Yudhi Kurnia : Membentuk Karakter Dengan Aktifitas Filantropi

FOKUSATU-Salah satu dari tujuh alasan yang diungkapkan oleh Thomas Lickona tentang pendidikan karakter (character education) adalah pendidikan karakter merupakan cara paling baik untuk dapat memastikan para murid itu memiliki kepribadian serta karakter yang baik dalam hidupnya. Sekolah menjadi satu lembaga yang juga mempunyai peranan dalam penerapan pendidikan karakter. Setiap aktifitas sekolah harus bisa menjalankan bagaimana pendidikan karakter tersebut diimplementasikan, baik dalam ruang kelas ataupun di luar kelas. Tentunya pendidikan karakter harus juga mampu dirasakan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan seterusnya. Hal ini berarti pendidikan karakter harus teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Terdapat delapan belas nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari Agama, Budaya dan Pancasila diantaranya : Kejujuran, Sikap toleransi, Disiplin, Sikap demokratis, Rasa ingin tahu, Semangat kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Kerja keras, Kreatif, Kemandirian, Sikap bersahabat, Cinta damai, Rasa tanggungjawab, Religius, Gemar membaca, Peduli terhadap lingkungan, Peduli sosial. Sekolah mempunyai tugas untuk mengembangkan dan melatih dari nilai-nilai karakter tersebut. Biasanya beberapa nilai karakter akan disematkan ke dalam pembelajaran di dalam kelas ataupun di luar kelas. Nilai tersebut harus tercatat di dalam rencana pembelajaran yang dibuat oleh sang guru. Hal ini menandakan bahwa nilai karakter menjadi hal yang sangat penting untuk dilatihkan kepada para peserta didik.

Diantara nilai karakter yang disebut di atas, ada yang selaras dengan nilai-nilai yang juga ada dan terdapat dalam Surat Al-Ma’un. Surat ke-107 dalam Al-Qur’an ini terdapat 7 ayat. Surat Al-Ma’un menerangkan mengenai beberapa sifat atau watak manusia. Surat Al-Ma’un memiliki makna mendalam untuk direnungkan setiap umat muslim. Surat ini sangat berkaitan erat dengan kehidupan. Dalam surat ini kita diajarkan tentang pentingnya untuk menjaga sifat kemanusiaan diantara manusia, yaitu untuk mengasihi dan memberi terhadap sesama.

Hal ini pula yang mendorong berbagai macam lembaga menjalankan aktifitas kemanusiaannya dengan menjalankan berbagai aktifitas yang erat dengan semangat yang diajarkan oleh Surat Al-Ma’un yaitu dengan menjalankan apa yang disebut dengan filantropi.

Filantropi (bahasa Yunani: philein berarti cinta, dan anthropos berarti manusia) adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal. Biasanya, filantropi seorang kaya raya yang sering menyumbang untuk kaum miskin.

Sebetulnya semangat filantropi sudah kita semua rasakan semenjak masih duduk di bangku sekolah dasar dahulu, atau juga pada tingkat taman kanak-kanak. Seringkali pada saat teman satu kelas kita tertimpa musibah, baik itu sakit, ataupun ditinggalkan anggota keluarga, atau tertimpa musibah yang lain. Maka, guru kelas kita akan meminta kita untuk memberikan sumbangsihnya dalam rangka membantu teman yang saat itu sedang kesulitan. Bahkan, tak jarang sekolah yang menjalankan program kas kelas. Para siswa diminta untuk mengisi kas kelas tersebut setiap hari atau minggu, apabila dibutuhkan maka kas tersebut dapat dipergunakan. Melihat dari contoh tersebut, semangat untuk berbagi di kalangan dunia pendidikan sudah dilatihkan semenjak dini. Hanya saja, saat itu kita semua belum memahami secara baik.

Semangat bahu-membahu dalam berbuat kebaikan adalah salah satu nilai pembentuk karakter yang harus dan wajib dilatihkan sejak dini. Karakter baik peserta didik yang “Hampang Birit” atau cepat dalam memberikan bantuan patut untuk terus diajarkan. Nilai-nilai tersebutlah yang nantinya akan menjadi pondasi kemajuan sebuah bangsa. Bangsa yang dibangun atas dasar karakter akan menjadi bangsa maju, bukan hanya dari sisi fisik pembangunan namun juga dari sisi karakter warga bangsanya.

Kemudian bagaimana implementasi dari upaya memberikan pendidikan karakter dalam hal filantropi? Tidak sedikit sekolah-sekolah yang mengusung pendidikan melahirkan program-program pembelajaran yang erat kaitan dengan semangat ber-filantropi. Salah satunya seperti yang sudah disebutkan di atas mengenai kencleng kelas ataupun iuran kelas. Para peserta didik secara sukarela berlatih untuk menyisihkan uang jajan demi saudara-saudara yang membutuhkan. Sedangkan untuk peristiwa yang incidental semisal terjadinya musibah bencana alam, para peserta didik bisa dengan sukarela menyumbangkan berbagai barang yang dimiliki yang paling dibutuhkan menyangkut makanan, pakaian dan obat-obatan. Di samping memberikan bantuan secara pribadi juga filantropi bisa digelorakan dengan mengajak orang-orang untuk ikut berpartisipasi membantu yang terkena musibah misalnya dengan membangun posko-posko bantuan.

Tentunya kita semua berharap dan menginginkan bahwa diantara manusia satu sama lain dapat saling membantu. Saling meringkan beban satu sama lain. Agar kehidupan bisa terus terjaga. Hadirnya kepedulian sosial dalam semangat menjalankan perintah agama dalam aktifitas filantropi ini akan mewujudkan satu kehidupan yang harmonis. Orang yang mampu membantu orang yang tidak mampu dan meringankan beban sesama adalah sebuah keindahan dalam menjalani sebuah kehidupan. Seperti kita ketahui dalam ajaran agama islam ada 3 hal yang akan terus mengalir meski sudah meninggal dunia, salah satunya adalah shodaqoh jariyah (amalan sedekah), yang mana sedekah terdapat dalam semangat ber-filantropi.

Pergerakan filantropi sekolah tentunya juga harus mampu dikerjasamakan dengan lembaga-lembaga khusus yang erat kaitan dengan pengumpulan dana umat semisal lembaga amil zakat. Hal ini lebih dikhususkan agar bantuan ataupun sumbangsih dari peserta didik bisa tepat sasaran dan secara jumlah bisa lebih besar karena diakumulasi dengan pihak lain. Hal ini juga memudahkan untuk proses audit dan transparansi kegiatan agar tidak muncul hal-hal yang tidak diinginkan tentang penggunaan dan penyaluran dari hasil filantropi yang telah dilaksanakan.

Mari kita terus menggelorakan semangat saling membantu, selain berpahala, membentuk karakter siswa, juga akan merawat kehidupan ini untuk senantiasa harmonis. SUDAHKAH KITA MEMBANTU?

Penulis Oleh : Yudhi Kurnia, S.T.,Gr
Guru SMP Muhammadiyah 8 Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *