Muchlis Hassan : Kudeta Gerombolan Otak Rusak !

FOKUSATU-Pasca perhelatan Pilkada DKI 2017 berakhir perseteruan antar kedua pendukung pro Anies dan Ahok ( Jokowi ) terus berlanjut hingga berakhirnya Pilpres 2019 kemarin dan sampai saat inipun masih terlihat adanya perseteruan tersebut.

Meskipun kala itu Ahok di bentengi dengan dana pilkada triliyunan rupiah, di dukung 10 partai politik, dan yang tak kalah seramnya di dukung oleh segerombolan kaum Munafik serta buzzer -buzzer bangsat bermulut sampah yang berusaha dan berupaya menggiring opini publik. Namun Anies yang kala itu mendapat dukungan moril dari tokoh umat islam mampu menjungkalkan pesaingnya tersebut.

Pendukung atau para buzzer-buzzer Ahok/Jokowi yang melebeli diri mereka dengan brand ” SAYA PANCASILA & NKRI HARGA MATI” seakan-akan ingin memberitahukan kepada khalayak umum bahwa yang tidak mendukung Ahok/Jokowi tidak Pancasila dan tak cinta NKRI. dan bagi yang kontra dengan mereka akan di cap dengan stempel Radikal atau pendukung khilafah.

Namun seiring berjalannya waktu, dan sampailah tiba waktunya pada aksi protes seluruh umat islam yang di motori oleh Tokoh2 bangsa terkait dengan pembahasan RUU HIP di DPR yang di indikasikan ingin menghapus TAP MPR tentang pelarangan ideologi PKI serta ingin mengubah PANCASILA, Namun apa yang terjadi mereka-mereka yang selama ini teriak paling Pancasila diam seribu bahasa ketika ada sebuah upaya makar yang ingin mengganti ruh Pancasila.

Kini masyarakat semakin faham, mengapa dahulu Aidit tokoh PKI pernah mengaku paling islami, yang pada akhirnya dia menjadi otak pembantaian umat islam sendiri kala itu. Begitupun dengan saat ini, bahwa mereka yang suka mengaku paling Pancasila adalah orang yang sama ingin mengganti atau mengkudeta PANCASILA.

KUDETA GEROMBOLAN OTAK RUSAK…patut kita alamatkan kepada mereka yang mengaku paling pancasila, namun diam ketika pancasila di obok-obok. Mengaku paling Cinta NKRI, Namun diam ketika menyaksikan nasib anak negeri harus menangisi nasib di negeri sendiri, sedikitpun mereka tak mempunyai empati untuk sekedar bersimpati.

Kita patut curiga, sebenarnya otak mereka isinya apa ?

*Penulis adalah Pegiat Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *