Agus Fatah : Reader, Writer, Leader

FOKUSATU-SayaΒ suka membaca kata atau kalimat berima, salah satu kata yang saya suka adalah kata reader, writer and leader atau kalimat : reader is writer, writer is leader.

Saya menyukai tiga kata tersebut bukan hanya karena berima (berakhiran huruf r), tapi juga dikarenakan Ketiga kata tersebut mewakili concern dan passion saya dalam bekerja.

Setiap hari saya bekerja di 3 ranah tersebut : reader, writer dan leader. Sebenarnya masih ada satu lagi concern dan passion saya yaitu : conservation (konservasi). Insyaallah terkait konservasi (conservation), akan saya bahas dalam tulisan khusus.

Baik, kita kembali kepada 3 kata berima: reader, writer dan leader.
3 kata tersebut menurut saya bukan saja berima tapi juga memiliki ke dalaman makna. Menurut saya ke 3 kata tersebut terangkum dalam surah Al-Alaq ayat : 1-5 dan Al-Baqarah: 30-32.

Ketiga kata tersebut adalah 3 tema besar dalam Al-Quran yang menjadi misi para nabi dalam mengemban risalahnya.

Kata reader, writer dan leader dalam bahasa Al-Quran adalah iqro (read-reader), qolam (write -writer) dan Khalifah (lead- leader). Ke 3 kata tersebut bermakna : Iqra : membaca (read – reader : pembaca), qolam : alat tulis (write – writer : penulis) dan Khalifah : pemimpin (lead – leader).

Salah satu konsep dan tema besar (grand design) dalam Alquran adalah khalifah : kepemimpinan dan pemimpin (leadership-leader), namun konsep dan tema khalifah ini tidak akan tegak mewujud jika tidak didukung oleh konsep dan tema iqro dan qolam: baca dan tulis (read – write : reader-writer) Dengan kata lain konsep Khalifah (leadership) tidak akan tegak dan eksis tanpa dukungan konsep iqro dan qolam (literasi).

Oleh karenanya lembaga pendidikan sebagai wadah bagi lahir calon- calon pemimpin ummat harus mendorong lahirnya budaya iqro (membaca) dan qolam (menulis)

Budaya iqro dan qolam (literasi) harus ditumbuh kembangkan sejak dini di berbagai jenjang pendidikan dengan cara cara yang menarik dan berkesinambungan.

Tanpa kemampuan iqro dan qolam (literasi) lembaga-lembaga pendidikan hanya akan melahirkan calon calon pemimpin yang minim wawasan dan tak cakap menuangkan gagasan.

Tanpa kemampuan iqro dan qolam (literasi) kita hanya akan melahirkan generasi yang rabun membaca dan pincang menulis, demikian menurut Taufiq Ismail (Penyair Islami).

Para pemimpin bangsa dan ulama negeri ini adalah orang orang yang memiliki kemampuan iqro dan qolam (literasi) yang kuat. Lihat Soekarno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Agus Salim Muhammad Natsir, Buya Hamka dan masih banyak lagi lainnya. Mereka adalah sosok yang piawai dalam membaca dan menulis : menuangkan gagasan.

Jika kita ingin melahirkan kembali para pemimpin dan ulama besar, kita harus membesarkan secara konsisten dan berkelanjutan program -program iqro dan qolam (literasi) di berbagai jenjang pendidikan. Tentu dengan cara cara yang sesuai dengan kondisi masa kini.

“Reader is writer, writer is leader”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *