Catatan Asep Lukman : Hari Lahir Pancasila, Benarkah Pancasila Ideologi Negara

FOKUSATU-Kita sepakat, hidup perlu pemimpin sebab hidup memang wajib dipimpin dan terpimpin”

Teringat pada peristiwa hebohnya bangsa Indonesia soal RUU HIP. Sejujurnya menurut saya, hal tersebut tidak ada korelasinya dengan kesejahteraan masyarakat. semua itu hanya permainan para pejabat yang hidupnya sudah jauh lebih makmur. Namun bagi masyarakat, hal tersebut sungguh tidak ada urgensinya. Jika dilihat dari prespektif Masyarakat biasa, Masalah Dasar negara ini mau dirubah trisila atau ekasila, dan atau mau tetap pancasila, sama sekali tidak ada pengaruhnya. kenapa? karena yang menjadi pertanyaannya; apa betul pancasila itu ideology negara, paham negara dan atau sistem negara..? saya bertanya sekali lagi, kata siapa..? Mohon jangan sampai disalah artikan. Karena samasekali saya tidak sedang bermaksud merendahkan pancasila. Ini hanya gugatan pribadi sebagai warga masyarakat yang meinginginkan hidup dipimpin dan terpimpin, diatur dan teratur.

Kita tentu sering bicara soal ideology, soal paham dan soal sistem kekuasaan. Namun pernahkah kita berpikir dan bertanya tentang rasa ideology, rasa paham dan rasa aturan yang dianut oleh negara? kenapa yang diperbincangan itu hanya melulu tentang luarnya saja, sementara isinya yaitu “rasa” malah diabaikan seperti dianggap sesuatu yang tidak penting. Padahal yang kita harapkan bukan hanya soal bentuk ideologinya terlebih hanya suatu terminologi semata, tapi intinya adalah rasa dari ideology itu. Karena “rasa” itulah yang seharususnya benar-benar mewujud dalam kehidupan berbangsa sehingga bisa dinikmati warga masyarakatnya.

Ilustrasinya. Bagi orang yang pernah menyantap Jeruk Garut asli, pasti sangat hapal rasanya. Nah, bagi yang belum saya dapat mengabarkan. Jeruk garut yang asli itu rasanya manis, sedikit keasam-asaman, rasanya tiada banding. Artinya, Jeruk Garut hadir dimuka bumi memilki visi kebaikan dan kebahagiaan manusia. Makana lebih dalamnya, bahwa jeruk Garut memilki ideologi dan “rasa ideologi”nya itu manis sedikit keasam-asaman. Karena rasa segar itulah kafilah yang sedang kehausan di gurun pasir sudah pasti akan bergegas ingin langsung menyantap jus nya.

Lalu, rasa ideologi pancasila itu seperti apa ?,
Siapa yang mamumpu menjelaskannya !.
apakah pertanyaan Ini tidak penting, atau justru lebih penting ditanyakan terlebih dahulu ?

Sebelum lebih jauh membahas pertanyaan di atas, mari kita perhatikan dengan seksama terkait fakta penguasa negara serta aturanya

Saudara sekalian, Sesunggunnya semua pemimpin negara etah itu president, perdana mentri ataupun raja, padadasarnya adalah “pembisnis atau pedagang” yang memiki modal awal yang sama, yaitu sebagaimna di negara kita, pasal 33 ayat 1-3 UUD 45. sehingga yang senantiasa mereka perhatikan, senantiasa mereka urus dan yang senantiasa dihitung-hitung adalah pergerakan ekonomi baik makro atau pun mikro, yang konon katanya sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Meskipun kalau lihat fakta, Kalimat “sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat” hanyalah basa-basi para petinggi. Kenapa demikian ?. Sebab pastinya janji -janji itu akan sangat sulit terpenuhi. Namun demikian bukan lah berarti mereka tidak punya itikad untuk mensejahterakan masyarakatnya.

Artinya, Seluruh penguasa negara dalam mencari keuntungan materi caranya sama yaitu memonopoli dengan cara membuat aturan yang mereka sepakati sendiri. Dan Praktek-praktek monopoli itu setidaknya ada tiga kelas, pertama, praktek monopoli kelas internasional, yang otoritasnya hanya bisa dilakukan oleh negara adidaya. kedua, praktek monopoli kelas regional yang otoritasnya dilakukan negara-negara kuat, dan yang ketiga praktek monopoli kelas nasional yang otoritasnya dilakukan oleh tiap-tiap pemimpin negara terhadap rakyatnya masing-masing.

Dapat disimpulkan, bahwa semua negara hakikatnya menganut ideologi atau paham yang sama yaitu paham materialisme monopolisme. Karena itulah standar kemajuan suatu negara senantiasa diukur oleh kekuatan APBN-nya. Dan siapa yang paling besar, maka dialah adikuasanya.

Kalau kita jeli membaca. Kenapa program yang dijalankan pemerintah pada masyarakatnya, tidak mampu memperbaiki keadaan namun sering menimbulkan masalah. Jawabanya, karena program pemerintah itu dasarnya hanya untuk mempertahankan eksistensi Lembaga negara. Dengan kata lain, bukan semata-mata bertujuan mensejahterakan rakyatnya. Begitupun program yang dilakukan negara-negara kuat terhadap negara-negara lemah, tujuanya bukan untuk mensejahterakan negara-negara lemah tersebut.

Dan prilaku-prilaku seperti di atas itu sama sekali bukan murni lahir atas inisiasi pribadi para pemimpin negara, tapi merupakan suatu keharusan, pengejawantahan dari mendset sistem materialisme monopolisme yang dianut oleh seluruh negara di dunia sekarang ini.

Bersambung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *