Asep Lukman Pembina Perkumpulan Santri Pasundan : Jangan Biarkan Ridwan Kamil Masuk Neraka Karena Tepuk Tangan Para Pemujanya

FOKUSATU-Pada tanggal 11/2/2021 kami berhasil mewawancarai melalui virtual Pembina ormas Perkumpulan Santri Pasundan Asep Lukman, yang tinggal di daerah Priangan timur tepatnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat

Berikut ini isi wawancara kami bersama Asep Lukman atau kang Asluk panggilan akrabnya :

> Katanya banyak orang yang yang meminta konfirmasi pada anda, terkait kritikan pengurus perkumpulan santri Pasundan pada Gubernur Jawa Barat ?

Ya benar. Tapi tidak banyak, Hanya beberapa orang. Mungkin mengira saya terlibat soal keritikan-keritikan itu

> Sebenarnya anda terlibat, atau tidak ?

Saya adalah pembina dan pendirinya. Tapi bukan berati saya ikut terlibat pada kegiatan teknis pengurus. Di organisasi Saya hanya rajin mengisi kajian-kajian yang sipatnya umum saja.

> Jadi anda benar-benar tidak terlibat ?

Sebenarnya, kalau saya terlibat pun sangat tidak maslah kan ?, toh itu bukan siatu kesalahan. Wajar wajar saja di negara demokrasi.

Namun perlu diketahui juga, terkait isi keritikan para pengurus pada pemerintah Jawa barat, Hususnya soal dana bankeu, sebenarnya saya pun termasuk yang ikut mengajuakan pekerjaan paket penunjukan 200 jt an itu yang sumbernya bankeu provinsi atau APBD kabupaten. Tapi saya tidak ambil pusing, namanya juga demokrasi

> Kalau boleh saya tahu, Bagaimna pandangan anda sendiri pada kinerja kepemimpinan pak Ridwan Kamil yang sejak jadi walikota, katanya rajin membuat taman kota ?

Menurut saya tidak ada salahnya bersihkan kota demi keindahan, buat taman segede new York, air mancur dll.. Selama tidak melanggar aturan dan sesuai dengan budgeting..

> Sebagian orang yang menilai itu bukan program strategis, bgmn menurut anda ?

benar, hal tersebut minim bisa disebut program untuk masa depan, bukan juga untuk jangka panjang. Tapi bukan berarti tidak penting.

Kendati demikian seorang pemimpin tetap harus dingatkan, tidak seharusnya terlalu terlalap dalam aktivitas sementara, sempit, semu dan penuh eforia. seperti kebanggaan berlebihan pada program hias-hias kota, padahal itu hanya perilaku satu bidang kebersihan dan tata kota di dinas PU saja.

walikota, gubernur sampai Presiden sebaiknya tidak dikerdilkan dgn persepsi dan praduga bhw bikin bangku-bangku dijalan, bikin taman-taman ukuran mini, cat-cat kota tua dll adalah perilaku inti seorang penguasa dan Peminpin negara, apalagi dicitrai di sosial media seolah-olah telah sukses mengeksekusi seluruh tupoksinya ..

> Apa yang menyebabkan pemimpin daerah seperti itu, fakta di lapangan pak RK sangat populer ?

Sosok seperti pak Ridwan Kamil ini adalah personal yang lagi dipuji dan dipuja sebagain Masyrakat. Meski Tidak sedikit para pemuja itu hanya kalangan penonton yg gagal faham apa itu politik dan apa itu negara. Jadi wajar saja jika ada diantra mereka salah mengira

Namun sekalipun demikian: perlu diingat, lahirnya pemimpin hasil pencitraan media hususnya di daerah atau bahkan di dunia Ini terbidani oleh kekecewaan panjang masyarakat pada pemimpin sebelumnya yg Diaktori politisi atau orang orang partai, birokrat dan aparat yg malah gagal menciptakan janji kesejahtraan bagi masyarakatnya. Akibatnya mayarakat mencari alternatif meski dengan cara meraba-raba

> Kalau hal itu dibiarkan saja. Kira kira menurut anda apa yang akan terjadi pada negara ?

Sebenarnya. Bukan soal dibiarkan atau tidak. Hidup Ini selalu berproses. pada akhirnya Masyrakat akan menyadari sendiri tanpa harus dipaksa paksa. Cukup kasih penjelsan dengan santai misalnya lewat sosial media dan atau melalui diskusi-diskusi ringan pun sudah cukup.

Nanti, Akhirnya Masyrakat akan tahu, bahwa dengan terlalu meminimalisir karateria calon pempimpin itu artinya sedang menggiring negara pada kehancuran. Harusnya tidak ada teloransi untuk memberi kesempatan pada calon pemimpin yang minim kareteria

> Apakah ada sebab lainya selain itu ?

Sebabnya demokrasi liberal. Namun sejujurnya sebagaimna yang sudah saya katakan, Kedangkalan adalah sebab intinya. kalau sampai ada kasus bangga bahkan merasa jadi juara. padahal sebagai walikota, gubernur hanya naroh bangku2 di pinggir jalan, di tengah trotoar, Nyuruh orang duduk sambil nungguin tukang gerobak datang, ngeliatin kemacetan dan atau toko-toko yang kekurangan pembeli. Itu indikasi nyata adanya kedangkalan nalar kepemimpinan

Di lain pihak masalah yang substansial semisal perbaikan lingkungan, kesehatan, bencana kemiskinan dari tahun-ketahun tetap tidak ada kemajuan bahkan kualitasnya semakin menurun.

Namun para pempimpin malah doyan berdialektika palsu, rajin menghimpun para pemuja, upload photo dan video hasil editan agar terlihat seolah-olah sudah berhasil menyelesaikan masalah

> Lalu apa yang semestinya dilakukan oleh seorang pemimpin daerah itu ?

Dalam mengambil kebijakan publik itu yang diperlukan adalah wawasan strategis dan ini selalu jangka panjang.

Meski kita faham dengan solusi2 jangka pendek dan kosmetika seperti menanam pohon kaget, mengecat kembali plang-plang toko-toko tua dan memasang kursi di jalan itu memang seolah-olah perubahan sudah terjadi dan pekerjaan sudah berhasil…

> Apakah ada pesan yang ingin anda sampaikan pada pak gubernur Jawa barat ?

Saya setuju dengan ucapan salahsatu pengrus perkumpulan santri Pasundan saudara Agung Prakoso, ST. “Kita tidak boleh membiarkan pemimpin kita sendiri masuk neraka karena sebab tepuk tangan para pemujanya”. Ucapan seperti itu WARNING supaya kita memilki proteksi diri dalam era demokrasi setengah liberal ini.

> Pertanyaan terakhir. Apa tujuan anda mendirikan ormas perkumpulan santri Pasundan ?

Santri itu kan penyebutan budaya lokal. Kalau bahasa nasionalnya siswa atau mahasiswa intinya para pelajar.

Namun dalam sejarah bangsa, kaum santri itu sebutan bagi kaum muslim terpelajar yang kritis pada penjajah hususnya yang ada di tatar Sunda yang sekarang disebut Banten – Jakarta dan Jawa barat. tapi orang-orangnya bukan hanya yang keturunan suku Sunda saja, banyak juga yang berasal dari daerah dan suku lainnya namun jadi aktivis di Bandung dan Jakarta. Contohnya pak Sukarno dari Jawa, pak M. Nasir dari Sumatra. Dan memang keduanya pernah Nyantri atau belajar agama juga, misalnya pak Karno pada HOS Cokroaminoto dan A Hassan. namun terlepas dari itu, keduanya pun disebut kaum santri yang berarti orang yang keritis pada pemerintah Pada waktu itu

Jelas, Tujuan saya adalah menghimpun tradisi kritis itu, tapi dengan cara yang legal dan rasional. Namun demikian yang dimaksud bertindak kritis itu bukan “tan haa Anil Fah isya’i wa-Al munkar’i” yang artinya “mencegah kejahatan dan memberantas kemungkaran”, karena itu tugas, kewenangan dan hak penguasa atau pemerintah, sangat tidak realistis jika hal itu dilakukan masyarakat biasa.

Ada pun yang bisa kita lakukan sebagai Masyrakat biasa adalah “tawa sau bil haki, wa-tawa shau bis sobri” yang artinya “saling mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan dan kesabaran”. Proforsionalnya begitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *