Aziz Khafia : Selamat Jalan Bang Rahmat HS, Tokoh Betawi Progresif

FOKUSATU-Kepergian Tokoh Muda Betawi, Rahmat HS ke Pangkuan Ilahi pada Hari Jum’at, 16 Juli 2021 banyak menyisakan duka yang amat dalam bagi Kaum Betawi, khususnya para aktivis muda Betawi.

Tidak terkecuali Dr. H. Abdul Aziz Khafia, Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta periode 2014-2019. Dalam ungkapan dukanya atas wafatnya almarhum Rahmat HS, Ketua MPW ICMI Muda Provinsi DKI Jakarta ini mengatakan bahwa sosok lelaki berkumis tebal asal Tenabang ini telah menghembuskan nafas terakhir 15 juli 2021 di Rumah Sakit Tarakan Jakarta, Jakarta kembali berduka.

Terkenang awal persahabatan saya dengan Bang Rahmat HS, pertama kali berkenalan melalui sebuah diskusi aktifis Jakarta di kediaman Habib Umar Al Hamid di kawasan Tebet Jakarta selatan, dari pertemuan intens dengan Rachmat HS itulah kami sering jalan dan pulang bareng, karena searah pulang ke rumah, saya ke Cidodol dan Rahmat ke Ciledug.

Tahun 1999 ketika BAMUS Betawi mati suri (ada tetapi nyaris tanpa suara dan aktifitas) maka dari diskusi mingguan tebet saya, Rachmat HS, Fachrurrozi Ishaq, Habib Umar al Hamid, Muchsin, Andi Soleh, Zaenal Munir, Abdullah Husein, Ali Shahab dan beberapa aktifis Betawi lainnya mendirikan Ormas Betawi ‘Solidaritas Masyarakat Betawi SeJABODETABEK” atau Solidaritas MABES. Yang cukup aktif menyelenggarakan diakusi publik dan kajian mingguan Kebetawian dan keJakartaan.

Setahun kemudian, tepat Tahun 2000 ketika suhu politik makin memanas dan isu kebangkitan Komunis makin menyeruak serta demonstrasi menjadi aktifitas rutin di ibukota, Rahmat mendirikan Posko Anti Komunis di depan Hotel Indonesia, ijtihad Bang Rahmat mendapat dukungan banyak pihak baik dari pemerintah daerah maupun tokoh nasional, jadilah Posko kecil dengan tenda seadanya menjadi transit dan bertemunya berbagai macam kalangan pergerakan saat itu, dari ia kemudian mendeklarasikan berdirinya Forum Pemuda Betawi 2000 (FPB).

FPB ia jadikan kendaraan untuk bersilaturahim dengan banyak pihak, kemampuannya beretorika dengan lantang dan percaya diri malah kadang over confidence, justru menjadik kekuatan dan kekhasan sendiri untuknya, katanya ; “Ente boleh S dua dan doktor Zis, tapi kalo buat berorganisasi Ane nih dah Master bahkan doktor Organisasi…”, guyonan yang pasti aktifis Jakarta yang kenal dia pasti pernah denger kalimat semodel itu.

Sebenarnya ada benarnya juga dia mengaku sebagai master organisasi, karena memang banyak organisasi yang ia ikuti, mulai dari organisasi kepemudaan seperti karang Taruna, KNPi, Pemuda Tarbiyah, Bamus Betawi dan lain-lain. Karir politiknya dimuilai sebagai kader GOLKAR, HANURA lalu terakhir menjadi kader GERINDRA. Rachmat memiliki talenta yang unik yang tidak dimiliki pemuda lainnya, ia mampu melakukan loby dan meyakinkan orang dengan gaya bahasa betawi Tenabannya yang khas, terbuka, to the point plus kadang nyablak atawa los meter, hahaha, namun gaya model demikian yang membuat ia bisa akrab dengan siapapun, ulama, birokrat, pengusaha hingga kang Soto kaki di Tenabang. Talenta dan mimpinya segudang.

Ditangannya organisasi yang ia pimpin pasti rame dan seru serta bisa mengangkat ge er dan pamor orang, apalagi kalo lagi orasi, waduh orang bisa diangkat setinggi langit dan sebaliknya bisa nyungsep sejadi-jadinya meski demikian orang tetap dibuat ketawa ngakak.

Forum Pemuda Betawi 2000 telah banyak memberi warna bagi Betawi, karena banyak hal unik yang ia jalani, mulai dari keliling Asia dan beberapa negara lainnya. Dalam hal bersilaturahmi dan membetawikan orang, ia hampir setiap tahun memberikan gelar “Abang” Sekaligus Anggota kehormatan FPB, mulai dari politisi, birokrat, pengusaha, seniman dan budayawan, “Ini gaya bersilturrahmi Forum Pemuda Betawi” katanya. Persahabatan saya dengan Bang Rachmat sejak saya masih perjaka ting-ting, terbayang saat pulang larut dari Tebet, ngompreng angkot ke Slipi lanjut ke Kebayoran, dari pasar Kebayoran Lama, sebalum naik angkot arah ciledug, pasti ia belanja dulu sayur mayur, “Mumpung masi seger jis, kite beli sayuran, Supaya Ane pulang bini seneng dibawain sayuran, nah ente kan masi bujangan, beli tomat aje ye buat bikin jus…” hampir saban malam setiap pulang dari Tebet atau dari ngayab kemanapun.

Saya turun di Seskoal dan ia lanjut ke Ciledug. Kini ia telah pergi, masyarakat Jakarta khususnya Betawi kehilangan sosok pemuda yang progresif, jenaka dan lentur dalam.bergaul, semoga kiprah berorganisasi bang Rachmat menjadi amal soleh dan amal jariah untuk semua, selamat jalan Bang Rachmat
..Al Fatihah (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *