Agus Fatah : Peragakan..!! Peragakan..!! Peragakan..!!

FOKUSATU– Bermain adalah salah satu cara mendidik anak, tapi mendidik anak bukanlah pekerjaan main-main” Di katakan Agus Fatah selaku Moslem Storyteller dan Aktivis Literasi dalam release nya, Senin (28/11). 

“Peragakan…! Peragakan…!, Peragakan…!,

Teriak para siswa, saat saya berjalan menuju ruang kelas 1.
” Pak Agus, nanti saya ikut memperagakan ya,”
pinta Mitha.
” Aku juga mau ikut memperagakan pak” ucap Rizky.
“Aku juga pak, mau ikut “, desak Ahmad.

Begitu suasana tiap selasa pagi di kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah Salsabila Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur, saat saya memasuki kelas.

Awalnya saya agak kesulitan menghandle siswa kelas 1, karena para siswanya memiliki gaya belajar yang beragam, aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, namun hasil belajarnya belum maksimal.

Setelah saya pelajari karakteristik para siswa dan gaya belajarnya, maka saya berusaha menemukan metode mengajar yang tepat untuk mereka.

Dari hasil pengamatan saya terhadap karakteristik siswa kelas 1 maka saya berkesimpulan bahwa metode yang tepat untuk mengajar mereka adalah metode “Berkisah dan Bermain Peran”.

Bidang studi yang saya ajar adalah aqidah akhlaq. Pada bidang studi tersebut banyak terdapat kisah teladan yang harus saya sampaikan kepada para siswa.

*Apa itu berkisah dan bermain peran?*

Berkisah adalah seni bertutur yang mengandalkan kekuatan kata-kata yang disampaikan oleh seorang pengkisah, guru atau orang tua untuk menghibur, menyampaikan pesan moral kepada audience (anak, remaja dan dewasa) dengan alat peraga atau tanpa alat peraga.

*Manfaat Berkisah*

Berkisah sangat bermanfaat bagi anak, diantara manfaat kisah antara lain :
1. Menstimulasi dan mengembangkan imajinasi
2. Meningkatkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi
3. Menanamkan nilai-nilai kebaikan (Akhlaqul karimah)
4. Belajar mengenal kehidupan
5. Meningkatkan konsentrasi dan kecerdasan
6. Menstimulasi rasa ingin tahu
7. Menstimulasi jiwa petualang anak
8. Menghibur
9. Mengimbangi tayangan youtube dan televisi
10. Menghangatkan hubungan orang tua dan anak

*Bermain dan Berrmain Peran*

Bermain adalah aktifitas yang disukai anak dalam bentuk imajinasi dan aktifitas fisik untuk merangsang perkembangan berbagai kemampuan anak.
Bermain membantu anak memahami dunia sekitar. Ia dapat menyelidiki dan menemukan sesuatu, menguji teori mereka, mencoba hubungan sebab akibat dan belajar banyak hal.

Diantara kemampuan yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain adalah sebagai berikut

1. Merangsang Perkembangan Kognitif

Melalui bermain sensori motor misalnya, anak mengenal lembutnya sebuah selimut, kasarnya bulu sikat gigi atau kakunya lembaran kertas. Melalui bermain fisik, anak belajar mengenal kekuatan dan batas- batas kemampuan dirinya. Bermain simbolik menandai kemampuan anak untuk menyiadati realitas, untuk masuk dan keluar dari realitas kapan saja ia suka. Kemampuan anak berimajinasi dan berfantasi, menandakan bahwa ia pun mampu berpikir abstrak.

Melalui bermain, kemampuan abstraksi ini semakin terasah. Ini membuatnya dapat semakin jelas mengenal konsep-konsep seperti besar : kecil, atas bawah, penuh-kosong. Sementara permainan mengajarkan anak menghargai aturan, keteraturan dan logika.

2. Membangun Struktur Kognitif

Melalui pengalaman dan penghayatannya saat bermain, anak mengasimilasi informasi, sehingga pengetahuan dan pemahamannya menjadi lebih kaya dan lebih dalam. Bila informasi baru yang diterimanya itu ternyata bertentangan atau tidak sesuai dengan kerangka pengetahuan dan pemahaman sebelumnya, anak terdorong untuk merombaknya, sehingga didapatkan pengetahuan baru atau pemahaman yang lebih baik atas suatu informasi. Dengan demikian, melalui bermain, struktur kognitif anak terus diperkaya, diperdalam dan diperbaharui hingga semakin sempurna.

3. Membangun Kemampuan Kognitif

Kemampuan kognitif meliputi kemampuan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengurut, mengamati, membedakan, membuat peramalan, menarik kesimpulan, membandingkan dan menentukan hubungan sebab akibat. Semua kemampuan Intekektual ini merupakan dasar bagi keberhasilan anak dibidang akademik. Kepekaan akan keteraturan (sense of order), urutan (sense quence) dan waktu terasah melalui permainan.

Anak mengerti aturan bagaimana permainan dimulai, dilangsungkan dan berakhir. Kemampuan logisnya juga tertantang dalam usaha memenangkan permainan. Demikian halnya dengan permainan pura-pura. Anak yang ingin bermain dokter-dokteran, misalnya, harus menentukan dimana letak ruang praktek dokter, dimana ruang tunggu, apa yang akan digunakan sebagai steteskop dan seterusnya.

Saat bermain peran, anak belajar mengorganisir materi. Pengorganisasian ini tidak jarang menuntut pembedaan yang cermat, misalnya memilih ukuran, bentuk dan warna.

4. Belajar Memecahkan Masalah

Saat bermain anak sering terlibat dalam proses pemecahan masalah. Mereka bereksperimen dengan menambahkan air ke adonan pasir agar cukup liat untuk dibentuk. Mereka menjelajahi kamar- kamar untuk mencari materi yang cocok untuk kebutuhan permainannya. Ia bisa menemukan “perahu” dari tudung saji yang dibalik, ” kuda ” dari gagang sapu, “drum” dari kaleng susu bekas.

Kesempatan bermain semacam ini mendorong anak berkeyakinan bahwa ada banyak kemungkinan untuk memecahkan satu persoalan, dan mendorongnya untuk bertahan lebih lama dalam kesulitan agar persoalan itu terpecahkan. Imajinasi aktif mencegah pencetus kerewelan anak : kebosanan.

5. Mengembangkan Kemampuan Berkonsentrasi

Tanpa rentang perhatian yang memadai, anak tidak mungkin asyik bermain pura-pura. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara imajinasi dan panjangnya tentang perhatian anak, dimana anak yang kurang imajinatif cenderung mudah teralih konsentrasinya.

Sebuah studi bahkan menunjukkan bahwa anak pra sekolah yang paling tidak imajinatif tidak hanya mempunyai rentang perhatian paling pendek, tetapi juga berkemungkinan paling besar terlibat dalam perilaku agresif dan disruptive (mengacau)

6. Mengembangkan Kemampuan Berbahasa

Aktivitas bermain ibarat ” laboratorium ” bahasa: berargumentasi, menjelaskan, meyakinkan, bahkan saat bermain imajinasi pun, ia bercakap-cakap. Bermain memungkinkan anak bereksperimen dengan kata-kata baru, sehingga memperkaya perbendaharaan kata serta keterampilan pemahamannya. Dalam proses ini anak bisa menemukan humor verbal yang membawa kesenangan tersendiri.

7. Mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi

Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya. Hal ini mendorong anak untuk belajar bagaimana betkomunikasi dengan baik, bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

8. Mengembangkan Sikap Sosial

Bermainn mendorong anak untuk meninggalkan pola pikir egosentrisnya. Dalam situasi bermain anak “diipaksa” untuk mempertimbangkan sudut pandang teman bermainnya. Sehingga menjadi kurang egosentris.

Dalam permainan, anak belajar bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Mereka mempunyai kesempatan untuk belajar menunda kepuasan sendiri selama beberapa menit, misalnya saat menunggu giliran bermain. Ia pun terdorong untuk belajar berbagi, bersaing dengan jujur, menang, atau kalah dengan sportif, mempertahankan haknya dan peduli terhadap hak-hak orang lain serta banyak sikap sosial lainnya. Lebih lanjut, ia pun akan belajar makna kerja tim dan semangat tim.

9. Belajar Mengorganisasi

Saat bermain bersama orang lain anak juga berkesempatan belajar “berorganisasi”. Bagaimana ia harus melakukan pembagian “peran” diantara mereka yang turut serta dalam permainan tersebut, misalnya siapa yang menjadi dokter dan siapa pasiennya.

10. Belajar Menghargai orang lain dan perbedaan-perbedaan

Bermain memungkin anak mengembangkan kemampuan empatinya. Saat anak bermain dalam sebuah peran, misalnya anak tidak hanya memerankan identitas si tokoh, tetapi juga pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tokoh tersebut. Misalnya saat sebagai seekor “kucing” anak dimungkinkan untuk mengenali perlakuan-perlakuan mana yang enak atau tidak enak bagi sikucing: bermain sebagai “seorang perawat” memungkinkan anak merasa prihatin kepada pasiennya.

Permainan ini membantu anak membangun pemahaman yang lebih baik atas orang lain, lebih toleran, serta mampu berlapang dada terhadap perbedaan-perbedaan yang dijumpai.

11. Belajar Menghargai dan Kompromi

Saat dunianya semakin luas dan kesempatan berinteraksi semakin sering dan bervariasi, akan tumbuh kesadarannya akan makna peran sosial, persahabatan, perlunya menjalin hubungan serta perlunya strategi dan diplomasi dalam hubungan dengan orang lain. Anak tidak begitu saja merebut mainan teman, misalnya karena ia tahu akan konsekuensi ditinggalkan, dimusuhi (dikutip dari Majalah Ayah Bunda edisi ” Bermain Dunia Anak” hal : 22).

*Bermain Peran Dan Manfaatnya*

Bermain peran adalah : aktifitas memainkan peran tokoh, atau profesi secara kelompok atau perorangan dengan atau tanpa alat peraga untuk memperoleh kesenangan.

Bermain peran sangat bermanfaat bagi anak dalam mengembangkan berbagai potensi dan keterampilannya. Diantara manfaat bermain peran adalah sebagai berikut :

1. Mengembangkan kecakapan sosial
2. Meningkatkan pemahaman tentang sebuah konsep
3 Meningkatkan rasa percaya diri
4. Meningkatkan kemampuan mengingat dan menghafal
5. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi
6. Mengembangkan kemampuan memimpin
7. Melatih bersabar menunggu giliran
8. Melatih kemampuan bekerja sama

*Proses Pembelajaran Menggunakan Metode Berkisah dan Bermain*

Proses pembelajaran melalui metode berkisah dan bermain peran, diawali dengan pengkondisian siswa dengan menyampaikan peraturan kelas dan
pencairan suasana (ice breaking) : bermain tebakan, tepuk tangan dan melakukan yelling ( mengucapkan kata atau kalimat penyemangat dengan gerakan tertentu)

Selanjutnya guru menyampaikan materi pelajaran, contoh kisah Nabi Yusuf AS dengan berkisah. Para siswa mendengarkan dengan khusyu.

Usai berkisah guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya, atau guru mengajukan pertanyaan untuk dijawab siswa terkait kisah yang telah disampaikan.
Kemudian guru mengajak anak bermain peran dengan terlebih dahulu menawarkan anak untuk ikut ambil bagian dengan memerankan salah satu tokoh, misalnya, ada anak yang berperan sebagai Nabi Yusuf, Ayah Nabi Yusuf, saudara Nabi Yusuf dan seterusnya.

Setelah semua disepakati guru memberi kesempatan para siswa untuk berlatih. Usai berlatih tibalah saatnya anak-anak beraksi di panggung kelasnya : ” Bermain Peran”

” Para penonton yang berbahagia inilah pementasan kisah Nabi Yusuf AS, oleh siswa kelas 1 Abu Bakar, selamat menyaksikan” demikian kalimat pengantar pementasan yang disampaikan oleh sang guru.
Disambut tepuk tangan meriah oleh para penonton (guru dan siswa)

Usai pementasan para siswa berkumpul kembali dalam posisi melingkar bersama guru untuk melakukan penutupan pembelajaran (closing), evaluasi dan menarik kesimpulan. Pada sesi ini para siswa diberi kesempatan menyampaikan perasaannya dan pengalamannya saat bermain berperan tadi.
Setelah itu guru dan siswa secara bersama sama membuat kesimpulan terkait pesan moral dari pelajaran dari kisah Nabi Yusuf AS.

*Hasil Penggunaan Metode Berkisah dan Bermain Peran*

Dari hasil penggunaan metode berkisah dan bermain peran di kelas 1 di sekolah tempat saya saya mengajar, alhamdulillah para siswa menjadi makin bersemangat mengikuti pelajaran aqidah akhkaq yang saya sampaikan dan pemahaman mereka tentang materi yang saya sampaikan semakin baik, terbukti dengan perolehan nilai ulangan dan ujian mereka yang terus meningkat dan kemampuan mereka dalam mempraktikkan (mengamalkan) apa yang mereka pelajari.

” Anak-anak harus mendapat kesempatan mendengar kisah-kisah para para Nabi, orang-orang sholeh, para pahlawan dan ilmuan, agar mereka terinspirasi mengikuti jejak mereka.
Dan setiap anak harus mendapat kesempatan bermain peran di panggung kelas, agar kelak mereka tidak canggung memerankan perannya sebagai “kholifal fiil ardhi” dipanggung kehidupan”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *