Yudhi Kurnia : Menjadi Guru Yang Motekar Di Abad 21

FOKUSATU-Guru saat ini sudah menjadi sebuah profesi, karena sudah bagian dari profesi maka guru-guru diharuskan untuk bisa menjadi profesional dalam menjalankan aktifitasnya. Salah satu ciri guru profesional adalah dengan telah memiliki sertifikat profesi guru. Tentu saja dengan kepemilikan sertifikat tersebut guru-guru wajib untuk menjalankan profesinya secara profesional. Biasanya, setelah sertifikat dimiliki maka dengan sendirinya akan juga mendapatkan tunjangan sertifikasi. Jika sudah demikian maka guru tersebut sangat diharapkan mampu berkontribusi lebih dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, yaitu dengan pengabdian dan kesungguhan dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai seorang guru yang mendidik.

Seorang guru tidak boleh berhenti untuk belajar. Ilmu yang dibagikan harus berimbang dengan ilmu yang ia cari dan dapatkan dengan cara terus menerus belajar dan mencari informasi yang bermanfaat. Guru harus mampu berinovasi dan menghasilkan karya-karya kreatif. Karya tersebut tentunya erat dengan kaitan dalam peningkatan mutu Pendidikan atau pembelajaran yang dia ampu.

Seorang guru haruslah “Motekar”. Motekar diambil dari kata di Bahasa Sunda yang kurang lebih mengandung arti senantiasa berinovasi dan berkreasi. Motekarnya seorang guru sangat dibutuhkan dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran. Apabila seorang guru bisa “motekar” maka pembelajaran yang diberikan akan sarat dengan makna dan juga nilai-nilai. Hal ini disebabkan adanya upaya untuk terus mencari pola atau bahkan teknik agar pembelajaran yang diberikan mampu diserap dengan maksimal, tidak membosankan dan tentunya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata motekar adalah mampu menjalankan berbagai usaha untuk menambah pengetahuan atau untuk meningkatkan kehidupan. Melihat dari kandungan arti motekar tersebut maka ada sebuah kata yang menjadi pendorongnya yaitu usaha.

Pilar pembelajaran yang diberikan kepada para peserta didik itu meliputi aspek Kognitif, Psikomotor dan juga Afektif wajib untuk terus diaplikasikan dan diselaraskan satu sama lain. Seorang guru yang motekar harus mampu melahirkan, atau paling tidak menerapkan teknik pembelajaran yang mampu menginspirasi peserta didik. Seorang guru tidak boleh abai pada permasalahan yang dihadapi oleh peserta didiknya. Ia harus bisa melihat kendala yang dihadapi oleh para peserta didik yang kemudian mencari solusi dari kendala yang dihadapi dengan cara berinovasi dan berkreasi. Melahirkan peraga Pendidikan menjadi satu ciri lain dari guru yang motekar. Alat tersebut tidak melulu harus mahal, tidak jarang dengan harga yang relatif murah bahkan gratis satu alat mampu mengantarkan sebuah pembelajaran menjadi lebih efektif sekaligus mudah untuk dipahami.

Pemanfaatan Teknologi
Salah satu ciri ke-motekar-an seorang guru adalah ia mampu untuk memaksimalkan fungsi kerja dari teknologi. Teknologi tersebut baik sisi hardware (perangkat keras) atau software (perangkat lunak). Kehadiran smartphone di satu dekade terakhir ini telah mengubah aktifitas pendidikan, baik dari sisi pemberi kebijakan ataupun dari pelaksana lapangan yaitu sekolah melalui guru-gurunya. Informasi-informasi terkait kebijakan saat ini sudah disampaikan dalam bentuk e-book yang bisa ambil ataupun baca dengan penggunakan media internet dan perangkat smartphone. Bahkan, tak jarang aplikasi-aplikasi hasil besutan dari Kementerian Pendidikan telah banyak dimanfaatkan baik untuk keperluan administratif ataupun untuk pembelajaran di kelas.
Dilihat dari sisi guru, adanya perkembangan teknologi sebetulnya sebuah jalan lain yang efektif dalam rangka pengembangan ke-motekar-annya. Ia harus mampu belajar yang selanjutnya memanfaatkan dengan tepat. Jangan sampai kecanggihan teknologi saat ini tidak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh seorang guru. Inilah salah satu tanda jika guru tersebut belum motekar. Guru tidak boleh kalah cepat oleh peserta didiknya terutama dalam pemahaman tentang teknologi. Meskipun tak jarang guru-guru yang hadir saat ini bukanlah terlahir dari zaman millennium baru, akan tetapi seorang guru mempunyai modal yang harus dimanfaatkan dan diasah terus menerus, yaitu ia tidak pernah berhenti untuk belajar. Sehingga dengan kelebihan sifat tidak berhenti belajar inilah maka guru harus bisa terus untuk belajar.

Guru yang adaptif terhadap perkembangan informasi
Selain dari mampu memanfaatkan teknologi salah satunya adalah smartphone seorang guru juga wajib untuk terus beradaptasi dengan perkembangan informasi yang kekinian. Seorang guru motekar tidak boleh “Kudet” atau kurang update. Istilah kudet disematkan untuk sesiapa yang tidak mengetahui informasi kekinian, informasi tersebut terkait dengan isu yang berkembang saat ini. Tidak jarang pengetahuan guru yang kekinian tersebut mampu menjadi jalan masuk terhadap bagaimana menyampaikan materi kepada peserta didik agar mudah dipahami.

Selain tidak kudet, seorang guru juga harus bisa memilah dan memilih informasi-informasi yang saat ini tengah berkembang. Seperti kita ketahui bersama bahwa banyak sekali informasi yang tidak benar atau dengan kata lain disebut dengan informasi hoax. Informasi hoax adalah informasi yang tidak jelas kebenarannya, bahkan cenderung palsu dan menyesatkan. Bahkan, tidak jarang karena berita bohong atau hoax tersebut jatuh korban jiwa. Baru-baru ini ada seorang ibu yang menuduh tetangganya memelihara babi atau babi ngepet hanya karena terlihat tidak pernah bekerja namun memiliki banyak uang. Tentunya, menuduh seperti itu dan menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya tersebut dapat membuat orang lain celaka atau bahkan korban jiwa.

Seorang guru juga harus bisa dan mampu beradaptasi dengan informasi tersebut dan menyaringnya dengan ilmu-ilmu yang sudah ada, atau setidaknya berhati-hati saat menerima dan menyebarkan informasi tersebut. Selain itu, harus juga bisa memberikan pencerahan kepada para peserta didik terkait isu atau informasi yang berkembang saat ini. Sehingga, para peserta didik mempunyai tempat untuk bertanya terkait perkembangan informasi, yang bisa jadi merupakan informasi yang perlu sekali untuk disaring agar tidak terjadi disinformasi.

Kehadiran guru yang mampu adaptif dalam segala hal yang berkaitan dengan perkembangan informasi yang berkembang saat ini akan mampu menyadarkan para peserta didik untuk ikut perhatian dan juga tidak mudah termakan informasi yang tidak baik atau informasi bohong. Sehingga, guru dan juga peserta didik senantiasa menjadi melek literasi.

Guru yang menjadi penulis
Berbicara tentang informasi yang berkembang saat ini, maka kita akan selalu dihadapkan dengan dua sisi informasi. Setidaknya itulah yang dirasakan saat ini di mana sudah banyak sekali berita-berita bohong atau hoax yang beredar di linimasa. Seperti yang sudah dijelaskan di atas tidak sedikit yang telah memakan korban karena berita hoax tersebut. Sebagai seorang guru yang Motekar tentunya harus juga ikut berkontribusi dalam memberikan pencerahan-pencerahan dengan dasar-dasar ilmu yang jelas. Guru harus banyak membuat tulisan atau menulis, sebagai bentuk dari profesionalitas guru dalam mengemban amanah mendidik, maka menulis menjadi satu hal yang wajib untuk dilakukan. Salah satu keuntungannya adalah tulisan-tulisan guru harus menjadi rujukan untuk peserta didik pada informasi yang valid atau informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Laman media sosial, weblog, ataupun kolom koran menjadi lahan yang sangat efektif bagi guru untuk membagikan pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat untuk semua kalangan, bukan hanya untuk siswanya akan tetapi bisa dimanfaatkan untuk seluruh lapisan masyarakat. Guru yang menjadi penulis mempunyai nilai tambah dalam perjalanan kariernya sebagai seorang guru. Ilmu yang dia punyai tidak sebatas hanya di ruang kelas, akan tetapi mampu menjangkau semua kalangan. Terlebih jika tulisan yang dibuat berhasil dimuat di koran-koran lokal maupun nasional, tentunya mempunyai kredit tersendiri, sekaligus menambah kepercayaan terhadap keilmuan yang diampunya.

Selain media koran, guru juga bisa memulai aktitifas menulis di laman sosial media atau dengan membuat laman blog yang bisa didapatkan secara gratis. Bahkan, jika mampu dikelola dengan baik dan disiplin tak jarang hasil karya buku dari seorang guru terlahir dari kebiasaannya menulis di laman media sosial, atau weblog.

Bagi saya menjadi guru motekar bisa dilakukan dengan keikhlasan berbagi melalui media tulisan. Membuat tulisan yang bagus itu tidak instan, perlu yang namanya Latihan panjang, kesabaran yang tiada batas, dan keikhlasan berbagi yang sangat tinggi. Melalui aktifitas ini seorang guru pastinya tidak pernah berhenti untuk belajar. Karena, tulisan-tulisan yang lahir itu awalnya memerlukan ilmu-ilmu yang harus dipelajari terlebih dahulu.

Mari segera untuk menjadi guru yang motekar, kuncinya adalah jangan pernah berhenti untuk belajar. Jadikan ruh semangat berbagi menjadi faktor pendorong ke-motekar-an seorang guru. MARI BERBAGI.

*Yudhi Kurnia, S.T.,Gr
Guru SMP Muhammadiyah 8 Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *