Forum Aktivis Lintas Generasi Menobatkan Presiden Jokowi Sebagai Bapak Kaget Nasional

FOKUSATU-Kondisi Indonesia dalam penanganan corona coronavirus disease 2019 atau Covid-19 ini semakin mengkhawatirkan. Sampai saat ini, penyebaran virus berbahaya itu belum mampu dikendalikan. Sejak virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini muncul, kasus penularannya masih terus terjadi. Kekacauan demi kekacauan terus muncul dan semakin menjadi-jadi. Lonjakan kasus pasien yang terkonfirmasi positif, kelangkaan tabung oksigen dan banyaknya pasien yang tidak tertampung di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Per tanggal 4 Juli 2021 kemarin, jumlah kasus baru yang terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 27.233 pasien. Jika ditotal, sejak tahun lalu sampai saat ini setidaknya sudah ada 2.284.084 kasus positif di Indonesia.

Ditengah melonjaknya kasus positif Covid-19 yang seharusnya alat-alat dan ruangan penanganan pasien positif bisa tersedia, kenyataannya di banyak rumah sakit ketersediaan tabung gas oksigen dan ruangan untuk menampung pasien mulai langka. Ditambah lagi harga pengisian ulang tabung oksigen juga melambung tinggi. Kondisi tenaga kesehatan yang merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19 ini juga mulai memprihatinkan. Mereka rela bertaruh nyawa untuk menyelamatkan pasien yang terpapar Covid 19 agar bisa tertolong. Namun, insentif yang seharusnya menjadi hak mereka belum terbayarkan, khususnya di daerah-daerah.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dari Maret 2020 sampai Juni 2021, setidaknya ada 949 tenaga kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 dengan rincian dokter 401 orang, perawat 315 orang, tenaga laboratorium 25 orang, dokter gigi 43 orang, apoteker 15 orang dan bidan 150

Sampai saat ini, belum ada upaya tegas dan terukur oleh pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin untuk mengendalikan dan menyelesaikan pandemi berkepanjangan dan ditambah dengan Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan selalu bersifat sporadis dan serampangan.

Tidak hanya itu, angka kematian akibat Covid-19 yang tinggi sejak awal mula virus menyerang dan tingginya angka terkonfirmasi positif, menunjukkan bahwa deteksi dini dan mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah masih sangat rendah.

Hingga akhir Juni 2021 kemarin, testing di Indonesia baru dilakukan kepada 13.122.594 orang. Padahal, di beberapa negara lainnya, testing ini begitu digencarkan. India misalnya. Negara dengan kasus konfirmasi positif Covid-19 itu menggencarkan testing pasca terjadi lonjakan signifikan. Sejauh ini , Negara tersebut sudah melakukan serangkaian tes kepada 404.265.101 orang.

Jika dikomparasi dengan Indonesia, tampak jelas bahwa pemerintah Indonesia gagal dalam melakukan intervensi dan pengendalian untuk meminimalisir ledakan bom waktu bencana non-alam tersebut.

Sejak awal Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam menghadapi Covid-19 ini hanya terkesan bercanda, sehingga penanganannya pun tidak serius.
Bagaimana tidak, saat virus ini pertama kali muncul di Wuhan dan mulai menyebar ke beberapa negara lain, pemerintah Indonesia malah membuka selebar-lebarnya pintu bagi wisatawan asing untuk masuk ke Indonesia dengan memberikan diskon besar-besaran. Tenaga kerja asing (TKA) dari negara-negara yang penyebaran virusnya parah juga mudah sekali masuk ke Indonesia tanpa screening yang ketat.

Parahnya, untuk membungkam kritik yang muncul akibat kebijakan ngawur itu, pemerintah tidak segan-segan memakai buzzer dalam melawan kritik masyarakat di media sosial. Pemerintah sengaja menggiring opini, bahwa apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah sudah tepat untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Padahal, justru membahayakan bagi kesehatan masyarakat.

Akibatnya, karena pengambilan kebijakan yang tidak tepat dan serampangan itu, kondisi kesehatan masyarakat Indonesia makin mengkhawatirkan karena pandemi tak kunjung usai. Lemahnya karakter kepemimpinan dalam hal manajerial nasional, sehingga sering salah paham antar lembaga negara dan pemerintahan dibawahnya (dalam hal ini gubernur, Bupati/Walikota). Gagal membangun komunikasi antar lembaga inilah yang membuat carut marutnya tata kelola penanganan pandemi dan berujung pada konflik dilevel horizontal (antar warga) yang mengakibatkan rakyat menjadi korban. Tak taatnya pemerintah pada tujuan bernegara untuk melindungi segenap tumpah darah dan bangsa Indonesia ini terlihat pada pembuatan kebijakan yang beristilah PPKM dimana tanpa landasan konstitusi yang kuat.

Di sisi lain, situasi ekonomi masyarakat juga semakin terpuruk menuju jurang kehancuran.
Kami meyakini, beberapa saat lagi, Jokowi seolah-olah baru mengetahui kondisi di lapangan. Presiden Jokowi akan dengan mudah mengatakan: “Saya kaget jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 melonjak signifikan, saya kaget ketersediaan tabung gas oksigen langka dan mahal, saya kaget banyak nakes yang belum terbayarkan intensifnya”.

Presiden Jokowi sudah berulang kali menyatakan kekagetannya atas kondisi di lapangan. Ia kaget dan tak percaya jika guru swasta di Indonesia hanya mendapatkan gaji 300 ribu rupiah sampai 500 ribu rupiah. Ia kaget omzet pedagang dan UMKM turun 10 kali lipat saat pandemi. Ia kaget setidaknya ada 708 triliun investasi yang mangkrak. Ia kaget ada impor pangan. Ia kaget Moeldoko terlibat kudeta Demokrat. Ia kaget Menterinya tersandung kasus korupsi. Ia kaget reformasi agraria di Indonesia masih belum berjalan optimal dan ratusan ungkapan kekagetan lainnya.

Reaksi kekagetan dan seolah-seolah kebingungan Presiden atas kondisi dan realitas di lapangan ini patut untuk dpertanyakan. Sebab, apakah selama ini Ia hanya mendapatkan laporan-laporan yang baik-baik saja dan Asal Bapak Senang (ABS)?. Mungkin saja ungkapan kekagetan dan kebingungan itu, hanya upaya untuk menutupi kenyataan bahwa janji-janji yang dilontarkan selama ini tidak mampu dijalankan. Senada dengan kritik yang disampaikan oleh BEM Universitas Indonesia yang menyebut Presiden Jokowi sebagai the king of lip service. Bersama ini Kami dari Forum Aktifis Lintas Generasi menyampaikan keprihatinan yang mendalam sekaligus kritik atas Kekagetan demi kekagetan yg terus menerus ditunjukkan & disampaikan oleh Presiden Jokowi yang hanya akan membawa keadaan yg sdh demikian buruk dan terpuruk malah akan semakin terpuruk lebih dalam lagi. Sebagai wujud kritik kami, bersama ini pula kami menobatkan Jokowi sebagai Bapak Kaget Nasional.

Atas nama Forum aktifis Lintas Generasi

Edysah Girsang
————————
Ketua

Samson Tanjung
—————————
Sekretaris

Forum Aktifis Lintas Generasi

1. Jemmy Setiawan
2. Taufiqurrahman
3. Wawan Leak
4. Edysa Girsang
5. Akhmad Suhaimi
6. Kholil Ahmad
7. Ignatius Parulian Gultom
8. Yuda Menggala
9. Kardinal Amd
10. Reiza Patters
11. Alkautsar
12. Samson Tanjung
13. Agung Nugroho
14. Ganto Almansyah
15. Fajar Widodo
16. Olisias Gultom

Contact person:
08119696397 (Samson Tanjung)
087821231908 (Edysah girsang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *