Dedi Iskandar Batubara Terangkan Urgensi Prinsip Bhineka Tunggal Ika Dalam Hadapi Pandemi

FOKUSATU-Dedi Iskandar Batubara, anggota DPD RI dari Provinsi Sumatera Utara, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan pada Sabtu (13/03/21), di Asrama Haji Medan Sumatera Utara. Acara ini dihadiri oleh sekira 150 pengurus Pimpinan Wilayah Al Washliyah Sumatera Utara, berikut kader Al Washliyah yang tinggal di kota Medan.

“Pada acara kali ini, saya sengaja mengundang pengurus wilayah berikut kader Al Washliyah yang di tinggal di kota Medan. Bukan bermaksud eksklusif. Tapi untuk memberikan rasa tenang dan nyaman kepada peserta. Karena dalam masa-masa seperti ini, kita harus hati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena semua peserta acara ini saling kenal, jadi saya yakin, kita semua lebih tenang,” Dedi Iskandar menjelaskan maksudnya membatasi peserta acara.
Dalam paparannya, Senator yang akrab disapa Bang Dedi menjelaskan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kerangka ke-Bhinneka-an dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda dunia.
“Saat ini, semua masyarakat di seluruh dunia mengalami kesulitan. Tidak hanya warga Sumatera Utara saja. Tapi semuanya. Perekonomian terpuruk. Banyak industri gulung tikar, dan angka PHK lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Kita semuanya sama-sama mengalami kesulitan dan menderita. Dalam kondisi seperti ini, bangsa kita memiliki prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang bisa diterapkan. Artinya, kita utamakan kebersamaan dalam menghadapi kesulitan. Persis seperti yang dipraktikkan oleh para leluhur kita dulu saat menghadapi derita akibat penjajahan,” terang anggota DPD RI yang juga ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara.

Menurutnya, jika para leluhur mampu menyingkirkan ragam perbedaan untuk berjuang bersama menghadapi kesulitan, maka saat ini pun, kita harus bisa melakukan hal yang sama. Pasalnya, derita yang diakibatkan oleh penjajahan pada sektor ekonomi dan kesejahteraan, hampir sama dengan yang ditimbulkan oleh pandemi. Oleh karena itu, semua masyarakat harus bersatu menghadapinya. Melupakan perbedaan ras, suku, agama, golongan, dan lain sebagainya, untuk bisa saling membantu.

“Langkah paling sederhana yang harus dilakukan adalah, mengenali kondisi orang-orang di sekitar kita. Tetangga, saudara, kerabat, dan sahabat. Jika mereka mengalami kesulitan ekonomi akibat tidak bisa bekerja, maka kita harus memberikan bantuan semampunya. Jangan lihat golongannya apa. Tidak usah pedulikan agamanya apa. Jika dia mengalami kesulitan, bantu. Kalau tidak bisa membantu secara finansial, minimal bersimpati dan memberikan dukungan moral,” tambahnya.

Meskipun berlangsung dalam situasi yang kurang kondusif, peserta tetap terlihat antusias mengikuti acara tersebut. Antusiasme itu terlihat dari banyaknya peserta yang mengangkat tangan untuk bertanya, ketika sesi diskusi dibuka oleh moderator. Panitia harus menambah durasi acara menjadi tiga jam, agar semua peserta bisa mendapatkan jawaban atas seluruh pertanyaan yang mereka ajukan. Padahal, panitia hanya menjadwalkan acara tersebut berlangsung selama dua jam.

Setelah acara selesai, Dedi Iskandar masih memberikan waktu kepada sejumlah pewarta untuk menjawab pertanyaan mereka seputar perkembangan poitik nasional. “Sekarang kita tidak perlu membuang energi untuk membahas masalah-masalah sepele. Masyarakat sedang mengalami kesulitan. Mari satukan semua potensi untuk menggerakkan ekonomi, agar pandemi tidak membuat bangsa ini jatuh pada jurang resesi,” pungkasnya sambil berpamitan pada para kuli tinta.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *