Aceng Nasir : PP Santri Pasundan Dan MCMI Jawa Barat Mengutuk Zionis Dan Ajak Membacakan Qunut Nazilah

FOKUSATU-Jauh Sebelum HAMAS ada, PBNU telah berjuang untuk Negeri Kelahiran Imam Syafi’i di Gaza-Palestina.

Sedikit singkat catatan sejarah agar kita khususnya umat Islam Indonesia tidak mengalami kontroversi pro Palestina atau Israel baik berlatarbelakang ormas apapun atau mazhab apapun, bukan persoalan agama namun lebih kepada aspek kemanusiaan dan bangsa Indonesia dalam UUD 1945 pada alinea pertama secara tegas mengatakan “Penjajahan di atas dunia harus di hapuskan” , kata Aceng Ahmad Nasir selaku ketua PP Santri Pasundan dalam release virtualnya, Senin, 05 Syawal 1442 H /17 Mei 2021.

Perbedaan pandangan ini di sebabkan karena banyak yang tidak memahami sejarah atau akibat propoganda pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab atas kepentingannya.

Dukungan “Indonesia” (saya beri tanda kutip, karena secara resmi Indonesia saat itu juga belum lahir) terhadap Palestina (tanpa tanda kutip karena entitas bangsa ini sudah lama ada); sudah nyata sejak awal. Tahun 1938, Hoofd Bestuur (Pengurus Besar) Nahdlatoel Oelama bersikap tegas. KH Hasyim Asy’ari mengajarkan untuk membacakan doa Qunut Nazilah untuk perjuangan Palestina melawan Zionis. Qunut ini bukan hanya saat Subuh, tapi dalam semua shalat 5 waktu.

Dan saat ini Kami dari Santri Pasundan dan Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCMI) Jawa Barat mengajak kepada kaum muslimin untuk bacakan qunut nazilah di tiap sholat wajib.

PBNU juga mengajak ormas Islam lainnya seperti Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis dll untuk melakukan aksi solidaritas serupa. Juga menyeru diadakannya Palestine Fonds (Dana Palestina). Semua cabang NU se-“Indonesia” diinstruksikan menjadikan 27 Rajab sebagai “Pekan Rajabiyah”
Pekan Rajabiyyah ini adalah perayaan Hari Isra’ Mi’raj yang digabungkan dengan aksi solidaritas Palestina. Maka tradisi perayaan Isra-miraj terus terlaksana hingga saat ini (bagi yang mengatakan bid’ah monggo evalusi lagi)

Bayangkan saat itu, Nusantara saja belum merdeka dari kolonial. Masih jadi bangsa kelas rendahan di Hindia Belanda. Namun jiwanya merdeka, sudah memikirkan bangsa lain.

Maka jika ada yang bertanya : “Ngapain bantu Palestina? Disini saja masalah banyak!” Gak paham dia dengan sejarah dan DNA asli Indonesia. Bangsa ini adalah bangsa yang peduli dengan kemanusiaan dan keadilan.

Aksi 1938 dari PBNU adalah contoh yang luar biasa.Bahkan sejak Indonesia belum bediri – apalagi Israel, Yahudi masih jadi pengungsi nyeker di tanah Palestina; bangsa kita sudah sangat peduli.

Padahal saat itu akses informasi sangat terbatas.beda dengan sekarang dengan berjibunnya medsos sangat mudah di akses apalagi jarak.

Palestina ribuan km jauhnya, hanya bisa diakses dengan kapal laut.Itupun penjajah Belanda masih bercokol kuat di negeri ini.

Di Palestina, Inggris sedang berkuasa (akibat kekalahan Turki Utsmany dalam Perang Dunia 1). Bangsa Nusantara miskin dan terjajah. Bayangkan sulitnya.

Tapi semangat solidaritas tetap membara.
Ulama-ulama NU terkenal gemar menulis buku. Termasuk pula buku tentang Palestina.

Tahun 1947 – israel belum berdiri – bidang Penerbitan-Penjiaran PBNU menerbitkan buku “Palestina Dari Zaman ke Zaman” karya KH Saifudin Zuhri.
Mengapa bangsa kita amat peduli dengan Palestina sejak lama?

Mungkin salah satunya faktor sejarah dan mazhab Syafi’i yang dianut kaum Muslimin disini.
Faktor sejarah; banyak Wali yang berdakwah dan mengajarkan Islam di Nusantara, datang dari Palestina. Salah satunya Syaikh Ja’far Shadiq yang dikenal dengan nama Sunan Kudus.

Nama Kudus sendiri merujuk dari kota Al-Quds, kota suci yang ada di Palestina

Sunan Kudus mendirikan Masjid di tengah kota, digunakan beliau juga sebagai pusat dakwah. Nama resmi masjid yg terkenal dengan menara-nya itu adalah Masjid Al Aqsa, merujuk Masjid suci yang berdiri di Al Quds (Jerusalem) Jadi replikasi Palestina di tanah Jawa sudah terjadi, seiring massive-nya dakwah yang dilakukan para Wali.

Kalau bahasa zaman sekarang : sister city. Al Quds, Al Aqsa dan Moria di Palestina, diduplikasi di tanah Jawa oleh para Wali. Bisa jadi pula, kedekatan ini karena mazhab yang dianut sama-sama Syafi’i.

Imam Syafi’i sendiri lahir di Gaza, walau beliau bukan orang Palestina. Kelak, banyak ulama mazhab Syafi’i lahir di Palestina. Salah satunya Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, asli Asqalan (Ashkelon)
Dua kitab karya Imam Ibnu Hajar Al Asqalany yang cukup masyhur dan diterjemahkan di Indonesia : kitab Fathul Bari dan Bulughul Maram.

Mungkin karena kesamaan madzhab inilah, para jamaah haji Indonesia saat itu nyambung dengan jamaah Palestina.

Intinya, kepedulian bangsa Indonesia terhadap Palestina sudah berlangsung sejak lama. Sejak pecah bentrokan Palestina – Yahudi akibat eksodus mereka dari Eropa. Bahkan saat itu, Indonesia & Israel sama-sama belum eksis.
Dan dukungan ini tidak bertepuk sebelah tangan. Sejak 1944, Imam Besar Masjid Al Aqsa sekaligus Mufti Palestina : Imam Amin Husaini menggalang opini bangsa bangsa Arab untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Beliau berpidato di Radio Berlin mengabarkan hal ini. Foto bersama Imam Amin Al Husaini dan Ali Taher, pengusaha besar Palestina berfoto bersama Pimpinan Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia pasca lolos dari penangkapan Sekutu. Beliau dilindungi Raja Faruk (Mesir).
Muhammad Ali Taher sendirian memberikan donasi yang luar biasa besar bagi pemerintah RI yang baru saja terbentuk.

Dalam foto di bawah ini, Menlu Arab Saudi : Pangeran Faisal (kelak menjadi Raja yang berjasa besar bagi ummat), berbincang dengan H Agus Salim dalam pengakuan kemerdekaan Indonesia. Di samping Pangeran Faisal, duduk Imam Amin al-Husaini.

Jadi hubungan Indonesia-Palestina sudah terjalin sangat baik sejak lama. Sejak Islam didakwahkan di bumi Nusantara ini, berlanjut saat Yahudisasi dimulai, terus saat Proklamasi Kemerdekaan Revolusi Fisik, Konferensi Asia Afrika hingga hari ini. Jadi, orang Islam Indonesia yang mencela Palestina; berarti sama sekali gak paham sejarah dan DNA asli Indonesia. Patut dipertanyakan ke-Indonesia-annya.

Apalagi kalau bilang HAMAS adalah sumber masalah Palestina.

Helloow, HAMAS itu baru nongol 1987. Sementara PBNU sudah melek masalah Palestina dan sigap mensupport-nya sejak 1938.
Sejak 1938 siapa biang masalahnya kalau gitu?
Lagian lucu. Yahudi Israel ini sebenarnya sekuler total. Atheisnya juga berjibun.

Tapi kalau ditanya kenapa menduduki Palestina? “Ini tanah yang diberikan TUHAN kepada kami” jawabnya.

Lho? Katanya gak percaya Tuhan?
Itulah liciknya Yahudi bahkan dia tidak berani menyebut nama negaranya adalah Zionis tapi nama Israel yaitu nama lain dari nabi Yaqub AS .

Wallohua’lam

Aceng Ahmad Nasir :Ketua PP Santri Pasundan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *