Aji Najiulla Thalib : Sebuah Obsesi Yang Sedang Diwujudkan

FOKUSATU-Pemikiran Tentang Jambi,banyak sekali pemikiran yang sudah disampaikan, baik melalui tulisan ataupun yang disampaikan secara langsung. Pada tahun 1990 pernah diminta pendapat tentang pengembangan bekas pasar Angso Duo oleh Walikota Jambi pada saat itu, Sabki Abdullah.

Dan sudah memberikan konsep pemikiran, hanya saja pada tahap implementasi gagasan tidak bisa terlaksana karena beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan, akhirnya saya kembali ke Jakarta.

Setelah kembali ke Jakarta saya pun larut dengan berbagai aktivitas yang sesuai dengan profesi saya. Ketika Pak Sabki Abdullah mau merealisasikan gagasan tersebut saya sudah tidak bisa, karena sudah terikat kerja dengan pihak lain. Sekarang gagasan yang pernah gagal diwujudkan tersebut kembali saya wujudkan dalam bentuk konsep yang nyata. Sangat ingin Provinsi Jambi memiliki suatu bangunan yang monumental, dan menjadi Ikon Provinsi Jambi.

Pernah memberikan pokok pikiran tentang pengembangan seni budaya Jambi, yang sangat kaya dengan berbagai ragam, terutama Sastra Lisannya yang unik seperti KRINOK, yang sangat mungkin diadabtasikan dengan musikalisasi puisi. Sehingga menambah kekayaan khasanah budaya Indonesia, namun pemikiran tersebut belum bisa direalisasikan dan hanya terpendam sebatas pemikiran.
Ada satu obsesi saya tentang Batik Jambi yang sudah diwujudkan, ini semata karena kepedulian terhadap eksistensi Batik Jambi.

Sewaktu masih kuliah di IKJ, salah seorang dosen Batik menceritakan pada saya, bahwa batik Jambi itu sangat otentik dan mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Ucapan dosen itu memacu kegelisahan saya, karena pada saat itu di tahun 80 an batik Jambi belumlah menggeliat.

Setelah sekian puluh tahun berlalu saya baru bisa mewujudkan, yakni menulis Sejarah dan Filosofi Ragam Motif Batik Jambi. Dari menulis Sejarah tersebut saya jadi tahu perkembangan batik Jambi. Meskipun melalui proses beragam akultrasi budaya, baik budaya dari luar seperti, budaya Arab, China dan India, juga budaya lokal seperti budaya Jawa, batik Jambi mampu mempertahankan corak dan ciri khasnya.

Itu barulah terkait seni batik, ada kegelisahan lainnya yang juga sangat menggelitik pemikiran saya, yakni tentang ‘Ikon’ sebuah kota. Kegelisahan ini sudah mengganggu pikiran saya sejak lulus SMA, saya sangat terobsesi agar Jambi mempunyai ciri Kota yang khas, sebagai penanda Kota Jambi, seperti halnya kota-kota yang ada di wilayah Indonesia. Melihat Jembatan Musi orang sudah tahu itu Kota Palembang, melihat Monas Setiap orang sudah tahu itu Kota Jakarta. Seperti juga ketika melihat Jam Gadang di Bukit Tinggi dan beberapa kota lainnya. Sementara Jambi belum ada yang bisa dijadikan Ikon, berbagai monumen yang ada tidaklah monumental.

Obsesi tentang Ikon Jambi ini sedikit banyak sudah mulai diwujudkan oleh Mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA), dengan membangun Jembatan Pedesterian Gentala Arasy, yang menghubungi kota Jambi dengan Olak Kemang seberang kota. Namun itupun rasanya belum cukup untuk menjadi Ikon Kota Jambi, sehingga saya kembali terobsesi dan mulai merancang Monumen Gung Sitimang dan Keris Siginjai, yang merupakan Obsesi saya sejak lulus SMA (foto konsep terlampir).

Gagasan ini adalah bagian dari pemikiran untuk memperindah lanskap Kota Jambi, untuk memperindah kota Jambi yang tidak tersentuh oleh Seni sama sekali. Sebagai sebuah Provinsi yang memiliki kekayaan yang beragam, tidak termanifestasikan dalam lanskap kota Jambi. Ini menjadi Obsesi dan perhatian saya sebagai praktisi seni budaya yang tinggal diperantauan.

Pemikiran lain terhadap perkembangan dan kelestarian budaya Jambi, saya juga tergelitik terhadap eksistensi Seloko Adat Jambi, yang menurut saya seperti Kerakap diatas Batu, yang hidup segan mati pun tak mau. Dalam pemikiran saya, Seloko Adat itu bukan cuma dilestarikan, tapi juga harus dikembangkan perbendaharaannya. Dari sekian banyak seloko adat dari setiap kabupaten, paling hanya tinggal segelintir yang terdokumentasikan, padahal seharusnya seloko adat yang ada disetiap Kabupaten bisa digali kembali dengan cara membuat Festival Menulis Seloko Adat Jambi, yang pesertanya dari 11 Kabupaten yang ada di Jambi.

Begitu juga menyangkut eksistensi Sastra Lisan Jambi seperti Krinok, yang kurang terangkat dan tidak memasyarakat. Padahal kekhasan Krinok ini memiliki nilai seni yang tinggi sebagai sebuah produk sastra lisan. Bayangkan saja kalau Krinok tersebut diadabtasikan dengan Musikalisasi Puisi, dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun tetap menggunakan langgam Krinok, saya yakin akan menambah perbendaharaan khasanah sastra Indonesia. Kenapa hal seperti ini tidak tergali? Karena, tidak ada yang peduli, dan tidak ada yang memikirkan bagaimana menghargai sebuah produk budaya.

Terkait Seni dan Budaya Jambi ini harus menjadi pekerjaan dan perhatian bersama, karena produk budaya adalah bagian dari peradaban masyarakat yang harus terus ditumbuh kembangkan. Bukan cuma itu saja, tapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari, dengan demikian seni dan budaya Jambi akan terus lestari, seiring dengan kehidupan masyarakat.

Semua ini bukanlah gagasan yang muluk-muluk, sangat mungkin untuk diaplikasikan dengan sebuah tindakan yang nyata. Jangan sampai karya budaya yang begitu Agung tersia-siakan, malah dipopulerkan oleh bangsa lain yang hanya mengadobsinya dan menjadi karya budaya negerinya. Ini bukan isapan jempol, karena sudah banyak terbukti budaya kita diakui sebagai budaya negara tetangga.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *