MUCHLIS HASAN : MEMBAKAR NASIONALISME

FOKUSATU– Namanya Tjen Lau Tjin warga keturunan Tionghoa yang besar di kota Jakarta, pria kelahiran Tamansari tahun 1975 adalah seorang pekerja keras, sebagai warga minoritas yang hidup ditengah-tengah masyarakat pribumi Indonesia telah menjadikannya seorang pribadi yang kuat dan terbuka.

Selama dalam perjalanan hidupnya dia telah menyaksikan bermacam peristiwa besar yang terjadi di Ibukota Jakarta, namun dari beberapa peristiwa yang pernah terjadi baginya tragedi 98 adalah sebuah peristiwa yang tidak dapat dia lupakan sampai saat ini.

Hari ini dia menghubungi saya mengajak minum kopi, setelah saling menanyakan kegiatan masing-masing dia menceritakan betapa sedih hatinya jika mengingat peristiwa yang telah merenggut usahanya yang habis terbakar oleh amuk massa kala itu. Pengalaman pahit tersebut membuat dirinya mulai “mau” mengikuti hiruk pikuk dunia perpolitikan di Indonesia. Maka pada tahun 2004 dia memberanikan diri maju menjadi calon anggota legislatif dari Partai Damai Sejahtera (PDS) sebuah partai politik berbasis agama Kristen pada tahun 2004, namun sayang partai tersebut tidak memperoleh dukungan kuat sehingga hanya menjadi partai penggembira pesta demokrasi saja.

Obrolan semakin menarik, ketika dia mengatakan bahwa peristiwa 98 Takan mungkin sampai membesar andai saja pemerintahan orde baru tidak selalu menganakemaskan warga keturunan Tionghoa, dia juga mengakui, dengan banyaknya para pengusaha asal Tionghoa yang merapat ke Pak Harto telah menimbulkan perasaan ketidakadilan seimbangan yang di peroleh warga pribumi. Kekecewaan yang terpendam lama selama 30 tahun lebih pada akhirnya memuncak di tahun 98.

Keadaan saat ini juga membuat dirinya merasa kuatir, dengan banyaknya pekerja asing dari negeri asal nenek moyang dia ( Cina ) menurutnya akan semakin menimbulkan rasa dendam bagi warga pribumi, meskipun dia telah dua kali memilih Jokowi, namun dia juga merasa amat kuatir dengan kebijakan pemerintah yang terus menerus memasukan pekerja-pekerja asing ke dalam Indonesia terutama warga negara cina. Dia tidak ingin kebijakan tersebut akan berdampak luas dan menjadi “amarah” yang terpendam dalam jiwa warga pribumi Indonesia.

Saat dalam pertemuan tersebut saya lebih banyak mendengarkan apa yang dia sampaikan, sesekali saya memberikan pandangan terkait dengan apa yang dia kemukakan. Dia juga merasa jenuh dan muak dengan perdebatan yang terjadi di ruang publik, dia berharap pemerintahan Jokowi mau belajar dari kesalahan orde baru yang selalu menganakemaskan warga Tionghoa, karena bukan tidak mungkin akan menyulut rasa nasionalisme warga pribumi Indonesia.

Koh Tjen Lau Tjin yang kini telah beralih usaha sebagai seorang kontraktor perumahan/cluster sangat berharap ada tokoh yang mampu menyatukan setiap perbedaan di masyarakat Indonesia, yang kian hari semakin mempertontonkan perbedaan suku dan agama.

Wassalam.
Pangeran Opini Jalanan ( MH ).

Namanya Tjen Lau Tjin warga keturunan Tionghoa yang besar di kota Jakarta, pria kelahiran Tamansari tahun 1975 adalah seorang pekerja keras, sebagai warga minoritas yang hidup ditengah-tengah masyarakat pribumi Indonesia telah menjadikannya seorang pribadi yang kuat dan terbuka.

Selama dalam perjalanan hidupnya dia telah menyaksikan bermacam peristiwa besar yang terjadi di Ibukota Jakarta, namun dari beberapa peristiwa yang pernah terjadi baginya tragedi 98 adalah sebuah peristiwa yang tidak dapat dia lupakan sampai saat ini.

Hari ini dia menghubungi saya mengajak minum kopi, setelah saling menanyakan kegiatan masing-masing dia menceritakan betapa sedih hatinya jika mengingat peristiwa yang telah merenggut usahanya yang habis terbakar oleh amuk massa kala itu. Pengalaman pahit tersebut membuat dirinya mulai “mau” mengikuti hiruk pikuk dunia perpolitikan di Indonesia. Maka pada tahun 2004 dia memberanikan diri maju menjadi calon anggota legislatif dari Partai Damai Sejahtera (PDS) sebuah partai politik berbasis agama Kristen pada tahun 2004, namun sayang partai tersebut tidak memperoleh dukungan kuat sehingga hanya menjadi partai penggembira pesta demokrasi saja.

Obrolan semakin menarik, ketika dia mengatakan bahwa peristiwa 98 Takan mungkin sampai membesar andai saja pemerintahan orde baru tidak selalu menganakemaskan warga keturunan Tionghoa, dia juga mengakui, dengan banyaknya para pengusaha asal Tionghoa yang merapat ke Pak Harto telah menimbulkan perasaan ketidakadilan seimbangan yang di peroleh warga pribumi. Kekecewaan yang terpendam lama selama 30 tahun lebih pada akhirnya memuncak di tahun 98.

Keadaan saat ini juga membuat dirinya merasa kuatir, dengan banyaknya pekerja asing dari negeri asal nenek moyang dia ( Cina ) menurutnya akan semakin menimbulkan rasa dendam bagi warga pribumi, meskipun dia telah dua kali memilih Jokowi, namun dia juga merasa amat kuatir dengan kebijakan pemerintah yang terus menerus memasukan pekerja-pekerja asing ke dalam Indonesia terutama warga negara cina. Dia tidak ingin kebijakan tersebut akan berdampak luas dan menjadi “amarah” yang terpendam dalam jiwa warga pribumi Indonesia.

Saat dalam pertemuan tersebut saya lebih banyak mendengarkan apa yang dia sampaikan, sesekali saya memberikan pandangan terkait dengan apa yang dia kemukakan. Dia juga merasa jenuh dan muak dengan perdebatan yang terjadi di ruang publik, dia berharap pemerintahan Jokowi mau belajar dari kesalahan orde baru yang selalu menganakemaskan warga Tionghoa, karena bukan tidak mungkin akan menyulut rasa nasionalisme warga pribumi Indonesia.

Koh Tjen Lau Tjin yang kini telah beralih usaha sebagai seorang kontraktor perumahan/cluster sangat berharap ada tokoh yang mampu menyatukan setiap perbedaan di masyarakat Indonesia, yang kian hari semakin mempertontonkan perbedaan suku dan agama.

Wassalam.
Pangeran Opini Jalanan ( MH )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *