M Shofa : Kenikmatan KLEPON Manalagi Yang Kau Dustakan..?

FOKUSATU-Seisi ruangan Istana Negara Republik Indonesia mendadak hening. Suasana yang tadinya cair, berubah menjadi kikuk. Betapa tidak, kue klepon yang digigit Imelda Marcos tiba-tiba muncrat. Cairan gula kelapa dari dalam jajanan pasar itu menyembur, mengenai pakaian ibu negara Filipina itu.

Orang yang paling tidak nyaman dengan peristiwa itu adalah Joop Ave. Wajah Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Republik Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soeharto itu pucat pasi. Maklum saja, ia adalah orang yang ikut bertanggungjawab terhadap acara jamuan itu, termasuk yang mengusulkan kue tepung berbalut kelapa dengan gula merah cair di dalamnya itu sebagai salah satu sajian untuk tamu negara.

Kejadian itu oleh Joop Ave diceritakan pada praktisi kuliner Indonesia, Lily Setiadinata. Bahkan Joop Ave menyarankan Lily agar tidak membuat klepon yang berukuran besar. Cukup sekali kunyah saja. Begitu saran Joop Ave padanya.

Peristiwa muncratnya gula yang mengenai pakaian ibu negara Filipina itu penulis dapat dari ulasan majalah Tempo edisi 14-20 Mei 2018. Seingat penulis, majalah ini pernah dibaca di atas KRL kala perjalanan dari Jakarta-Bogor sebelum Pandemi Covid 19 mewabah di tanah air.

Saat hari ini sedang ramai di media sosial terkait gambar yang diberi narasi kalau kue Klepon bukanlah kue islami, penulis langsung teringat dengan majalah Tempo yang mengupas soal jajanan Nusantara ini. Penulis tak hendak membahas siapa orang jahil yang membuat narasi kue Klepon bukanlah kue islami. Penulis tak hendak pula menuding ini kelakuan kelompok Islam Garis Keras, Garis Lurus, atau pun Garis Miring. Tidak. Terlalu remeh hal beginian disangkutpautkan pada kelompok-kelompok itu. Justru jika itu dilakukan, malah akan mendowngrade mereka menjadi kelompok yang benar-benar ketinggalan zaman. Dan itu mustahil dilakukan oleh mereka. Sekalipun mereka bisa melakukannya dengan dalil yang ndakik–ndakik.

Jajanan Nusantara, termasuk klepon di dalamnya, bukanlah kue biasa. Jajanan Nusantara itu, seperti dituturkan Hilmar Farid, berkait kelindan dengan nilai, makna dan fungsinya dalam lingkungan sosial dan budaya. Dalam artian, ada makna filosofis dalam tiap jajanan Nusantara. Makna itu adalah adanya simbol kebinekaan di dalamnya.

Murdjiati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta mengatakan, jajanan nusantara yang biasa diperjualbelikan di pasar adalah manifestasi kebersamaan penjual dan pembeli yang sama-sama saling membutuhkan. Jajanan Nusantara juga merupakan simbol kebinekaan yang nyata karena diolah dari lebih 1000 seni dapur Indonesia.

Untuk melihat kebesaran dan kebinekaan Indonesia, cukup dengan melihat dan menikmati jajanan nusantara yang ada. Hasil dari penelitian Murdjiati mencatat adanya 1.013 bentuk jajanan nusantara yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Jajanan-jajanan itu terbagi-bagi menjadi empat kluster besar (Jiaaah kluster!).

Pertama, jajanan pasar asli Indonesia. Dikatakan jajanan pasar asli karena bahan-bahan pembuatannya ada semua di Indonesia. Kedua, jajanan pasar akulturasi. Jajanan ini sudah terpengaruh dari bangsa Barat. Seperti aneka roti yang ada di Indonesia. Ketiga, jajanan pasar asimilasi. Jenis ketiga ini adalah jajanan pasar yang berasal dari negara lain tapi diterima di Indonesia. Keempat, jajanan pasar mimikri. Jajanan jenis keempat ini adalah jajanan pasar asli dari bangsa lain tapi secara perlahan-lahan masuk ke Indonesia dan menyesuaikan diri dengan konteks masyarakat Indonesia. Di barisan ini berdiri tegak jajan kroket yang aslinya berasal dari Belanda.

Nah, jajan klepon sendiri merupakan jajan yang kerap hadir menjadi jamuan wajib di Istana Negara dan disajikan kepada tamu negara yang datang ke Indonesia. Berdasarkan penuturan Agus Dermawan T dalam Dari Lorong-Lorong Istana Presiden, jajanan pasar seperti wajik, nogosari, lemper, lupis, semar mendem dan klepon selalu menjadi menu wajib di Istana Negara. Tak hanya di era kepemimpinan Soeharto jajan klepon berbakti kepada bangsa dan negara. Melainkan juga sejak era kepemimpinan Soekarno.

Dalam buku Des Alwi, Saksi Penting Sejarah Utama Indonesia dikisahkan saat delegasi Malaysia, Tun Abdul Razak datang ke Indonesia di tahun 1966. Kedatangannya itu sebagai upaya untuk menjalin komunikasi agar kedua bangsa serumpun ini mengakhiri konfrontasi dan perang urat syaraf. Seperti diketahui, waktu itu sedang gencar-gencarnya Soekarno menggelorakan slogan ‘Ganyang Malaysia’. Kedatangan Tun Abdul Razak merupakan bagian dari upaya untuk meredakan konfrontasi itu.

Saat datang ke Istana Negara, Tun Abdul Razak diterima langsung oleh Soekarno. Saat itulah Presiden Soekarno menawarkan kue onde-onde dan klepon kepada Tun Abdul Razak. Meski hubungan kedua negara saat itu masih berada dalam kondisi ketegangan, namun dalam pertemuan itu tidak ada kesan kaku di antara keduanya. Seperti diketahui, pasca pertemuan itu perjanjian damai antara Indonesia dan Malaysia sukses ditandatangani oleh Tun Abdul Razak dan Adam Malik sebagai perwakilan Indonesia. Di belakang dua orang itu, berdiri the smiling general, Soeharto, menyaksikan penandatangan perjanjian damai itu.

Klepon memang memiliki kenikmatan tersendiri dan cocok disajikan sebagai menu penganan di pagi hari. Selain nikmat, di sana juga terkandung makna filosofi yang sangat dalam. Dibuat dari tepung ketan, gula merah, daun pandan, kelapa parut, dan garam halus menjadi sebuah tanda tentang keanekaragaman dan kebinekaan Indonesia. Bahan-bahan itu kemudian diolah sedemikan rupa yang tentunya membutuhkan sebuah usaha kebersamaan. Jadi ada bentuk kerja sama dalam tiap pembuatan jajanan nusantara. Dimulai dari menanam beras, menumbuknya menjadi tepung, diayak dan lain sebagainya.

Lalu soal rasa bagaimana? Jangan salah. Soal rasa, jajanan nusantara itu tak kalah dengan jajanan dari Eropa sekalipun. Dalam tiap jajanan nusantara ada rasa gurih, asin, dan manis yang menyatu menjadi satu. Dari makanan saja dapat kita saksikan bagaimana orang Indonesia itu harus bersatu dan bekerja sama agar menghasilkan rasa yang nikmat.

Dan, sensasi muncrat di dalam mulut adalah kenikmatan utama yang dimiliki klepon. Jika sudah demikian, kenikmatan klepon mana lagi yang akan kalian dustakan?

*Penulis adalah Kerani Arsip Historia HMI

Sumber historiaHMI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *