Catatan Asep Lukman : Sebab Perseteruan Antar Manusia

FOKUSATU-Manusia mahluk yang memiliki rasa dan logika. melalui rasa perasaannya manusia berkeinginan mencintai, memberi kasih sayang, peduli pada sesama dan lingkungannya. Dengan logika manusia menemukan berbagai cara ilmiah dan alamiah dan menemukan dirinya sendiri sebagai mahluk sosial Dimana satu sama lain saling membutuhkan. 

Lalu Apakah ada manusia yang gigih bercita cita ingin menyakiti, menyiksa atau membunuh manusia lainya hanya karena alasan berbeda kulit, bahasa, keturunan dan keyakinan beragama. ? Jawabanya mustahil

Saudara semua, lalu kenapa diantara kita saling membunuh satu sama lain ?
Jawaban Singkatnya karena kita sedang DIADU DOMBA dengan abstraksi sederhana sebagai berikut :

1. Perselisihan Paham

Semua perpecahan muncul pasti dasarnya ketidakpuasan. pada awalnya perpecahan terjadi hanya suatu sikap rata rata atau sikap kerumuman manusia ketika menghadapi sesuatu yang dianggap tidak benar. manusia menamai perilakunya itu sebagai perlawanan atau sikap kritis dirinya pada berbagai hal yang dianggap salah.

Namun sikap pro kontra itu bergulir hingga pada radius yang lebih luas dan rumit. satu sama lain menjadi bersitegang, berdebat memperebutkan berbagai konsep masing-masing tentu dengar niat mencari kebenaran. namun karena satu sama lain tidak ada yang memiliki pemahaman yang sempurna dan dapat diterima semua pihak secara universal (kedangkalan nalar) akhirnya mereka membuat blok-blok, teritorial, organisasi serta sejumlah skat yang lain dengan berbagai dalih semisal atas nama bangsa, bahasa, warna kulit, budaya hingga sekte agama (masing-masing berprasangka bahwa dirinya yang paling benar) dan sigap menuduh orang lain total bersalah

2. Kepentingan Institusi Komunal

Kita memilki berbagai institusi, organisasi, perkumpulan dan sejumlah wadah lainya dalam berkomunal. mari kita perhatikan satu organisasi misalnya parpol atau partai politik, ia adalah organisasi yang sangat Penting sebagai tiang negara. Manusia berijtihad membentuk partai sebagai alat untuk Menyelematkan cita cita bersama dalam rangka menciptakan kesejahteraan melalui kekuasaan. Namun pada gilirannya partai menjadi institusi yang super Boros, anggaran hidup berpartai sangatlah besar hingga mustahil dapat dicukupi oleh penghasilan sebagai tukang atau bandar entah dia adalah bandar pesawat tempur sekalipun.

Dengan terpaksa akhirnya partai menjadi pesaing kesejahteraan manusia, sesuatu yang ironis jika partai ada sebagai alat layaknya cangkul namun malah dibiayai petani dengan anggaran lebih besar dari harga sawahnya.

Tidak heran jika sebagian manusia malah menganggap parpol tidak ubahnya seperti hama yang menggerogoti tanaman (prinsip kaum GOLPUT).

Fakta, mereka antar partai politik saling hantam satu sama lain bagaikan
raksasa terus kelaparan. Demi memenuhi kepuasan hidupnya maka semua orang termasuk teman, kerabat serta anaknya sendiri (konsituen) adalah santapan makan pagi, siang, sore dan malam dirinya. Dan

3. Tirani kekuasaan

Saya yakin, Tidak ada pemimpin yang bercita cita cita ingin menyengsarakan rakyatnya di dunia ini. semua pemimpin termasuk didalamnya Firaun sekalipun sangat ingin jika rakyat yang dipimpinnya hidup aman sejahtera. namun saat cara yang mereka pilih salah atau keliru sudah pasti buahnya pun mustahil sesuai harapannya. dalam posisi ini mereka para pemimpin akan dicaci rakyatnya sebagai respon umum bagi sesuatu yang dirasakan salah, menindas dan ataupun tekanan khususnya persolan ekonomi selebihnya soal hukum, politik dll.

Maka sejak itu para pemimpin dan rakyatnya akan menjadi dua pihak yang bersitegang lalu membangun skat dalam rangka saling mempertahankan kepentingannya masing-masing. Rakyat dituduh sebagai pembangkang pemimpin dicaci sebagai penindas

Kesimpulan :

PERDAMAIAN DAN PERSATUAN itu orientasi hukum yang adil, yaitu yang mampu meberi kepuasan pada manusia, hingga tercipta keamanan dan kesejahteraan hidup.

Sebaliknya, Perpecahan dan Perseteruan bukan karena dogma atau karakter genetika personal tapi konsekuensi dari adanya kesenjangan dan ketidak adilan yang sumber intinya kebodohan kita semua.

Penulis Asep Lukman : Anggota Pembina Santri Pasundan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *