Kolaborasi Orang Tua Dan Guru Untuk Pendidikan Di Masa Pandemi

FOKUSATU-Di tengah gejolak pandemi, Kemendikbud mengupayakan agar kegiatan pendidikan tidak berhenti. Demi menjaga keselamatan bersama, kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan tatap muka kemudian dialihkan secara daring dengan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

PJJ yang diberlakukan semenjak bulan Maret 2020 mempercepat penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan, masyarakat harus beradaptasi dengan teknologi sebagai sarana belajar secara daring. Tidak hanya guru dan murid, orang tua juga memiliki porsi yang besar dalam membantu proses pembelajaran terutama bagi anak-anak tingkat sekolah dasar.

Sekilas, PJJ memang sebagai solusi mengatasi masalah pendidikan di tengah pandemi, namun ternyata diiukuti juga dengan permasalahan baru. Tidak semua orang tua memiliki gawai yang mendukung untuk kegiatan PJJ, kebutuhan kuota internet juga semakin meningkat, belum lagi dengan sebagian orang tua yang belum begitu familiar dengan penggunaan gawai. Selain itu, antusias dan konsentrasi anak-anak dalam pembelajaran di rumah juga dirasa menurun dibandingkan jika belajar tatap muka di sekolah.

Mengutip dari laman sindonews.com, Respaniwati yang anaknya duduk di kelas tiga SD mengaku bahwa dirinya kesulitan menciptakan suasana belajar yang serius untuk anaknya seperti di sekolah. Ia mengaku anaknya akan main game di gawai jika tidak diawasi. β€œKalau di rumah belajarnya susah, tapi kalau di sekolah di bawah arahan guru mungkin dia ada rasa takut sehingga bisa belajar serius,” tuturnya.

Hal yang serupa dirasakan juga oleh Sumarni (32), seperti yang termuat dalam laman merdekabelajar.my.id, β€œKita harus stanby, dan kita juga harus menjadi guru, sedangkan cara penyampaian guru dan kita jelas berbeda,” keluh Sumarni.Bahkan, Retno Listiyarti, komisioner kimisi perlindungan anak menyampaikan bahwa setidaknya ada lebih dari 246 pengaduan sosal pembelajaran daring hingga agustus 2020. Keluhan serta sulitnya mendampingi belajar anak setidaknya membawa perspektif baru, menyadarkan para orang tua bahwa peran guru bukanlah peran yang mudah untuk diemban.

Bagi seorang guru, kecakapan pada ilmu pengetahuan menjadi bekal utama untuk mengajar siswa, sedangkan karakter yang baik menjadi modal utama untuk mendidik siswa. Tentu, menjadi seorang guru tidak hanya menyampaikan materi berupa ilmu pengetahuan yang teoritis, melainkan membimbing siswa agar memiliki karakter yang baik sesuai dengan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari.

Keadaan ini mengajarkan bahwa dibutuhkan kolaborasi antara guru dan orang tua dalam rangka mendidik anak-anak terutama di masa pandemi. Kesulitan yang dirasakan orang tua saat mendidik di rumah juga seharusnya mampu menggiring orang tua untuk menghargai dan mengapresiasi peran guru. Tetapi bagaimanapun, PJJ telah mengembalikan fitrah seorang ibu dan keluarga sebagai pendidik utama untuk anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *