KH Yusuf Sholeh : Keutamaan Beribadah Di Malam Hari Raya

FOKUSATU-Mengisi malam hari Raya dengan ibadah merupakan sunnah yang telah ditetapkan oleh para ulama. Waspada banyak sekali fatwa-fatwa yang tidak bijak, yang menganggap bid’ahnya perkara ini (Mengisi malam hari Raya dengan ibadah).

Bahkan mereka anggap sebagai sebuah kesesatan, mudah sekali lidah mereka mengeluarkan pendapat tersebut,
andai mereka mau meneliti lebih jauh, maka mereka akan temukan banyak dasar/dalil yang menjadi hujjah akan kesunnahan/dianjurkannya menghidupkan malam ied.

PERHATIKANLAH :

Dalam Mausuah Fiqhiyah Kuwait disebutkan:

يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ ذِكْرٍ وَصَلاَةٍ وَتِلاَوَةٍ وَتَكْبِيرٍ وَتَسْبِيحٍ وَاسْتِغْفَارٍ

“Disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya dengan ketaatan seperti zikir, sholat, baca al Qur’an, takbiran, tasbih dan istighfar.”

Syeikh Wahbah Zuhaili dalam Fikih Islami menyebutkan

وَيُنْدَبُ فِي الْعِيْدِ عَدَا التَّكْبِيْرِ مَا يَأْتِيْ:
إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيْدِ بِطَاعَةِ اللهِ تَعَالَى أَيْ بِالْعِبَادَةِ مِنْ ذِكٍرٍ وَصَلاَةٍ وَتِلَاوَةِ قُرْآنٍ، وَتَكْبِيْرٍ وَتَسْبِيْحٍ وَاسْتِغْفَارٍ، وَيَحْصُلُ ذَلِكَ بِالثُّلُثِ الْأَخِيْرِ مِنَ اللَّيْلِ، وَالْأَوْلَى إِحْيَاءُ اللَّيْلِ كُلِّهِ

“Disunnah beberapa perkara di bawah ini pada hari raya, selain takbiran:
Menghidupkan kedua malam hari raya dengan ketaatan, dengan ibadah seperti zikir, sholat, membaca al Qur’an, bertakbir, tasbih dan istighfar.
Pahala menghidupkannya akan di dapat  beribadah pada sepertiga malam terakhir, dan yang lebih baik lagi menghidupkan seluruh malam.”

Lalu dalam catatan kaki beliau menyebutkan hadits Abu Umamah, dan menyatakan sanadnya hasan.
beliau juga menambahkan:

وَيَقُوْمُ مَقَامَ ذَلِكَ: صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي جَمَاعَةٍ

“Dan dianggap telah mendapatkan pahala sepanjang malam dg melaksanakan sholat isya dan subuh secara berjamaah.”
Sebab isya berjamaah sama seperti beribadah setengah malam, subuh berjamaah sama seperti sholat sepanjang malam.

Mengisi malam hari raya dengan ibadah merupakan sunnah yang telah ditetapkan oleh para ulama.

PENDAPAT ULAMA 4 MAZHAB

1. Pendapat madzhab Hanafi:

Dalam Fikih madzhab Hanafi, di kitab Nurul Idhoh dan juga dalam kitab lain seumpama Durrul Mukhtar disebutkan:

وَنُدِبَ إِحْيَاءُ لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَخِيْرِ مِنْ رَمَضَانَ وَإِحْيَاءِ لَيْلَتَيِ الْعِيْدَيْنِ وَلَيَالِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَيُكْرَهُ الْاِجْتِمَاعُ عَلَى إِحْيَاءِ لَيْلَةٍ مِنْ هَذِهِ اللَّيَالِيْ فِي الْمَسَاجِدِ

“Disunnahkan menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan ramadhan, kedua malam hari raya, sepuluh malam pertama bulan Dzul Hijjah dan juga malam Nisfu Sya’ban.
Namun dimakruhkan berkumpul di masjid² untuk menghidupkan malam² tersebut.”

Dalam kitab Hasyiah imam Ibnu Abidin 25/2 disebutkan:

مَطْلَبٌ فِي إحْيَاءِ لَيَالِي الْعِيدَيْنِ وَالنِّصْفِ وَعَشْرِ الْحِجَّةِ وَرَمَضَانَ

Pembahasan mengenai menghidupkan dua malam hari raya, malam Nisfu Sya’ban, sepuluh malam di awal Dzul Hijjah dan juga bulan Ramadhan.

وَقَدْ بَسَطَ الشُّرُنْبُلَالِيُّ فِي الْإِمْدَادِ مَا جَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ اللَّيَالِيِ كُلِّهَا فَرَاجِعْهُ .

Imam Surunbulali dalam kitab al Imdad telah membahas panjang lebar mengenai kelebihan malam² ini semuanya, silahkan Anda merujuknya ke sana.

وَفِي الْإِمْدَادِ : وَيَحْصُلُ الْقِيَامُ بِالصَّلَاةِ نَفْلًا فُرَادَى مِنْ غَيْرِ عَدَدٍ مَخْصُوصٍ ، وَبِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ، وَالْأَحَادِيثِ وَسَمَاعِهَا ، وَبِالتَّسْبِيحِ وَالثَّنَاءِ، وَالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَاصِلُ ذَلِكَ فِي مُعْظَمِ اللَّيْلِ وَقِيلَ بِسَاعَةٍ مِنْهُ .

Dalam kitab al Imdad disebutkan bahwa sudah dianggap menghidupkan malam² ini dg ibadah dg melaksanakan sholat secara sendirian tanpa harus dg bilangan tertentu, juga dengan membaca al Qur’an, hadits² Nabi dan mengdengarkannya, membaca tasbih dan puji-pujian, sholawat serta salam kepada Nabi SAW, dg melaksanakannya di sebagian besar waktu malam.

Pendapat lain bahkan menilai walaupun hanya dalam satu jam.

Dalam kitab Maraqil Falah 174/1 disebutkan bahwa dimakruhkan menghidupkannya secara berjamaah, karena yg sunnah adalah secara sendirian, Nabi SAW dan para sahabat tidak pernah menghidupkannya secara berjamaah, ini pendapat mayoritas ulama Hijaz yang di antaranya adalah imam Atho, Ibnu Abi Malikah, para ulama fikih Madinah dan para murid Imam Malik, mereka menilai berkumpulnya ini adalah bid’ah.
Akan tetapi, pendapat ulama Syam terbagi dua, ulama yg membolehkannya adalah para pembesar Tabiin seperti Kholid bin Ma’dan, Luqman bin Amir, dan ini juga pendapat imam Ishaq bin Rahawaih.
Pendapat lain memakruhkan berkumpul di masjid, ini adalah pendapat Imam Auza’i.

2. Pendapat madzhab Maliki:

Dalam Fikih Madzhab Maliki, kitab At Taj wal Iklil 291/1 di sebutkan:

( وَنُدِبَ إحْيَاءُ لَيْلَتِهِ ) رَوَى أَبُو أُمَامَةَ : { مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَيْ الْعِيدِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ }

“DIsunnahkan menghidupkan malam harinya, Abu Umamah telah meriwayatkan:
“Siapa yg menghidupkan kedua malam hari raya maka tidak akan mati hatinya, di hari semua hati menjadi mati.”

Hal yang sama disebutkan dalam Syarah imam Khorsyi terhadap Mukhtashor Kholil 295/5.
Di sana disebutkan:

وَالْإِحْيَاءُ يَحْصُلُ بِمُعْظَمِ اللَّيْلِ عَلَى الْأَظْهَرِ بِالصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ

“Menghidupkan malam yg dimaksud akan didapatkan kelebihannya dg beribadah di sebagian besar waktu malam, berdasarkan pendapat yang Azhar, baik dengan sholat ataupun zikir.”

Dalam kitab Mawahibul Jalil 574/2 disebutkan dalil² yg menyebutkan hal ini, lalu di sana disebutkan:

وَقَالَ ابْنُ الْفُرَاتِ:
اُسْتُحِبَّ إِحْيَاءُ لَيْلَةِ الْعِيْدِ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَالصَّلاَةِ وَغَيْرِهَا مِنَ الطَّاعَاتِ

“Imam Ibnul Furat berkata:
“Disunnahkan menghidupkan malam hari raya dengan zikir kepada Allah, sholat dan ketaatan² lainnya.”

3. Pendapat madzhab imam Syafii

Akan kami sebutkan nanti ucapan dan riwayat dari Imam Syafii yg jelas sekali menunjukkan kesunnahan menghidupkannya.

Dalam kitab Minhajul Qowim dinyatakan:

(وَ) يُسَنُّ (إِحْيَاءُ لَيْلَتَيْهِمَا) أَيْ لَيْلَةِ عِيْدِ الْفِطْرِ وَعِيْدِ الْأَضْحَى (الْعِبَادَةِ) مِنْ نَحْوِ صَلاَةٍ وَقِرَاءَةٍ وَذِكْرٍ لِمَا وَرَدَ بِأَسَانِيْدَ ضَعِيْفَةٍ
(مَنْ أَحْيَا لَيْلَةَ الْعِيْدِ أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ) وَيَحْصُلُ ذَلِكَ بِإِحْيَاءِ مُعْظَمِ اللَّيْلِ

“Disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya, Idul Fitri dan Adha dg ibadah seperti sholat, membaca al Qur’an dan zikir, berdasarkan kepada banyak hadits yg diriwayatkan dengan sanad² dhoif bahwa siapa yg menghidupkan malam dua hari raya maka Allah akan menghidupkan harinya di hari kematian hati, dan kelebihan ini akan didapatkan dg mengisi sebagian besar malam dg ibadah.”

Kitab-kitab fiqih madzhab Syafii semuanya menyunahkan hal ini, baik di dalam al Umm, Hawi imam Mawardi, Majmu imam Nawawi sampai kitab² kecil sekelas Muqoddimah al Hadhramiyah.

4. Pendapat Madzhab Hanbali:

Imam Ibnu Muflih dalam al Furu’ 373/2 membahas panjang lebar masalah menghidupkan malam² tertentu untuk ibadah, salah satunya yang beliau bahas adalah malam hari raya, beliau berkata:

وَقِيْلَ عَنْهُ:
يُسْتَحَبُّ الِاجْتِمَاعُ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ لِلصَّلَاةِ جَمَاعَةً إلَى الْفَجْرِ، وَيُسْتَحَبُّ إحْيَاءُ بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ لِلْخَبَرِ ،
قَالَ جَمَاعَةٌ : وَلَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ وِفَاقًا لِلْحَنَفِيَّةِ ، رَوَى ابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَبِي أَحْمَدَ الْمَزَّارِ بْنِ حَمُّويَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُصْطَفَى ، عَنْ بَقِيَّةَ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا
{ مَنْ قَامَ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ } رِوَايَةُ بَقِيَّةَ عَنْ أَهْلِ بَلَدِهِ جَيِّدَةٌ ، وَهُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى ، وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ بَعْضُهُمْ ، فَالْأَوَّلُ أَوْلَى

“Dan disampaikan darinya (Imam Ahmad):
disunnahkan berkumpul ramai-ramai untuk menghidupkan kedua malam hari raya dengan sholat secara berjamaah sampai pagi, juga disunnahkan menghidupkan antara maghrib dengan isya berdasarkan hadits.
Sekelompok ulama berkata:
“Sunnah juga menghidupkan malam hari raya, sama dengan pendapat madzhab Hanafi.”

Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Abu Ahmad al Mazzar bin Hammuyah, dari Muhammad bin Musthofa, dari Baqiyyah, dari Tsaur bin Yazid dari Kholid bin Ma’dan, dari Abu Umamah, dari Nabi shollallahu-alaihi-wasallam bahwa siapa yang menghidupkan kedua malam hari raya dengan penuh harap kepada Allah, maka Allah tidak akan mematikan hatinya di hari kematian hati.”
Riwayat Baqiyah dari orang yang sedaerah darinya adalah kuat, hadits ini hasan insya Allah.
Hal ini tidak disebutkan sebagian ulama, pendapat pertama lebih kuat.

Para ulama yang menilai bahwa pada malam hari raya sunnah beritikaf di masjid menilai bahwa, secara serta merta suruhan I’tikaf adalah suruhan untuk berkumpul di masjid.

Dalam kitab al Mubdi’ syarah al Muqni’ disebutkan bahwa di antara sholat sunnah adalah sholat pada malam hari raya.
Sholat ini beliau sebutkan setelah sholat Istikhorah, Hajat, Taubat dan sholat Tahiyatul Masjid, setelahnya beliau menyebutkan sholat tasbih.
Sebelum membahas fasal ini penulis menyebutkan sebuah Fara’ (sub cabang pembahasan), ia berkata:

فَرْعٌ: يَجُوْزُ التَّطَوُّعُ جَمَاعَةً وَقِيْلَ مَالَمْ يُتَّخَذْ عَادَةً وَقِيْلَ يُكْرَهُ، قَالَ أَحْمَدُ: مَا سَمِعْتُهُ.

“ boleh melaksanakan sholat sunnah secara berjamaah, pendapat lemah mengatakan jika selama tidak dijadikan kebiasaan, pendapat lain menilaih hukumnya makruh, imam Ahmad berkata:
“Aku belum pernah mendengarnya.”

Lalu ia mengatakan bahwa adanya sholat sunnah malam hari raya ini, didasarkan kepada hadits yg diriwayatkan imam Ibnu Majah sebelumnya, di sini penulis juga menyatakan hadits ini hasan.

– Dalam Hasyiah Raudhul Murabba’ 220/2 disebutkan:

وَيُسَنُّ قِيَامُ اللَّيْلِ وَافْتِتَاحُهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ وَوَقْتُهُ مِنَ الْغُرُوْبِ إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ وَلاَ يَقُوْمُهُ كُلَّهُ إِلاَّ لَيْلَةَ عِيْدٍ

“Disunnahkan mengerjakan qiyamul Lail dan memulainya dengan dua rakaat sholat sunnah yg ringkas, waktunya bermula dari tenggelam matahari sampai terbit fajar.
Janganlah sholat sepanjang malam kecuali di malam hari raya.”
Di hasyiahnya disebutkan hadits Ibnu Majah.

Artinya malam hari raya berbeda dg malam² lainnya, disunnahkan beribadah di malam itu sepanjang malam.

HM.Yusuf Soleh Azmatkhon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *