Azis Khafia : Kaoem Betawi Harus Banyak Beberes

FOKUSATU– Pasca Jakarta bukan lagi ibukota negara bukan berarti Jakarta kehilangan daya tarik atau menurun daya pikatnya, demikian di katakan Aziz Khafia selaku tokoh Betawi dalam release nya, Kamis (17/11). 

Jakarta dengan ibukota ataupun bukan ia tetap sebuah kota dengan magnet besar, Tuhan telah mentakdirkan keIndonesian di tanah Jakarta, sehingga Jakarta tetap menjadi primadona banyak pihak, baik dalam maupun luar negeri.

Satu diantara kekuatan Jakarta mampu menjadi perekat multi kultural adalah, karena ia memiliki masyarakat inti yakni *Betawi*, sebuah etnik dengan kekuatan egaliterian, terbuka sekaligus religius moderat. Namun sebuah konsekwensi pembangunan dan persaingan membuat Kaoem Betawi rada keteteran menghadapi dinamika tersebut, hal tersebut diperparah dengan performence Betawi sebagai jagoan dan jawara yang tampil dilayar depan, sehingga stigma dan stereotype Betawi makin bias.

Padahal sejatinya Betawi adalah moral penggerak yang telah mewarnai ruh kebangsaan kita, mulai Perkoempoelan Kaoem Betawi 1923, Sumpah Pemoeda 1928 yang didalamnya ada Pemuda Kaoem Betawi serta proklamasi kemerdekaan 1945 yang didukung ulama Betawi dan lintasan sejarah keIndonesiaan lainnya, Betawi selalu mengambil bagian bahkan pada panggung depan.

Melihat dinamika organisasi yang menjadi sentral Kebetawian kini mengalami dualisme kepemimpinan yang berimbas pada tercecernya orientasi penggiat dan aktifis Betawi dan semakin memperburuk citra Betawi yang sudah kadong disalahtafsirkan oleh berbagai pihak dan berbagai kepentingan. Tawaran solusi pada situasi seperti ini adalah dengan melakukan beberapa hal antara lain,

Pertama, revitalisasi lembaga Kebetawian yang saat ini ada, kembali ke titik nol, sekaligus membuat terobosan politik dan hukum pada revisi Undang-undang Pemerintah Daerah Jakarta, dengan memberi penguatan pada institusi kebetawian dalam Undang-Undang hingga pada turunannya nanti (Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah..), secara teknis bisa diselenggarakan Kongres Kaoem Betawi atau sejenisnya.

Kedua, Pemerintah Daerah selaku pembina Organisasi Kemasyarakatan dan keadatan harus lebih kreatif dan sensitif melihat dinamika yang ada, sehingga ia harus berperan aktif menjadi pembina Organisasi Kebetawian, tentunya dengan berperan aktif memberikan titik temu sekaligus berperan sebagai pamong, pemerintah Daerah yang abai belakangan ini dituntut untuk lebih cepat dan tanggap menanganinya.

Ketiga, potensi generasi muda Betawi dan elite Betawi harus mengambil langkah nyata menghadapi dinamika kebetawian saat ini, sikap ambivalen dan acuh terhadap penyatuan institusi Betawi justru akan memperpanjang deretan kesalahpahaman Betawi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *