BKKBN Bersama Abidin Fikri Terus Sosialisasikan Penurunan Angka Stunting

FOKUSATU– Menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan sumber daya manusia menjadi titik tekan untuk mengisi pembangunan di tengah kemajuan teknologi dan lingkungan yang berbeda.

Untuk itu, dalam rangka membangun manusia Indonesia yang sehat, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) terus aktif mensosialisasikan penurunan angka stunting. Kali ini, melalui Direktorat Bina Ketahanan Remaja BKKBN bersama H. Abidin Fikri, SH., MH. selaku Anggota DPR RI Komisi IX dari Fraksi PDIP mengadakan kegiatan sosialisasi pencegahan stunting dari hulu dalam rangka penguatan peran serta mitra kerja dan stakeholder dalam implementasi kegiatan prioritas pembangunan keluarga di Hotel Mahkota, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, Senin (28/11/2022).

“Persoalan stunting itu bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, tapi harus menjadi tanggung jawab bapak-bapak juga,” jelas Abidin Fikri dalam paparannya.

Abidin menguraikan bahwa pencegahan stunting dari hulu itu dimulai dari pra nikah, pasangan pengantin harus sehat dan mengerti faktor-faktor yang mempengaruhi Kesehatan reproduksinya.
“Pernikahan dini juga harus dicegah, minimal menikah usia 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Sejak pernikahan harus direncanakan dengan baik agar mendapat keturunan yang tidak stunting,” terangnya.

Pasangan muda-mudi harus paham betul dan menyiapkan perencanaan keluarga terhadap Kesehatan bayinya nanti. Abidin menegaskan bahwa stunting yaitu gagal tumbuh kembang pada anak.

“Efek stunting yang paling berbahaya adalah kemampuan pada otak karena akan menurun 30 persen. Hal ini di masa depan menyebabkan anak hanya bisa menjadi pekerja kasar karena tidak dapat berfikir apalagi mempunyai kemampuan menganalisa,” tambahnya.

Abidin, politisi dari Dapil Jawa Timur IX yang meliputi Kabupaten Tuban dan Bojonegoro ini kembali menegaskan jika 1.000 hari pertama kehidupan tidak diperhatikan, maka dampaknya akan masif terhadap angka stunting. Untuk itu target Presiden Jokowi menurunkan angka stunting menjadi 14%, dalam rangka kemajuan SDM bangsa ke depan untuk menyambut Indonesia Emas 2045.
Abidin berpesan kepada konstituennya khususnya dan menyeru kepada masyarakat umum bahwa program pemerintah tidak akan berhasil jika tidak ada keterlibatan aktif dari Pemkab, Pemprov dan seluruh lapisan masyarakat.

“Forum sosialisasi hari ini adalah untuk menguatkan literasi masyarakat soal stunting dan pencegahannya. Diharapkan masyarakat bisa melanjutkan informasi ini ke tetangga dan sekitarnya,” ujar Abidin.
Sejalan dengan Abidin Fikri, Dra. Maria Ernawati, MM selaku Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur kembali menegaskan bahwa memasuki 1 abad kemerdekaan bangsa Indonesia, tahun 2045 kita mencanangkan Generasi Emas, Unggul dan Berkualitas. Sementara kita masih terkendala isu soal stunting, masih relatif tingginya kematian ibu dan bayi serta kematian ekstrim.

“BKKBN diamanahkan untuk menjaga keseimbangan antara daya dukung alam dan manusia, serta untuk mewujudkan keluarga sejahtera yang berkualitas yaitu melalui tingkat derajat kesehatan,” ungkapnya.
Maria juga mengungkapkan bahwa stunting itu bukan penyakit, tetapi gagal tumbuh kembang dalam 1000 hari pertama kehidupan.

“Bangsa Indonesia yang unggul memiliki daya saing harus dimulai dari pembangunan kesejahteraan keluarga, termasuk didalamnya pencegahan stunting,” tuturnya.
Untuk itu, Maria menyeru perlu menyiapkan setiap fase-fase kehidupan secara baik dan terencana dengan baik. Anak lingkar lengan atas tidak boleh lebih kecil dari 23,5 cm. kemudian masa pertumbuhan bayi 6 bulan harus diberi Air Susu Ibu (ASI). 1000 hari pertama adalah periode emas kehidupan.

Stunting, menurut Maria bukan soal kemiskinan saja, tetapi pola asuh dan faktor-faktor lainnya. Untuk menekan angka stunting di 14%, seluruh masyarakat harus kompak mengantisipasinya sejak pra nikah dan pada pola asuh bayi. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *