Agus Fatah : Mari Belajar Dari Keluarga Ini

FOKUSATU-Keluarga ini hidup dalam kesederhanaan namun tak berkurang kebahagiannya. Sang suami dan ayah ini adalah pribadi yang sholeh. Sementara sang istri dan ibu bagi seorang putra tersayangnya adalah wanita sholehah, tangguh, mandiri dan taat pada suami. Sedangkan putranya adalah anak yang sholeh, taat pada Allah dan kedua orang tuanya. Keluarga ini adalah keluarga ideal.

Sang ayah, walaupun sangat sibuk mempunyai ikatan bathin yang kuat dengan anaknya. Ia adalah teladan bagi anak dan istrinya dalam ketaatan kepada Allah Swt. Sementara sang ibu yang setiap hari bersama anaknya, selalu memperlihatkan kemandirian, ketangguhan dan ketaatan kepada suami dan Allah Swt.

Dibawah asuhan ayah dan ibu yang sholeh- sholehah anak itu tumbuh. Seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, anak ini mewarisi sifat kedua orang tuanya. Ia tumbuh menjadi pribadi sholeh, yang diusia belianya sanggup menjalani ujian keimanan sangat berat bersama sang ayah.

Apa saja yang dilakukan oleh istri dan suami ini sehingga berhasil mendidik putranya menjadi anak yang taat kepada Allah dan kedua orang tuanya.
Pertama sang istri sangat taat kepada Allah dan kepada suaminya. Kedua sang istri mengasuh sendiri anaknya, sehingga sang anak punya bounding (hubungan emosional) yang kuat dengan ibunya. Ketiga, sang istri selalu menceritakan ketaatan sang suami kepada Allah Swt dihadapan anaknya, sehingga membuat anak bangga dan termotivasi ingin menjadi seperti ayahnya .

Sementara sang Ayah melakukan hal hal sebagai berikut:
Pertama, selalu berdoa kepada Allah agar dikarunia keturunan yang sholeh dan mendirikan sholat. Kedua sang Ayah melibatkan anaknya dalam beribadah dan memakmurkan rumah Allah. Ketiga, sang ayah menggunakan metode dialog dalam berkomunikasi dengan putranya dan menghargai martabat anak walau harus menyampaikan perintah Allah Swt.

Sang Ayah ini bergelar kekasih Allah (kholilullah), beliau adalah bapaknya para Nabi, pembangun ka’bah, pengemban agama tauhid, suami dari siti Hajar, ayah dari Nabi Ismail As, beliau adalah Nabiyullah Ibrahim As.

Berikut ini kami sampaikan konflik bathin dan dialog yang mengetarkan jiwa antara Nabi Ibrahim As dan Ismail As.

Setelah beberapa waktu di Mekkah, Nabi Ibrahim As bermimpi.
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya, Ismail As. Beliau sedikit terguncang. Anak yang dirindukannya itu harus dikorbankan untuk Allah Swt. Ini adalah ujian berat bagi Nabi Ibrahim As, beliauharus memilih antara cintanya pada Allah Swt atau pada anaknya.

Kemudian, Nabi Ibrahim As mengajak Ismail As untuk berbicara berdua saja tanpa ibunya. Nabi Ibrahim As
meminta pendapat Ismail As tentang perintah Allah Swt untuk menyembelih dirinya.

“Wahai Ayahku! kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah Swt kepadamu, insya Allah, ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.”, jawab Ismail As

Untuk melaksanakan tugas, Ismail As berpesan kepada Nabi Ibrahim As,

” Wahai Ayahku! ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak yang akan merepotkanmu. Telungkupkan wajahku agar tidak terlihat oleh ayah sehingga tidak menimbulkan rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun, jika ibu melihatnya tentu ia akan turut berduka.”

Lalu Nabi Ibrahim As berusaha menyembelih Ismail As dengan pedang yang tajam tapi ia tidak berhasil. Pedang itu malah terpental jatuh ke tanah.
Allah telah melihat ketaatan dan kuatnya iman Nabi Ibrahim As. Allah berfirman :

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. ”

Ismail As tidak jadi disembelih. Nabi Ibrahim As mencari seekor domba untuk disembelih sebagai qurban.

Setelah ujian besar berhasil mereka lalui. Nabi Ibrahim As dan Ismail As membangun ka’bah. Selesai membangun ka’bah Ibrahim As berkata kepada Ismail As :

“Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah Swt adalah kamu, wahai putraku tercinta.”

” Terimakasih atas bimbingan dan pelajaran darimu Ayah! semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.” ucap Ismail As.

Subhanallah sungguh indah ucapan Ibrahim As dan Ismail As ini. Semoga percakapan Ibrahim As dan Ismail As ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Semoga kita mampu menjadi ayah seperti Ibrahim As yang mampu mendialogkan perintah Allah Swt dan mengapresiasi kemampuan anak dalam melaksanakan perintah Allah.

Dan semoga anak anak kita bisa menjadi seperti Ismail As, taat pada Allah Swt dan orang tua, mampu mengucapkan terimakasih kepada orang tuanya dan bersabar dalam menjalankan perintah Allah Swt serta bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Aamiin…

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H, semoga kita makin bertaqwa, baarokallah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *