KKG PAI Kecamatan Makasar Menggelar Doa Akhir Tahun Dan Muhasabah 1443 Hijriah

FOKUSATU-Dalam rangka menyambut tahun baru hijiriyyah 1443 H pada hari Senin, 30 Dzulhijjah 1442 / 9 Agustus 2021,acara di mulai pukul 15.45 s/d 17.00 WIB

Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Makasar,Jakarta Timur melalui Zoom Meeting dan Live Streaming GEMA MUHARROM TAHUN BARU HIJRIYYAH 1443H dengan Link https://youtu.be/BeRUkCXq0K0

Acara di pandu oleh Teti Rodiati, dengan mengambil tema “Merajut Silaturrahim melalui Munajat Dzikir dan Muhasabah Nafs dilingkungan Guru PAI Kecamatan Makasar”

Acara ini di isi dengan agenda pembacaan doa akhir tahun Hijriyyah 1442 H oleh Anugrah Widhy,S.Fil.I

Dalam sambutan nya Ketua KKG PAI Kecamatan Makasar Ust Juwahir S,Pd.I.beliau katakan, ” Acara ini terselenggara atas kerjasama pengurus KKG PAI Kecamatan Makasar, bila kita lakukan semua secara berjamaah Insya Allah akan berkah, semoga di tahun 1443 H kehidupan kita semakin berkah, Aamiin.

Tausiah Agama oleh Ust Mukhtar Lutfi S,Pd.I. dalam tausiah nya beliau katakan, ” Bulan Muharram, menjadi satu dari empat bulan dalam kalender hijriah yang memiliki keistimewaan. Keistimewaan bulan Muharram, bulan pertama dalam Tahun Baru Islam itu disebutkan dalam firman Allah SWT di Al Quran surat At Taubah ayat 36 yang artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah itu ada dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena sore ini kita dapat menyambut Tahun Baru Islam 1433 hijriyah. Salawat dan salam, mari lah kita sampaikan kepada Nabi dan Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh umat manusia, yaitu Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya, serta para pengikut beliau hingga akhir zaman.

Mudah-mudahan kita semua yang hadir di ruang zoom ini dan Muslim di seluruh Tanah Air ini akan senantiasa mendapat berkah dan inayah dari Allah SWT.

Salah satu makna penting hijrah adalah adanya proses transformasi dari kegelapan menuju peradaban yang tercerahkan. Dalam konteks kebangsaan, hijrah bisa dimaknai sebagai transformasi menuju peningkatan kesejahteraan sebuah elemen masyarakat. Selain itu, hijrah mengandung makna pemisah antara kebenaran dan kebatilan.

Makna hijrah tersebut harus selalu hidup dan mewarnai kehidupan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Peristiwa hijrah yang pernah dilakukan Rasulullah yang kemudian ditetapkan sebagai permulaan Tahun Baru Islam tidak semata kejadian biasa, melainkan menjadi sebuah manhaj atau pola yang perlu dikaji, diresapi, dan diamalkan maknanya.

Lebih-lebih, kini umat Islam dan bangsa kita sedang berada di dalam ujian yaitu terjadinya bencana alam maupun masalah sosial dan moral yang memperlihatkan kita semua. Bencana demi bencana sebagian besar terjadi akibat perbuatan manusia yang mengabaikan melanggar norma-norma yang telah digariskan oleh Allah SWT. Di dalam Al Quran surat Al Hasyr ayat 18 Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Selanjutnya, saya ingin mengajak seluruh kaum muslimin untuk memulai tahun baru hijriah ini dengan tekad dan semangat muhasabah menuju perbaikan diri dan perbaikan masyarakat.

Mari kita renungkan, hijrah telah membuat umat Islam yang ketika masih berada di Mekkah dalam keadaan tidak memiliki kekuatan apa-apa, menjadi umat yang kuat dan mulia. Umat Islam mampu membangun sebuah perkonomian yang baik, membangun persaudaraan yang baik antara kaum Muhajirin (mereka yang hijrah dari Mekkah) dengan kaum Anshar (penolong dari kota Madinah). Madinah pun kemudian dikenal sebagai sebuah negeri yang aman dan makmur, karena umat Islam bisa berniaga dengan siapa pun, dan orang-orang non-Muslim hidup aman di Madinah dalam suasana yang rukun dan damai di bawah naungan keadilan Islam.

Dalam konteks kekinian, tentu hijrah yang berarti pindah tempat atau meninggalkan tempat menuju tempat lain seprti yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW tidak perlu dilakukan. Maka, makna hijrah dari perilaku kurang baik ke perilaku lebih baik dan perilaku yang hanya mementingkan diri sendiri kepada perilaku yang peduli terhadap orang lain, dari perilaku kehidupan bebas nilai kepada kehidupan yang terikat dengan nilai-nilai agama dan aklakul karimah, dari perilaku korupsi kepada perilaku jujur dan anti korupsi.

Di samping itu, hijrah juga dapat dimaknai berpindah dari kondisi hidup yang penuh kemiskinan kepada kondisi hidup yang layak dan sejahtera.

Untuk membangun hari depan bangsa yang lebih baik dan bermartabat diperlukan mental dan perilaku hijrah dari setiap warga bangsa. Dalam hal ini umat Islam yang merupakan mayoritas perlu memaksimalkan hijrah sebagai momentum perubahan diri dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Setiap Muslim di mana pun perlu meresapi dan mengamalkan makna hadis Rasulullah SAW yang menyatakan ‘Siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dia adalah orang yang beruntung.

Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia adalah orang yang merugi. Siapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, dia adalah orang yang terhina.”

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kaum Muslimin dan bangsa Indonesia, salam menuju hari depan yang lebih baik.Aamiin. (AW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *