyarakat memilih Partai politik sebagai sarana menyampaikan aspirasi.

Lima sampai sepuluh tahun yang akan datang, semua partai besar akan mengalami krisis kepemimpinan, saat ini cuma partai Demokrat yang melangkah lebih ke depan dengan mendorong AHY sebagai Ketua umum. Memang pada saat ini AHY masih jauh dibawah bayang-bayang para senior partai macam Airlangga Hartarto di Golkar, Prabowo Subianto di Gerindra, Megawati di PDIP. Namun pada lima sampai sepuluh tahun ke depan AHY sudah matang dan kuat, dia akan mendapat marwahnya sendiri menemukan kejayaannya bersama Demokrat.

Oleh karena itu, sebaiknya PPP mulai memikirkan hal tersebut, PPP butuh Ketua Umum yang Populer di semua kalangan, seorang pemimpin yang mampu menembus batas ruang isolasi waktu. dan saya kira ada dalam diri SandiagaUno. Terlepas pada saat ini sandi masih menjadi kader Gerindra, dan memegang jabatan sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina itu adalah hal lain.

Namun satu hal yang pasti, saat ini PPP Butuh spirit dan aura baru dalam tubuh partai yang sepertinya telah kehilangan gairah dan lupa bagaimana berjuang untuk mendapat simpati masyarakat. Jika memang benar benar terjadi, Sandi menjadi Ketum PPP, maka saya yakin PPP akan menemukan kembali gairah dan Marwah perjuangannya seperti di tahun 70 sampai 90-an.

Wassalam……
PANGERAN OPINI JALANAN (MH)

Kebahagian tidak membohongi sebuah perasaan (Poto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *