DEDI ISKANDAR BATUBARA: KONSEPSI BHINNEKA TUNGGAL IKA SENAFAS DENGAN UKHUWAH WATHANIYAH

FOKUSATU-Anggota DPD RI/ MPR RI asal daerah pemilihan Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara kembali menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan pada Senin (21/3/22). Kali ini audiens yang dipilih adalah anggota Persatuan Perempuan Tauhid Tashawuf (P2T).

Bertempat di Hotel Sakura, Medan, acara tersebut dipadati oleh sekitar 150 peserta yang mayoritas adalah ibu-ibu paruh baya. “Sepanjang saya menjadi anggota parlemen dan mengadakan Sosialisasi Empat Pilar, memang baru kali ini saya memilih audiens dari kalangan ibu-ibu yang concern terhadap masalah tauhid dan tasawuf. Saya sengaja memilih Persatuan Perempuan Tauhid Tashawuf sebagai audiens dalam acara ini, karena saya ingin banyak mendengar saran dan masukan dari para ibu-ibu tentang bagaimana dan apa yang seharusnya kita lakukan dalam bernegara,” Dedi menjelaskan tujuannya bertemu dengan para peserta.

“Saya yakin, ibu-ibu yang ada di ruangan ini memiliki pengalaman yang panjang dalam melahirkan, mendidik, dan membesarkan para kader penerus bangsa. Dalam berbagai kesempatan, saya sudah sering berdialog dengan putra-putri atau bahkan cucu dari ibu-ibu sekalin. Nah, sekarang saatnya saya berdialog langsung dengan para orang tua,” tambahnya.

Setelah menjelaskan tentang maksud dan tujuan memilih Persatuan Perempuan Tauhid Tashawuf sebagai audiens Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Pria yang akbarb disapa Bang Dedi kemudian menyajikan materi.

Dari keempat pilar yang terdiri dari Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, Dedi Iskandar lebih banyak menguraikan tentang konsepsi Bhinneka Tunggal Ika. Alasannya, materi itu lebih mudah dipahami dan lebih cocok dengan usia para audiens yang sebagian besar sudah tidak muda lagi.

“Konsepsi Bhinneka Tunggal Ika ini sangat Islami dan sangat qurani. Dalam surah Al-Hujurat ayat 113 misalnya, Allah Swt. berfirman, ‘Wahai manusia, sungghu Kami menciptakanmu dari seorang pria dan seorang wanita dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang bertakwa. Sungguh, Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.’ Melalui ayat ini, Allah Swt. menegaskan adanya tujuan luhur dibalik penciptaan manusia yang terdiri dari beragam ras, suku bangsa, etnis, dan agama. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita harus bisa mengambil hikmah dari sunnatulah ini. Dan dalam konteks kebangsaan, hikmah tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk ukhuwah wathaniyah,” jelas pria yang juga Ketua Pengurus Wilayah Al Washliyah Sumatera Utara.

Kecerdasan Dedi Iskandar dalam mengaitkan Empat Pilar Kebangsaan dengan ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Quran dan Sunnah, membuat para peserta merasa mendapatkan wawasan baru. Hal ini terbukti dari pernyataan yang disampaikan oleh para audiens dalam sesi tanya jawab.

Semua penanya menyampaikan bahwa ajaran Islam tidak satu pun yang bertentangan dengan konsepsi-konsepsi kebangsaan. Artinya, jika umat Islam Indonesia menjalankan ajaran Islam dengan baik, maka pasti akan tercipta keharmonisan dan kerja sama yang sinergis antara sesama anak bangsa, dalam kerangka persaudaraan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *