Agus Salim : Guru Sejati, Di Hati Dan Dinanti

FOKUSATU– 25 November diperingati setiap tahunnya sebagai hari guru. Peringatan hari guru sejatinya penting buat guru itu sendiri untuk mengingat kembali peran strategis mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Guru merupakan salah satu pilar penting bagi kebangkitan sebuah bangsa. Jepang sendiri yang terpuruk setelah kota Hirosima dan Nagasaki di bombardir oleh tentara sekutu di tahun 1945 bisa bangkit berkat peran guru. Kala itu Kaisar Jepang mengumpulkan para menterinya dan berkata:

“Berapa jumlah guru yang tersisa, kumpulkan mereka, kita akan bangun kembali Jepang bersama mereka”

Bersama guru yang tersisa waktu itu Jepang membangun kembali kekuatan sumber daya
manusianya. Hari ini kita saksikan Jepang berjaya menguasai teknologi dengan kekuatan sumber daya manusia yang luar biasa.

Negeri ini sejatinya membutuhkan guru-guru bervisi tinggi dan bisa menjadi teladan kehidupan generasi masa depan. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa, para guru memang harus terus-menerus memperbaiki kualitas dirinya agar dapat menjadi guru sejati. Guru sejati adalah guru yang bervisi tinggi, dekat di hati siswa dan siswi dan hadirnya selalu dinanti.

Guru bervisi tinggi akan selalu memotivasi para siswanya meraih mimpi dan mendorong mereka menjadi yang terbaik sesuai minat dan bakatnya. Guru bervisi tinggi juga mempunyai cara pandang tersendiri terhadap para siswanya.

Ada 3 cara pandang guru terhadap muridnya yang insya Allah bisa menjadikan seorang guru mampu menjadi guru sejati yang dekat di hati siswa-siswi dan hadirnya selalu dinanti

Pertama, seorang guru hendaknya memposisikan siswa adalah sahabatnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa sahabat adalah tempat seseorang bisa curhat. Guru yang memandang siswa adalah sahabat nya akan mampu membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan para siswa. Hubungan yang baik merupakan modal awal suksesnya proses belajar-mengajar.

Kedua, seorang guru hendaknya memandang siswa sebagai anaknya. Tentu kita dapat merasakan bedanya antara memandang siswa sebagai siswa semata dengan memandang siswa sebagai anak dan permata mulia. Guru yang memandang siswanya adalah anak dan permata mulia akan mendidik siswa dengan sepenuh jiwa dan raga.

Guru yang memandang siswa adalah anak dan permata mulia bukan hanya akan mengembangkan aspek kognitif siswa saja, ia juga akan sangat peduli pada perkembangan fisik, moral dan spiritual siswanya. Guru tersebut akan terus berpikir dan bertindak terbaik agar para siswanya tetap menjadi permata mulia kehidupan dan tak lupa mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

Ketiga, seorang guru hendaknya memandang siswa adalah “gurunya”. Dengan cara pandang seperti itu maka seorang guru tidak akan marah dan menolak kritik dan saran dari siswanya, bahkan ia mengucapkan terimakasih ketika seorang siswa mengingatkan kesalahannya. Mengapa demikian?, karena ia memandang siswa adalah gurunya. Kritik saran seorang guru sejatinya harus diterima oleh siswa.

Dengan bervisi tinggi dan 3 cara pandang terhadap siswa seperti itu, insya Allah seorang guru akan dekat di hati siswa-siswi dan hadirnya selalu dinanti.

Mari kita baca kembali novel Laskar Pelangi yang sempat menggemparkan jagat semesta, karya Andrea Hirata. Novel karya penulis Indonesia ini alhamdulillah telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Dalam Novel tersebut diceritakan sosok seorang guru bernama Bu Muslimah yang rendah hati namun mempunyai visi tinggi terhadap para siswanya dan menganggap mereka adalah anak- anaknya sendiri serta berani mengatakan bahwa para siswanya itu yang hebat bukan dirinya.

Dengan sikap mental seperti itu, Bu Muslimah telah berhasil mengantarkan para siswanya menjadi orang-orang hebat dibidangnya masing-masing, dan Bu Muslimah selalu dinanti dan dihati para siswanya.

Mari kita teladani Bu Muslimah, guru bervisi tinggi namun rendah hati, yang telah mengantarkan para siswanya berhasil memeluk mimpi-mimpinya.

Memang tak ada guru yang sempurna, tapi setiap guru bisa menjadi guru yang terus-menerus memperbaiki kualitas moral dan professionalismenya

Selamat hari guru, peran moral dan professional mu ditunggu.
Selamat hari guru, negeri ini membutuhkanmu, sungguh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *