Catatan Asep Lukman : Apakah Klaim Pancasila Pemersatu Bangsa Itu Benar Adanya?

FOKUSATU-Jujur saya tentu tidak bisa menolak fakta sejarah yang mengatakan bahwa NKRI ini dibangun oleh para pendiri dengan berazaskan pancasila. Dan karena hal itu lah pancasila diklaim sebagai alat perekat pemersatu bangsa yang heterogen.

Namun dibalik panjangnya cerita sejarah, wajar jika setelah melihat fakta hari ini logika saya jadi bertanya; “apa betul dulu yang mempersatukan hetorogennya bangsa ini adalah pancasila?

Kenapa saya bertanya begitu, karena jika memang betul pancasila sebagai pemersatu bangsa, lalu kenapa sekarang pancasila tidak memiliki konsep yang jelas, bisa diterima semua pihak dalam menyelesaikan polemik konflik yang memanas seperti yang kita rasakan saat ini. karena memang faktanya demikian, pertanyaannya, sebenarnya kekuatan apa sih waktu dulu itu yang mempersatukan bangsa ini mendirikan NKRI.

Kita mungkin lupa tidak melihat soal parahnya masalah pergeseran moral yang terjadi hari ini. Dimana sifat-sifat keluguan kita selaku bangsa timur dan yang dicitrai sebagai bangsa ber-Tuhan kini kondisinya sudah jauh berubah menjadi bangsa yang cepat memanas ketika terjadi gesekan-gesekan kecil. Artinya yang ingin saya katakan bahwa sifat keluguan, kesopanan, kesantunan, keramahan dan keadaban moral bangsa kita pada waktu dulu, itu salah satu factor yang sangat besar dalam menunjang terciptanya NKRI yang hitorogen ini. dimana sifat-sifat baik yang tumbuh subur dalam jiwa-jiwa bangsa kita pada waktu dulu, itu sama sekali bukan tercetak oleh ajaran moral pancasila yang baru lahir di tahun awal kemerdekaan itu, tapi murni terbentuk oleh dasar-dasar ajaran keyakinannya masing-masing yang mayoritas menganut ajaran Islam.

Seiring berjalannya waktu dan cerita tentang panjangnya usia sistem matrealisme yang dianut masyarakat dunia tanpa disadari pengaruhnya semakin memperparah moral-moral bangsa ber-Tuhan. Bahkan krisis kepercayaan yang terjadi sekarang ini bukan hanya menimpa pada tokoh-tokoh negarawan tapi justru menimpa pula terhadap tokoh-tokoh agamawan.

Atas alasan itu, sekarang apa yang disebut-sebut pancasila itu pastinya akan kesulitan mengatasi polemik konflik yang sarat sara sebab pada hari ini citra tokoh-tokoh agamawan sudah pudar tergerus oleh besarnya arus demokrasi yang semakin kuat membentuk nalar-nalar manusia menjadi materialistis. “Benar-benar” “sungguh” “sangat” “amat” mengkhawatirkan saudara.

Berbeda dibanding dahulu dimana kharismatik tokoh-tokoh agamawan mutlak dipandang sebagai panutan sehingga setiap ucapannya senantiasa didengar. Dan itulah salah satu faktor terbesar yang mendorong terciptanya NKRI yang hetorogen ini.

Faktor kedua, bahwa terbentuknya NKRI ini dahulu itu besar juga dipengaruhi oleh kuatnya desakan suatu rasa yaitu “Rasa senasib sepenanggungan” yaitu merasa kesal jengkel ingin cepat-cepat bebas dari jeratan para penjajah, selebihnya dipengaruhi juga oleh kondisi konstalasi politik internasional yang pada waktu itu semua masyarakat dunia sudah berjanji membuat agreement untuk menyudahi semua bentuk aktivitas colonial. artinya yang ingin saya katakan, hal tersebut mendorong dimana hasil rumusan-rumusan pancasila yang digagas oleh para proklamator akhirnya “diterima disepakati” oleh bangsa yang hetorogen ini.

Faktor ketiga, bahwa terciptanya NKRI ini tentu tidak lepas juga dari besarnya peran para politisi katakanlah yaitu Bung Karno, Muhammad roem, hatta, Natsir, Hasyim asyari, Sudirman dll. atas kecerdasan Soekarno cs khususnya dalam mengkomunikasikan soal kemerdekaan dan soal azas pancasila itu terbukti berhasil karena memang tertunjang juga oleh faktor kondisi yang ada pada saat itu.

Hal lain yang paling penting untuk kita catat yaitu karena sosok tokoh tokoh politik pada waktu dulu memiliki kharismatik yang sangat kuat sehingga pasti mereka akan memiliki pengaruh yang besar dalam mengkondisikan soal pendirian NKRI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *