Mengenal Masjd Jogokariyan

FOKUSATU-Masjid Jogokariyan, namanya sempat trending beberapa waktu yang lalu, ketika menggalang dana dari umat muslim untuk membeli kapal selam, yang diniatkan sebagai pengganti KRI Nanggala 402 yang tenggelam. Dan dalam hitungan beberapa hari saja, dana miliaran rupiah sudah berhasil dikumpulkan.

Masjid Jogokariyan, memang masjid yang cukup ikonik di Kota Yogyakarta. Sesuai dengan namanya, masjid ini berada di Kampung Jogokariyan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta. Masjid ini pun punya sejarah tersendiri, karena pembangunannya dilakukan tak lama setelah penumpasan G30 S/PKI.

Masjid ini awalnya didirikan pada tahun 1966 oleh pengurus Muhammadiyah ranting Karangkajen, sebagai media berdakwah untuk memperkuat nilai-nilai keislaman bagi penduduk sekitar. Waktu itu, hampir semua warga Jogokariyan berasal dari “kaum abangan” yang lebih mengutamakan kultur kejawen ketimbang dengan kultur keislaman.

Sebelum berdirinya masjid itu, segala aktivitas keagamaan hanya dilakukan di sebuah langgar kecil berukuran 3×4 meter persegi yang berada di pojok kampung. Selain untuk menghidupkan nilai-nilai keislaman, pendirian masjid itu juga dimaksudkan untuk menghilangkan cap Kampung Jogokariyan yang pada tahun 1965 dikenal sebagai sarang komunisme.

Setelah berdiri, Masjid Jogokariyan sempat menjadi tempat kegiatan organisasi pemuda Islam seperti KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan juga HMI (Himpunan Masyarakat Indonesia). Pada waktu itu, mereka mengadakan berbagai kegiatan di masjid untuk mencegah paham komunisme tumbuh lagi di kawasan Kampung Jogokariyan.

Seiring waktu, Masjid Jogokariyan terus berkembang. Gak hanya menyelenggarakan salat berjemaah atau ibadah keagamaan lainnya, masjid itu juga rutin mengadakan kegiatan sosial seperti pelayanan kesehatan, bantuan kepada warga miskin, buka puasa bersama, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Salah satu keunikan Masjid Jogokariyan terletak pada gerakan saldo infak nol rupiah. Berbeda dengan masjid-masjid yang lain, masjid itu selalu berupaya keras agar di tiap pengumuman, saldo infaknya harus nol rupiah. Karena bagi pengurus masjid, pengumuman hasil infak jutaan rupiah akan sangat menyakitkan, bila masih ada warga sekitar masjid yang gak bisa ke rumah sakit karena ketiadaan biaya.

Demi menjaga saldo tetap nol rupiah, hasil infak harus benar-benar digunakan, bukan ditimbun sampai jumlahnya sangat banyak. Dengan pengumuman saldo infak sampai nol rupiah, diharapkan juga para jamaah bisa semakin bersemangat dalam mengamanahkan hartanya.

Dan, untuk semakin berperan dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, Masjid Jogokariyan juga menyediakan kamar bagi para musafir yang konsepnya dibuat seperti hotel. Para musafir yang ingin menginap di hotel itu dikenakan tarif Rp150 ribu hingga 250 ribu. Di masjid itu, terdapat 10 kamar reguler dan satu kamar VIP.

Saat bulan suci Ramadan tiba, Masjid Jogokariyan bisa menyediakan hingga 2.500 makanan dan minuman untuk berbuka puasa, secara gratis bagi pengunjung. Seluruh menu buka puasa itu adalah hasil gotong royong warga sekitar. Salah satu kuliner khas buka puasa ala Masjid Jogokariyan adalah es setup nanas.

Meski terletak di dalam perkampungan, namun dengan banyaknya ‘keistimewaan’ yang dimiliki Masjid Jogokariyan, membuat masjid ini gak pernah sepi. Meski di luar bulan Ramadan, jamaah salatnya selalu ramai. Hal ini juga yang membuat nama Masjid Jogokariyan mendunia.

Karena tak hanya menarik perhatian umat muslim Indonesia saja, tapi juga berhasil menarik perhatian masyarakat muslim di luar negeri. Banyak umat muslim dari negara lain, mulai dari Eropa hingga Palestina, yang datang ke masjid ini untuk melakukan studi banding.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *