Reaktualisasi Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

FOKUSATU-Ibarat cahaya, Pancasila merupakan cahaya yang sangat terang. Cahayanya menerangi ibu pertiwi. Dari Sabang sampai Merauke. Dan dari Miangas hingga Pulau Rote. Pancasila juga bagai rembulan, yang memancarkan cahayanya di tengah kegelapan malam, indah dipandang dan menyejukan mata. Pancasila juga bagai matahari, tak pernah bosan menyinari anak negeri. Sinarnya bukan hanya menyehatkan. Tetapi juga dirindukan. Pancasila juga bagaikan lilin, yang dapat menerangi kehidupan, dilorong gelap ketidakpastian. Biarkan Pancasila menjadi cahaya. Menjadi mercusuar kehidupan berbangsa. Cahayanya jangan diredupkan, apalagi sampai dimatikan. 

Akhir-akhir ini, Pancasila sedang dalam dilema. Ada pihak-pihak atau kelompok yang ingin mendistorsi Pancasila. Pancasila yang sudah final menjadi ideologi bangsa, ingin direndahkan keberadaannya. Pancasila itu, sumber dari segala sumber hukum. Oleh karena itu, posisi Pancasila tercantum dalam pembukaan UUD NRI 1945. Bukan ada dalam Undang-undang atau peraturan lainnya. Pancasila itu letaknya dikonstitusi. Dijaga dan dikawal oleh konstitusi negara. Jangan diturunkan derajatnya dan diletakkan dalam peraturan lainnya.

Kehadiran Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), yang saat ini menjadi kontroversi. Dianggap bisa mendistorsi Pancasila. Wajar jika seluruh komponen bangsa, menolak hadirnya RUU HIP. Dari mulai MUI, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Ormas-ormas lain bergerak membendung agar RUU HIP tak dilanjutkan pembahasannya di DPR. Awalnya DPR dan pemerintah enjoy dan menyetujui agar RUU HIP untuk bisa dibahas. Bahkan tujuh fraksi dari sembilan fraksi yang ada di DPR sudah deal agar RUU HIP dibahas.

Tapi karena mengalami banyak penolakan disana-sini. Dan penolakan tersebut mengkristal menjadi sebuah kekuatan rakyat. Maka presiden meminta DPR untuk menunda pembahasan RUU HIP. Tuntutan ulama dan rakyat, bukan hanya RUU HIP ditunda sementara pembahasannya. Tetapi dibatalkan dan dicabut. Bukan hanya demi kemaslahatan bangsa dan negara. Tapi juga untuk menyelamatkan Pancasila. Pancasila harus diselamatkan dari tangan-tangan “jail” kekuasaan yang pongah.

Pancasila harus diselamatkan dari penyusup yang ingin merongrong Pancasila. Dan Pancasila harus diselamatkan dari ancaman, yang datang dari dalam dan luar. Dan dari para pengkhianat bangsa.
Kecurigaan masyarakat benar adanya. Dan masyarakat tidak pernah mengada-ngada. Kecurigaan umat Islam juga beralasan.

Karena banyak persoalan dalam isi RUU HIP. Salah-satunya ingin menghadap-hadapkan Pancasila dengan agama. Padahal agama dengan Pancasila, itu satu kekuatan yang tak dapat dihadap-hadapkan atau dipisahkan. Karena Pancasila lahir dari nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama Islam yang universal dan rahmatan lil alalmain. Jangan paksakan Pancasila untuk dipisahkan dengan agama. Karena akan berhadap-hadapan dengan umat Islam. Dan akan berhadap-hadapan dengan seluruh rakyat Indonesia.

Paling tidak ada beberapa hal yang kontroversial, dengan hadirnya RUU HIP yang kini pembahasannya sedang ditunda. Pertama, pengusung dan pendukung RUU HIP beralasan ingin memperkuat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Badan yang merasa berhak untuk menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila, yang saat ini dasar pembentukannya berdasarkan Perpres No 7 Tahun 2018. Mereka ingin menaikannya ke level yang lebih tinggi, yaitu level UU. Namun faktanya, isi RUU HIP menyasar hal-hal lain yang tak ada hubungannya dengan BPIP. Bahkan rakyat curiga, isinya ingin membangkitkan kembali ajaran PKI. Tidak dicantumkannya TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pelarangan PKI dalam konsideran. Membuat rakyat bertanya-tanya. Ingin memperkuat BPIP. Atau membuka celah kembali lahirnya ajaran komunis gaya baru.

Aneh tapi nyata. TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966. Yang menjadi benteng dan pertahanan dalam menjaga dan mengawal Pancasila dari rongrongan ajaran komunisme, tak masuk dalam konsideran RUU HIP. Suatu tindakan yang ceroboh. Dan bisa saja disengaja untuk menggoyang Pancasila. Tindakan yang ngawur dan mengada-ngada. Bisa mengadu-domba antar sesama anak bangsa. Dan melukai seluruh komponen bangsa. Menguatkan BPIP, dengan merusak isi pasal-pasal dalam RUU HIP, sama saja dengan mengkhianati bangsa dan negara.
Keberadaan BPIP saja tidak perlu. Kenapa harus diperkuat. BPIP selama ini tak ada manfaatnya. Menghabiskan uang negara untuk membayar para pejabatnya yang gajinya super tinggi. Mana mungkin lembaga yang tak ada manfaatnya bagi rakyat, bangsa, dan negara perlu dikuatkan. Keberadaan BPIP tak dirasakan sama sekali oleh rakyat. BPIP hanya dinikmati oleh para pejabat. Layak untuk dibubarkan. Bukan untuk diperkuat. Kalaupun ingin memperkuat, buat saja RUU BPIP. Bukan RUU HIP, yang ingin merusak Pancasila. Dan isinya jangan mengganggu Pancasila yang sudah menjadi ideologi final bagi bangsa ini.

Kedua, konsep trisila dan ekasila. Pancasila bukan hanya rumusan orang perorang. Namun rumusan bersama para tokoh bangsa. Memaksakan rumusan “trisila” dan “ekasila” dalam RUU HIP, merupakan bentuk penjajahan terhadap Pancasila dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Klausul yang banyak disorot, yaitu konsep Trisila dan Ekasila, serta frase “Ketuhanan yang berkebudayaan”. Konsep tersebut tercantum dalam Pasal 7 RUU HIP. Trisila adalah Sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan. Trisila terkristalisasi dalam Ekasila, yaitu gotong-royong. Konsep trisila dan ekasila, mendistorsi Pancasila seolah-olah milik kelompok tertentu. Pancasila tetap Pancasila. Terdiri dari lima sila. Jangan dikurangi atau dilebihi. Tak usah dirubah dan diutak-atik keberadaannya.

Ketiga, BPIP akan diisi oleh TNI-Polri aktif. Dalam draf RUU HIP termaktub dengan jelas dan memuat ketentuan TNI dan Polri aktif bisa mengisi sebagai Dewan Pengarah Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP). Dalam Pasal 47 ayat (2) RUU HIP menyebut Dewan Pengarah BPIP berjumlah paling banyak 11 (sebelas) orang atau berjumlah gasal. Yang gajinya ratusan juta rupiah. Duduk manis, menikmati gaji yang fantastis, dan fasilitas mewah. Akan menjadi privillage tersendiri bagi TNI dan Polri yang masih aktif. Lalu apa bedanya zaman now, dengan zaman Orde Baru. Rakyat melakukan reformasi agar ada perbaikan pengelolaan bangsa dan negara. Tapi faktanya negara makin hari makin rusak. Makin tak jelas arahnya. Karena TNI-Polri sedang mengincar jabatan-jabatan sipil.
Keempat, Pancasila jangan didistorsi. Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai ideologi bangsa, harus ditempatkan di tempat yang tertinggi dan mulia. Keberadaan Pancasila jangan dilemahkan. Jangan direduksi dengan cara-cara kotor. Jangan dikurangi nilai-nilainya. Jangan diutak-atik keberadaannya. Jangan dijadikan alat pembenaran dan legitimasi bagi penguasa dan kekuasaan. Jangan merusak kesucian. Jangan merongrong kesaktiannya. Jangan menafsirkan seenaknya dengan tafsir tunggal. Jangan mengada-ngada dalam mendeskreditkannya. Jangan pura-pura ber-Pancasila, padahal melanggar norma dan nilai-nilai Pancasila. Dan jangan munafik dalam ber-Pancasila. Mengaku Pancasila. Padahal hati, pikiran, dan perilakunya anti Pancasila.
Pancasila itu bukan hanya untuk dihafal. Tetapi juga untuk diresapi nilai-nilainya. Dijiwai pasal-pasalnya. Dan diimplementasikan norma-normanya.

Pancasila bukan hanya dalam ucapan. Tetapi juga harus dalam tindakan nyata. Harus termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila harus membumi. Jangan mengawang-awang hanya ada di atas. Tetapi hatus bisa menjadi pijakan bagi rakyat, agar bisa menjadi pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Saat ini Pancasila masih menjadi jargon. Masih menjadi jualan dan alat penguasa. Masih belum terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Masih menjadi pajangan dalam etalase kekuasaan. Dan masih banyak pihak, yang tak mengerti Pancasila, sebagai sebuah pandangan hidup dalam berbangsa dan negara.

Kelima, tak ada urgensi untuk membahas dan mengesahkan RUU HIP. Selain karena isinya yang konroversial. Kita juga sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang entah kapan akan selesainya. Fokus membantu rakyat yang terdampak Corona, dan membantu membendung penyebaran virus Corona harusnya menjadi prioritas DPR dengan pemerintah saat ini. Bukan malah mencari celah meloloskan RUU HIP agar bisa dibahas dan disahkan. Kekuatan bangsa ini harusnya dicurahkan untuk membendung penyebaran Corona dan menyelesaikan dampak akibat virus tersebut. Jangan karena rakyat sedang kesusahan, kelaparan, dan stres karena Corona. Lalu dimanfaatkan oleh tangan-tangan kekuasaan yang pongah, untuk merumuskan dan menggolkan RUU HIP yang menyinggung masyarakat. Dan melemahkan Pancasila.

Rakyat yang sedang hidupnya susah, lapar, dan menganggur karena PHK. Rakyat yang terinfeksi Corona, tak butuh RUU HIP. Ya, tak butuh RUU HIP. Mereka butuh makan. Butuh sembako. Butuh pekerjaan. Dan butuh uang untuk bisa bertahan hidup. Butuh pertolongan dan uluran penguasa dan elite. Butuh kehadiran negara. Butuh semangat, agar hidup tak seperti kiamat. Butuh keteladanan dari para elite. Butuh kehidupan yang layak, aman, dan nyaman. Butuh kesejahteraan. Bukan kesenjangan. Butuh cinta kasih dari sesama. Butuh tegaknya keadilan. Butuh tumbuhnya persamaan. Juga butuh keyakinan dan optimisme dalam menjalani kehdupan yang makin hari makin sulit.

Pancasila Harga Mati
Pancasila itu harga mati. Jangan didistorsi. Jangan dilemahkan Dan jangan diklaim untuk kepentingan pribadi atau golongan. Pancasila milik bangsa. Milik seluruh rakyat Indonesia. Rumah bersama putra-putri bangsa dalam memupuk harapan dan menyemai cita-cita. Rumah besar tempat rakyat berkhidmat. Rumah kokoh tempat rakyat berlindung. Dan rumah indah tempat bersama-sama seluruh komponen bangsa menyatukan asa. Pancasila harga mati. Tak boleh ada individu, kelompok, atau organisasi yang ingin membongkar pasang Pancasila. Pancasila milik bersama. Dan harus dijaga secara bersama-sama. Apapun resikonya dan berapapun harganya.
Menjaga Pancasila adalah jihad. Jihad dalam menjaga persatuan, kesatuan, dan keutuhan bangsa. Jihad dalam memerangi ajaran yang anti Pancasila. Jihad dalam memperjuangkan nilai agama “mati syahid atau hidup mulia” dalam menjaga dan mengawal Pancasila. Nyawapun kita korbankan untuk menjaga Pancasila. Jika kita sudah sepakat dengan Pancasila harga mati. Maka seluruh pikiran, tindakan, dan mental kita haruslah mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Jika kita sudah sepakat dengan Pancasila adalah ideologi bangsa yang abadi. Maka janganlah sekali-kali kita mengkhianati Pancasila. Pancasila bukan untuk diingkari.

Pancasila bukan untuk dikebiri. Pancasila bukan untuk dimaki. Tetapi Pancasila untuk dilindungi, dicintai, dan direalisasikan nilai-nilainya.
Pancasila bukan milik partai tertentu. Bukan milik kelompok tertentu. Bukan pula milik keluarga tertentu. Apalagi miliki individu tertentu. Biarkan Pancasila milik bersama, yang harus dijaga bersama-sama. Tak boleh ada yang mengotak-atik Pancasila. Dan tak boleh ada yang ingin mengganti Pancasila. Biarkan Pancasila lestari dan abadi. Biarkan Pancasila menjadi ideologi jalan tengah. Yang bisa diterima semua kelompok kepentingan. Biarkan Pancasila menjadi ideologi mederat, tidak ke kanan dan tidak juga ke kiri. Tidak ke komunis dan tidak pula ke kapitalis. Tidak ke barat dan tidak juga ke timur. Biarkan Pancasila menjadi ideologi besar, yang mempersatukan kita semua dalam kemuliaan dan keagungan. Pancasila harga mati. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kita menodai. Pahami dan resapi nilai-nilainya. Dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Apapun resikonya, berapapun harganya, Pancasila harus dijaga dan harus hidup. Pancasila tak boleh menjadi alat legitimasi bagi kekuasaan. Tak boleh dimiliki dan dikuasai oleh institusi tertentu, yang merasa berhak untuk menafsir Pancasila. Tak boleh ada tafsir tunggal tentang Pancasila. Tak boleh Pancasila menjadi ideologi yang mati. Jangan sampai Pancasila menjadi ideologi yang tanpa makna dan arti. Jangan biarkan Pancasila sendirian. Tanpa ada yang menjaga dan yang membela. Wajib hukumnya menjaga dan melestarikan Pancasila. Wajib hukumnya menjadikan Pancasila menjadi ideologi yang hidup dan dinamis, yang bisa menjadi acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan wajib hukumnya kita mencintai Pancasila. Sebagaimana kita mencintai keluarga kita.

Pancasila itu sederhana. Kitalah yang rumit. Pancasila itu habat, kita lah yang kadang mengkerdilkannya. Pancasila itu ideologi pemersatu, namu kitalah terkadang yang memecah belah. Dan Pancasila itu keren, namun kitalah yang membuat Pancasila hanya dibaca dan dihafal. Tapi tak diimplementasikan. Pancasila itu dahsyat, namun terkadang kitalah yang menyelewengkannya. Pancasila itu kokoh, namun sepertinya kitalah yang melemahkannya. Pancasila itu menembus batas, namun kitalah yang menyekat dan membatasinya. Pancasila itu luar biasa, namun terkadang kita lah yang membuat Pancasila biasa-biasa saja. Pancasila itu menginspirasi, namun kitalah yang membatasi. Pancasila itu kaya akan nilai-nilai kebaikan, namun terkadang kita yang mengacuhkan nilai-nilai itu.
Biarkan Pancasila apa adanya. Biarkan tetap gagah dan perkasa. Biarkan mempesona. Biarkan tetap merdeka. Biarkan menjadi mencusuar yang menerangi relung kehidupan. Biarkan menjadi abadi selamanya. Jika Pancasila masih jadi simbol, jargon, atau slogan, mari kita implementasikan. Jika Pancasila tak bergerak, mari kita gerakan. Jika Pancasila berdiam diri, mari kita temani. Jika Pancasila sedang dalam tekanan dan rongrongan, mari kita jaga dan lindungi. Menjaga dan melindungi Pancasila lebih dari apapun. Menjaga dan melindungi Pancasila apapun taruhannya. Demi menjaga dan melindungi Pancasila, kita harus rela mati. Ya, kita harus rela mati.

Memberi Roh Pada Pancasila
Saat ini Pancasila seperti benda mati yang tak hidup. Sedang sebagai sebuah ideologi, ia harus hidup, dinamis, mencerahkan, menginspirasi, dan memberi semangat kepada para pengikutnya. Pancasila itu jangan hanya menjadi pandangan hidup. Tapi harus jadi gaya hidup. Sehingga Pancasila tidak hanya dihafal, diucapkan, dan dipikirkan saja. Tetapi juga diaplikasikan dalam gaya hidup sehari-hari. Sehingga anak muda saat ini bangga dengan gaya hidup ber-Pancasila. Seperti apa gaya hidup ber-Pancasila itu, mereka berpakaian dengan pakaian yang sopan dan rapih. Tak menggunakan pakaian yang terbuka apalagi pakaian yang seronok. Mereka berperilaku dengan perilaku yang sopan dan santun dengan sesama orang yang ditemuinya tiap hari. Tidak sombong dan angkuh seolah-olah negara dan Pancasila itu milik mereka. Ketika mereka berkomentar baik di media maupun di dunia nyata, berkomentar yang positif dan produktif. Tidak berkomentar yang negatif, menghina, memfitnah, memecah belah, dan provokatif.
Gaya hidup Pancasila dalam lingkup yang paling sederhana, kita bisa menerapkan disiplin diri. Misalkan ketika sedang berkendara, berhenti dilampu merah kerika lampu merah menyala merupakan kepatuhan. Namun faktanya, dalam keseharian, Disetiap penjuru lampu merah di negeri ini, jika tak ada polisi yang jaga, para pengendara menancapkan gasnya, menerabas lampu yang bernyala merah. Ini tentu berbahaya, Dan ini sudah terjadi sejak lama. Bahkan saya mengkritik para pelanggar lampu merah, mereka tak bisa membedakan, mana lampu merah, hijau, dan kuning. Karena mata mereka tertutup awan. Tingkat disiplin yang rendah itu merupakan tanda, kita tidak mencintai Pancasila. Nilai ketertiban dan kedisiplinan, merupakan bagian yang inheren dengan nilai-nilai Pancasila, yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar nilai-nilai Pancasila itu hidup. Ya, agar hidup. Dan agar tidak mati.
Segala sesuatu di dunia ini memiliki memiliki roh. Tumbuhan, binatang, dan manusia memiliki roh. Oleh karena itu, mereka hidup dan bergerak. Benda mati pun memiliki roh. Mereka memuji kebesaran Tuhannya tiap detik dan tiap saat. Manusia yang tak memiliki roh bagaikan zombi. Sepertinya hidup. Tapi sesungguhnya mati. Nah segala sesuatu di alam semesta ini, apapun itu itu, baik benda hidup atau benda mati, jika tak memiliki roh, maka akan mati. Dan tak akan bisa bergerak. Dan sesuatu yang mati. Pasti akan ditinggalkan. Karena dianggap telah tiada dan tak berguna lagi. Roh itu sangat penting, Karena jiwa dan raga, jika tanpa roh, maka tak akan hidup. Roh menjadi unsur yang sangat penting dalam menyempurnakan setiap penciptaan makhluk Tuhan di bumi ini. Tak ada roh berarti mati. Dan tak ada roh berarti tak berarti.

Jika Pancasila tak memiliki atau belum memiliki roh, mari kita beri roh, agar bisa hidup dan dinamis, sehingga bisa memancarkan sinar kebaikan bagi bangsa yang sedang galau ini. Atau jika Pancasila sudah memiliki roh, jangan dicabut dan diambil rohnya. Kitalah yang harus memberikan roh pada Pancasila. Kitalah yang harus menghidupkan Pancasila. Kitalah yang harus menggerakan Pancasila. Kitalah yang harus menjaga dan mengawal Pancasila. Kitalah yang harus melestarikan Pancasila, agar Pancasila menjadi hidup, bersinar, mencerahkan, menginspirasi, dan menjadi pandangan hidup. Hidup atau matinya Pancasila bergantung pada kita sebagai pendukungnya. Abadi atau hancurnya Pancasila bergantung pada kita yang menjaga, mengamalkan, dan melestarikannya. Memiliki atau tak memiliki roh Pancasila bergantung pada kita yang memberi rohnya. Jangan biarkan Pancasila mati. Hanya menjadi simbol dan asesoris kehidupan. Mari kita jadikan Pancasila hidup, agar cahayanya menyinari ibu pertiwi.

Lihat saja sebuah buku. Buku yang bagus, ia memiliki roh. Kata-katanya hidup dan penuh makna. Kalimatnya menggerakan dan menggetarkan pikiran, hati dan jiwa. Paragraf-paragrafnya mencerahkan. Bab per babnya menguatkan, Cover buku dan penulisnya menginspirasi. Itu buku yang memiliki roh. Buka yang hidup. Walaupun buku bukan benda mati. Tapi isinya bisa membangun sebuah peradaban. Bisa menembus zaman dan kehidupan. Bahkan penulisnya, jika sudah meninggalpun, bukunya abadi. Karyanya abadi. Dan masih bisa dibaca dan dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya. Berbeda dengan buku yang jelek, ia tak memiliki roh. Dia tak akan mampu merubah kehidupan. Rohnya tak ada. Bukunya tak menginspirasi dan mengilhami.

Begitu juga dengan Pancasila. Pancasila harus memiliki roh. Rohnyalah yang akan menghidupkannya. Dengan roh, Pancasila tak akan jadi sebatas simbol dan jargon. Dengan roh, Pancasila akan menjadi ideologi yang hidup. Tak cukup hanya menjadi ideologi yang hidup. Tetapi juga menjadi ideologi yang bisa memberi rasa keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila tak pernah salah. Pancasila tak akan mati. Terkadang kekuasaan dan penguasa, atau para pengkhianat bangsa yang membuat Pancasila meredup. Dan membuat Pancasila mati. Pancasila dianggap ada dalam genggaman dan kekuasaannya, sehingga Pancasila dimaknai dan ditafsirkan seenaknya. Pancasila ada dalam bayang-bayang penguasa dan kekuasaan. Sehingga Pancasila tidak lagi menjadi milik bersama. Dan tidak lagi menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Roh Pancasila adalah roh keabadian. Artinya Pancasila harus abadi. Tak boleh mati. Dan tak boleh lekang oleh zaman. Roh Pancasila adalah spirit ke-Indonesiaan. Hidup di bumi Indonesia. Haruslah mengakui Pancasila sebagai ideologi negara. Hidup di tanah air Indonesia. Haruslah mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara benar dan konsekwen. Hidup di negeri tercinta ini. Haruslah menjaga dan mepertahankan Pancasila dengan segenap jiwa dan raga. Jangan biarkan roh Pancasila hilang. Karena jika Pancasila tak memiliki roh, maka akan mati dan akan dirongrong oleh tangan-tangan jahat yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Agar Pancasila tetap bercahaya. Agar Pancasila tetap hidup. Dan agar Pancasila tetap ada, mari kita jaga bersama.

Rongrongan Pancasila bukan hanya datang dari PKI atau ajaran-ajaran lain yang anti terhadap Pancasila. Tetapi rongrongan Pancasila itu datang, bisa saja dari para pengkhiaanat bangsa. Mereka menggunakan jalur politik dan jubah kekuasaan, yang secara diam-diam ingin merubah Pancasila. Pancasila harga mati. Ya, Pancasila harga mati. Bersifat final sebagai dasar negara. Dan kita akan pertahankan hingga kita meregang nyawa. Pancasila juga harus hidup didada dan sanubari semua anak bangsa. Agar Pancasila tak lagi menjadi perdebatan. Apalagi hingga ada yang ingin melemahkan. Kita lawan siapapun yang akan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lainnya. Menjaga Pancasila sama juga kita sedang menjaga nilai-nilai agama. Dan melemahkan Pancasila sama halnya merusak agama. Pancasila lahir dari nilai-nilai agama Islam yang luhur. Jangan pertentangkan agama dengan Pancasila.
Solusi Persoalan Kebangsaan
Ada banyak problem-problem kebangsaan muncul di tengah-tengan masyarakat. Dan itu harus segera di atasi. Negara ini begitu banyak punya problem. Oleh karena itu, perlu diselesaikan. Karena jika dibiarkan, maka akan semakin besar dan akan merusak dan menghancurkan bangsa. Ada berapa problem besar kebangsan yang harus kita cermati. Pertama, kita kehilangan sosok negarawan. Bahkan kita tidak punya sosok negarawan pemersatu bangsa. Derajat tertinggi seorang politisi itu menjadi seorang negarawan. Namun kita tak melihat sisi kenegarawan dari para politisi yang sedang berkuasa saat ini. Mereka sibuk rebutan jabatan.

Mengamankan kekuasaan. Dan memperkaya diri, keluarga, dan kelompoknya. Narasi yang dikembangkan juga narasi pertentangan, saling serang, dan saling menghancurkan.
Di awal kemerdekaan, bangsa ini memiliki banyak negarawan-negarawan besar. Pikiran, hati, dan tindakkannya diperuntukan demi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Musyawarah mufakat juga dijadikan kesepakatan dalam mendirikan bangsa. Bagaimana tokoh-tokoh Islam tidak memaksakan kehendak, untuk memasukan Piagam Jakarta, dengan menghapus “tujuh kata” dalam sila pertama Pancasila. Itu karena kebesaran jiwa mereka, untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Dan lebih memilih musyawarah mufakat untuk menyepakati Pancasila sebagai dasar negara. Kini musyawarah mufakat telah hilang dalam kehidupan politik di negeri ini. Arogansi kekuasaan dan oligarki politik telah menghilangkan musyawarah mufakat dari nilai-nilai alamiah bangsa ini.

Kedua, saat ini problem kebangsan lain muncul, yaitu dwi fungsi Polisi. Dulu rakyat dan bangsa ini tak menginginkan dwi fungsi ABRI (TNI). Dan TNI dengan tertib kembali ke barak untuk menjaga pertahanan negara. Dan kini di masa reformasi, muncul dwi fungsi polisi. Saat ini polisi banyak yang memegang jabatan-jabatan sipil. Seperti di Kementerian dan lain-lain. Jika ini dibiarkan akan berbahaya. Bukan hanya akan mencipkan kecemburuan. Tetapi juga pengkhinatan terhadap cita-cita reformasi.

Ketiga, aspirasi masyarakat tersumbat. Saat ini, baik eksekutif maupun legislatif, sudah tak lagi menghiraukan aspirasi masyarakat. Suara rakyat sudah tak di dengar lagi. Indikasinya, jika rakyat mengkritik penguasa, langsung dipanggil dan diperiksa penegak hukum. Kekuasaan selalu intimidatif terhadap rakyat. Beroposisi dianggap ancaman. Perlu kebesaran hati dari siapapun yang sedang berkuasa, untuk tak anti kritik. Dan untuk membuka keran kebebasan berpendapat. Karena menyampaikan pendapat dimuka umum, secara lisan atau pun tulisan, sangat jelas dijamin oleh konstitusi.

Keempat, kita masih punya problem kubu-kubuan. Masyarakat masih terpolarisasi. Masyarakat masih belum cair. Masih saling berhadap-hadapan. Baik di dunia nyata maupun dunia maya. Oleh karena itu, kita semua perlu kebesaran jiwa bagi seluruh komponen anak bangsa, untuk saling memaafkan.

Dan menyudahi pertikaian. Agar kita bisa move on dan agar Pancasila bisa diaktualkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Bukan RUU HIP yang diperlukan. Kalau boleh saya sumbang saran, RUU melestarikan ideologi Pancasila-lah yang dibutuhkan. Karena bagaimanapun, Pancasila butuh dan perlu dilestarikan. Agar tetap lestari dan abadi.

Penulis :

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Dosen FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI)
Jakarta

*Artikel ini telah di muat di Independent Observer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *