DEDI ISKANDAR BATUBARA MANFAATKAN MUSDA AL WASHLIYAH UNTUK GELAR SOSIALISASI 4 PILAR KEBANGSAAN

FOKUSATU-Anggota DPD RI Dapil Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara kembali menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di daerah pemilihannya, pada Rabu (19/5 21). Bertempat di Aula Kantor MUI Kota pematang Siantar,Medan.

Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 150 orang, yang terdiri dari pengurus pimpinan Daerah Pematang Siantar, ditambah perwakilan ormas Islam, ulama, dan tokoh-tokoh agama setempat.

Dalam pengantarnya, pria yang akrab disapa Bang Dedi tersebut menjelaskan bahwa, dirinya sengaja memanfaatkan momen silaturrahim sekaligus Musyawarah Daerah (Musda) Al-Washliyah untuk menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.
“Rangkaian acara Musda Al Washliyah ini panjang, saya kira tidak peserta tidak akan keberatan jika saya minta waktu tiga jam untuk melaksanakan tugas selaku anggota parlemen untuk menyisipkan kegiatan sosialisasi. Cara ini saya pikir efektif untuk meluaskan wawasan kebangsaan di kalangan tokoh-tokoh agama, karena setiap peserta acara ini sebenarnya adalah panutan masyarakat di tempat tinggalnya,” jelas Dedi yang disambut tepuk tangan peserta acara.
Dedi Iskandar Batubara tidak tampil sendiri memaparkan materi Empat Pilar Kebangsaan, ada juga M. Hidayatullah, SH yang mendampinginya. Hal itu penting, karena bisa memberikan perspektif yang berbeda mengenai realitas dan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Tampil sebagai pembicara pertama, Dedi Iskandar yang juga Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara menguraikan tentang sejarah dan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara.

“Sukarno dan semua pendiri bangsa ini adalah figur-figur yang taat beragama. Jadi, saya yakin tidak kebetulan Pancasila terdiri dari lima sila. Persis seperti rukun islam yang juga ada lima. Kelima Sila dalam Pancasila juga mencerminkan semangat dan cita-cita membangun masyarakat beradab yang memiliki lima karakter. Yaitu religius, seperti dicerminkan sila pertama. Humanis seperti yang dicerminkan sila kedua. Bersatu seperti yang dicerminkan sila ketiga. Demokratis seperti dicerminkan sila keempat. Dan adil seperti yang dicerminkan sila kelima.

Kesimpulannya, semua norma dan nilai dalam Pancasila selaras dan senafas dengan semangat Islam dalam membangun Masyarakat Madani,” jelasnya.
Sementara itu, Hidayatullah yang memiliki latar belakang sarjana hukum, lebih banyak menguraikan masalah sejarah dan kedudukan UUD 1945 sebagai kodivikasi hukum tertinggi di negeri ini. menurutnya, UUD 1945 merupakan konstitusi yang paling fundamental sekaligus mendasari semua undang-undang yang lain.

“UUD 1945 adalah panduan paling esensial dalam penyelenggaraan negara. Oleh karena itu, jika ada peraturan perundang-undangan yang dipandang tidak sejalan dengan UUD 1945, rakyat Indonesia diberi kesempatan untuk mengujinya di Mahkamah Konstitusi. Jika terbukti maka undang-unadnag atau pasal dalam suatu undang-undang pasti dicabut oleh MK. Sudah banyak contohnya,” jelasnya.

Setelah kedua pemateri selesai menyampaikan paparan, para peserta diberi kesempatan untuk melakukan sesi diskusi. Uniknya, sebelum mengajukan pertanyaan, semua peserta mengaku senang dengan sisipan sosialisasi empat pilar kebangsaan dalam rangkaian acara Musda. “Penyisipan acara sosialisasi empat pilar kebangsaan dalam acara Musyawarah Daerah ini, saya yakini dapat memperkaya dan memberikan perpektif yang lebih luas bagi kita semua dalam merancang kebijakan ormas, dan mendiskusikan ragam persoalan keumatan. Ada perspektif kebangsaan dan hukum memberikan kami referensi dalam mengambil keputusan strategis untuk kepentingan umat ke depan,” kata penanya yang diamini oleh peserta yang lain.

Setelah sesi tanya jawab selesai, Dedi Islandar tidak langsung meninggalkan lokasi. Ia masih memberikan kesempatan kepada para peserta untuk melakukan diskusi-diskusi informal dengan beberapa peserta.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *