ABAH ASLUK : MATERIALISME IDEOLOGI KEKUASAAN DUNIA YANG LAHIR DARI IRASIONALISME (PENUTUP)

FOKUSATU-Teramat Irasional jika mempercayai Negara beserta sistem materialisme yang dianutnya saat ini bisa memberi keamanan & kenyamanan hidup pada rakyat. kenapa? Karena fakta rasionalnya justru Negara lah yang menjadi dalang terjadinya polemik konflik antar saudara sebangsa, dan Negara pula yang menjadi pelopor terjadinya peperangan antar bangsa. Tapi di lain pihak Negara senantiasa mengklaim sebagai pengatur kehidupan umat manusia dan selalu berjanji akan senantiasa melindungi segenap tumpah darah rakyatnya.

benar-benar ironi..!

Semua perilaku kejahatan yang dilakukan rakyat akan senantiasa dipandang “Ilegal” oleh Negara. Sebaliknya seluruh perilaku kejahatan yang dilakukan Negara senantiasa dipandang “legal” oleh Negara. Mindset demikian murni lahir secara alami yang dasarnya karena tercetak oleh watak Materialisme.

Memang awalnya materialisme menjanjikan pada Negara hidup serba indah yang Direspon oleh kedangkalan nalar para aktornya, alhasil Negara langsung mensepakatinya. Persis sebagaimana dulu pada awal cerita Negara yang menjanjikan pada rakyatnya kehidupan yang aman nyaman sejahtera & sentosa. Maka tanpa berpikir panjang seluruh rakyat pun menyetujui apa yang dijanjikan Negara.

Kini cerita akhirnya, apa yang dijanjikan materialisme pada Negara faktanya hanya sebuah fatamorgana. Dan kita saksikan bersama, materialisme malah menjerumuskan Negara ke lembah nestapa, saat ini Negara nyata sedang dihadapkan pada persoalan yang begitu komplek yang sulit dicari jalan keluarnya. Artinya dalam kondisi demikian materialisme yang total menjadi gantungan Negara samasekali tidak bertanggung jawab, ia tidak mampu menolong atau memberi solusi pada Negara yang sedang dihadapkan pada situasi yang sangat dilematis.

Dilematis negara dalam arti, jika harus membubarkan diri rasanya sangat tidak mungkin, sementara kalau harus terus memeras rakyat pun pasti akhirnya akan celaka juga. Itulah fakta delematis yang sedang dihadapi Negara sekarang ini.

Kendati pun begitu adanya, karena tidak ada pilihan lain maka demi mempertahankan eksitensinya terpaksa Negara lebih memilih untuk semakin menekan hidup rakyat, yaitu dengan jalan mencabut berbagai insentif, subsidi dan meningkatkan pajak, restribusi serta berbagai pungutan lainnya.

Namun demikian karena Allah SWT mutlak sebagai penguasa kehidupan yang sedetikpun tidak pernah mengantuk apalagi sampai ketiduran (Lalai Abai) “Laa ta”khudzuhuu sinatuw wa laa naum”, maka sesuai ketetapan Sunnah-Nya atau Hukum-Nya bahwa apa yang dilakukan Negara sekarang ini pasti akan sampai pada titik cerita akhirnya.

Kalau boleh saya analogikan kondisi Negara saat ini ibarat jasad yang mati dan terkubur yang dagingnya sedang diurai oleh tanah. Dan Allah SWT sangat berkuasa untuk memunculkan generasi baru sebagai penggantinya. Generasi yang pasti akan membuka lembaran hidup baru dengan pola peradaban hidup yang sesuai fitrah insan dan kehidupan. Generasi pengganti yang mutlak akan selalu berjalan di atas petujuk-Nya serta yang selalu pasti ada dalam lindungan dan bimbingan-Nya. Amiiin Yaa Rabbal Aalamiin.

Atau apakah engkau tidak memperhatikan cerita orang yang berjalan melalui sebuah negeri yang pagar temboknya telah rubuh menutupi atap-atapnya. Orang itu berkata: “Bagaimana caranya Allah membangun kembali negeri yang sudah hancur ini?” Lalu dia dimatiikan oleh Tuhan selama seratus tahun. Kemudian dihidupkan kembali. Kemudian Tuhan berfirman: “Sudah berapa lamakah engkau tinggal disini?” Ia menjawab: “Hamba tinggal disini baru satu atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya engkau disini sudah seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu masih ada, tidak berubah! Dan lihat pulalah keledaimu itu yang sudah tinggal tulang belulang! Dengan peristiwa ini Kami akan menjadikan kamu sebagai bukti kekuasaan Kami untuk segenap manusia. Dan perhatikanlah tulang belulang keladai itu, bagaiman cara Kami menyusunnya kembali, serta bagaimana cara Kami membalutnya kembali dengan daging!” Setelah semua itu menjadi kenyataan baginya, maka diapun berkata: “Sekarang baru aku yakin, bahwa Allah benar-benar Kuasa atas segala-galanya.” (Al- Baqarah ayat 259.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *