Menjalani Tri Darma Perguruan Tinggi Di Masa Pandemi: Mendadak Webinar

FOKUSATU-Sudah tiga bulan sejak pandemi covid-19 hampir semua lini kehidupan terkena dampaknya, mencari akal untuk tetap sintas (survive). Di satu sisi banyak karyawan di-PHK dan perusahaan gulung tikar, sementara di sisi lain sektor farmasi, alat kesehatan, jasa logistik dan telekomunikasi, serta elektronik justru berhasil unggul. Kreativitas manusia pun mulai terbangkitkan. Yang dipikirkan bagaimana memanfaatkan peluang saat “di rumah aja” sampai batas waktu yang belum pasti.

Dari aspek pendidikan, pembelajaran daring menjadi persoalan. Tenaga pendidik yang gagap teknologi mau tidak mau harus mengenal teknologi agar dapat eksis menjalani profesinya. Bagaimana menciptakan pembelajaran tatap muka menjadi tatap maya. Metode pembelajaran dibuat sedemikian rupa agar tetap terpenuhi kurikulum dan rencana pendidikan yang sudah dicanangkan di awal semester. Pengajaran, penelitian, dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan Tri Darma Perguruan Tinggi, harus tetap berjalan seperti tidak terjadi masalah yang mahaberat ini.

Sektor pendidikan tinggi khususnya harus mulai berpikir untuk mengalihkan Tri Darma ini ke bentuk yang lain. Belajar mengajar beralih ke metode daring. Penelitian diutamakan berfokus pada masalah covid-19; kegiatan pengabdian kepada masyarakat dipalingkan kepada bakti sosial untuk membantu penderita covid-19 dan upaya pencegahan covid-19.
Aktivitas akademisi pada masa pandemi lebih memperjuangkan bagaimana agar jaringan internet dapat terus diakses dan kuota internet terpenuhi. Banyak pendidik menjadi aktif berselancar di dunia maya untuk menggali ilmu, mencari tahu bagaimana menjalankan metode pembelajaran secara daring.

Yang ramai di dunia maya pada masa pandemi ini adalah banyaknya webinar (website seminar) yang diselenggarakan di hampir seluruh pelosok tanah air oleh banyak perguruan tinggi. Webinar, dari yang berbayar hingga yang gratisan, dari yang dibatasi kuotanya hingga berbagi di live streaming YouTube, menjadi momen yang penting dicari mereka yang “di rumah aja”. Promosi webinar menjadi sangat agresif dibandingkan pada masa sebelum pandemi untuk dapat meraih peserta.
Apabila sebelum pandemi biaya seminar, workshop, atau konferensi memerlukan investasi yang mahal, belum ditambah akomodasi dan sebagainya, tetapi dengan adanya webinar dan wokshop daring semua menjadi terjangkau. ”Anda senang, kami puas”. Demikian prinsip berdagang webinar yang berlaku saat ini. Penyelenggara menggugah emosi peserta akan kebutuhan materi yang sesuai dengan profesinya kendatipun materi yang sama berulang-ulang diselenggarakan oleh penyelenggara yang berbeda-beda. Peserta merasa puas karena mendapat ilmu baru, dapat memperdalam ilmu, mendapat sertifikat eletronik gratis yang berguna untuk kenaikan jabatan, dan mendapat soft file materi. Semua itu diperoleh tanpa harus mengeluarkan biaya besar seperti pada saat sebelum pandemi.

Mendadak webinar di masa pandemi menjadi fenomenal sepanjang abad. Betapa tidak. Agar tidak bosan di rumah, agar tetap mendapat asupan ilmu dan hiburan, agar tetap produktif, banyak orang memanfatkan webinar, baik sebagai penyelenggara maupun peserta. Setiap detik flyer-flyer berganti-ganti di media sosial guna mempromosikan webinar untuk menjaring peserta. Tidak sedikit orang mengeluarkan biaya untuk ikut webinar apabila itu berbayar karena yakin akan mendapat sesuatu yang bermanfaat yang berguna bagi kehidupan atau profesinya. Webinar tetang kesehatan, investasi, kewirausahaan, pertahanan pangan, strategi belajar, dan masih banyak lagi topik-topik yang berkaitan dengan masa pandemic covid-19 disebarluaskan. Bayangkan saja, dalam sekali tayang yang hanya dalam waktu beberapa jam saja, pendapatan dari webinar, meskipun berbayar Rp200.000,00 hingga termahal Rp300.000,00 dalam sekejap meraih untung besar.
Bagi akademisi, pepatah ini tepat sekali: sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Penyelenggaraan webinar dapat mengundang para praktisi atau pendidik untuk berbagi ilmu dan pengalaman sehingga bisa menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk semester ini (Januari hingga Juli). Penonton atau peserta bahkan dapat mencapai ribuan jika kegiatan ditayangkan melalui live streaming. Youtuber pun mulai bermunculan dan mengajak penonton untuk menjadi viewer atau men-subscribe dengan tujuan untuk menambah pundi-pundi. Begitu pula, kemunculan jasa-jasa penyedia perangkat lunak untuk melengkapi kebutuhan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat ikut menawarkan apa yang menjadi kebutuhan para pendidik.
Apakah kesibukan dan keaktifan meraup untung seperti diuraikan di atas akan berlanjut pada New Normal? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Pembelajaran sepenuhnya mengandalkan dunia maya belum tentu efektif. Tidak semua mata pelajaran atau mata kuliah dapat tergantikan dengan pembelajaran virtual. Peran pengajar jika dengan metode virtual hanya sebatas mentransfer ilmu dan memberi nilai. Mungkin tidak ada lagi peran pengajar yang sesungguhnya juga sebagai pendidik (karakter) peserta didik. Di satu sisi, pendidik sudah jatuh hati pada pembelajaran secara daring yang baru dikenalnya tiga bulan belakangan ini. Keterampilan ini perlu terus diasah dan digunakan agar semakin terampil, di samping untuk mengimbangi ketertarikan generasi melineal yang dikenal sangat akrab dengan dunia digital.

Pembelajaran daring yang sudah berjalan saat ini dapat menjadi alternatif metode pembelajaran yang menarik dan perlu dipertahankan dan diperdalam di masa New Normal, selain tatap muka.
Bagaimana dengan kegiatan penelitian? Penelitian pada masa seperti ini harus menahan diri untuk turun lapangan menyebarkan kuesioner, melakukan wawancara langsung, survei, atau diskusi terpadu kelompok (focus group discussion/FGD). Semua bisa diubah dengan melakukan pengambilan data secara daring.

Pada New Normal, kegiatan penelitian seperti ini dapat dilanjutkan karena dapat memangkas dana penelitian cukup besar. Demikian pula, untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Banyak kegiatan berhenti terutama karena melibatkan mitra yang tinggal di desa atau pelosok sehingga tidak memungkinkan untuk didatangi karena masa PSBB atau karena lokasinya tercatat sebagai zona hijau. Namun, semua itu mau tidak mau harus dialihkan ke bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang lain. Jika berbentuk pelatihan, edukasi, sosialisasi, atau penyuluhan, media sosial menjadi solusi yang sangat membantu. Melalui YouTube atau pertemuan secara daring, misalnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat tetap berjalan. Kembali lagi akses internet menjadi kata kunci demi keberlangsungan kegiatan virtual ini, termasuk di wilayah yang jauh dari perkotaan.

Para pendidik tidak boleh tumpul dalam berpikir saat menghadapi situasi pandemi seperti sekarang ini. Pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi, yang merupakan kewajiban, tidak boleh terhalang oleh situasi apa pun. Para pendidik (guru atau dosen) perlu lebih kreatif dan inovatif untuk mencari celah bagaimana mengaktifkan Tri Dharma. Mereka perlu menyeimbangkan ketiga darma tersebut agar dapat berjalan beriringan dengan tetap mengutamakan perhatian kepada peserta didik. Bagaimana peserta didik dapat terus dibangkitkan semangat belajarnya agar tidak terjerumus ke zona nyaman “di rumah aja” dengan bermalas-malasan sehingga mengkerdilkan semangat belajarnya.

Penulis Oleh : Sri Hapsari Wijayanti (Dosen Universitas Atmajaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *