Bang Azis : MH.Thamrin Betawi Progresif dan Revolusioner

FOKUSATU– 11 Januari 1941 suasana kediaman Rumah MH.Thamrin atau “Bang Ni” yang semula hening dalam beberapa hari, karena saat itu Bang Ni menjadi tahanan rumah oleh tentara Belanda (PID).

Hari itu suasana Sawah besar berubah menjadi lautan manusia, karena tersiar kabar Bang Ni tutup usia. Menurut informasi versi belanda bahwa MH.Thamrin mati karena penyakit malaria. Namun saya lebih percaya penuturan bu Detje atau De Jubaedah Dimyati Thamrin yang merupakan anak kesayangan MH.Thamrin. perkenalan saya dengan Bu Detje dimulai ketika saya dan anak-anak Cidodol yang tergabung dalam Teater Cikal, mengadaptasi naskah Tonil yang ditulis Firman Muntaco berjudul “Mohammad Hoesni Thamrin Pembela Rakyat”, ada beberapa tulisan yang diedit berdasar penuturan bu Detje.

Berikut sepenggal kenangan menjelang kematian MH.Thamrin 11 januari 1941 yang lalu. Berita yang menyatakan Mh.Thamrin karena serangan malaria tidak sepenuhnya benar, karena saat papi sakit, katanya ; jangankan untuk interaksi dengan dunia luar, dokter keluarga (Mohtar Prabunegara) saja tidak diperkenankan untuk merawat papi, hingga pada jumat malam ketika dokter utusan PID datang dan memberikan suntikan kepada MH.Thamrin, setelah penyuntikan tersebut Bang Ni seperti tertidur lelap, kecurigaan Bu Detje makin menguat setelah PID berpesan untuk tidak membangunkan papi sampai pagi, menjelang subuh saya perintahkan Entong (pembantu di rumah ) untuk melihat kondisi papi, alangkah terkejutnya Entong menyaksikan Bang Ni sudah tidak bernyawa, sontak ia keluar kamar sambil teriak kesedihan mendalam ..”Bang Ni udah ga da Nyonya !, Entong seperti kehilangan keseimbangan Ia lompat keluar rumah sambil sesunggukan Ia kasih tau orang kampung, maka berhamburan orang kampung sabtu pagi di rumah Bang Ni..”.

Demikian sepenggal cerita tentang detik-detik kepergian Tokoh Betawi progresif revolusioner. Tokoh Betawi yang memilih jalur kooperatif dalam langkah politik, Ia sempat menjadi anggota Gementeraad (Dewan Kota) hingga Volksraad (DPR) pada masa kolonial. Meski berada dalam lingkup Pemerintahan bentukan Belanda, namun idealisme Anak Betawi ini tetap terjaga, dari ruang Volksraad lah ia menyuarakan “Indonesia Berparlemen”, “Menggunakan Bahasa Indonesia dalam Parlemen” dan gagasan Nasionalisme lainnya. Tepat 11 januari 1941

MH.Tahmrin tutup usia dengan segala kiprah dan karyanya yang selalu membekas di setiap ruh Kebetawian dan KeIndonesian kita,

Kenang Bang Azis ketika hubungi di Jakarta siang tadi.(11/01) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *