FKSDS Tangsel Gelar Seminar Virtual Pendidikan Dengan Tema Kebijakan Pendidikan Dasar Di Era New Normal

FOKUSATU-Seminar Pendidikan berjudul Kebijakan Pendidikan Dasar di Era New Normal oleh Forum Komunikasi Sekolah Dasar Swasta Tangsel (FKSDS) melalui aplikasi Zoom pada hari Kamis 4 Juni 2020 ,di mulai Pukul 08.30-selesai ,Dengan menghadirkan Pembicara; 

1. Prof Zaenuddin,

2-Mustofa (Wakil Ketua DPRD Tangsel), 

3-Susanti Sufiadi (Kemendikbud)

4-DR. Dirgantara Wicaksono, M. Pd (Akademisi di Beberapa Universitas di antaranya UNJ dan UMJ dan Founder Backpaker Indonesia mendidik), dan

5.Erfi Fitri Susari S.Ag (Praktisi Pendidikan)

Menghadapi new normal dalam dunia pendidikan, para pemangku kepentingan dari pengelola sekolah swasta di Tangerang Selatan mengatakan harus ada sinergi pusat dan daerah dalam peningkatan kualitas pendidikan dasar juga membagikan pengalaman praktik dari daerah dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sinergi tersebut dimaksudkan untuk menemukan cara terbaik proses belajar mengajar dengan tetap mengindahkan protokol PSBB agar menyebaran covid-19 tidak menjadi ancaman bagi penyelenggara pendidikan.

Menurut Prof Zainuddin sebagai pembicara pertama menceritakan bentuk penanganan covid-19 dan pendampingan pemerintah terhadap sekolah, guru, dosen dan mahasiswa di Malaysia. Zainuddin menambahkan peran pemerintah Malaysia terasa dalam pemberian subsidi bagi mahasiswa selama masa lock down, termasuk juga mahasiswa dari luar Malayasia, yang itu sangat membantu beban mereka.

Zainuddin menyampaikan bahwa protokol kesehatan diberlakukan pada proses pembelajaran dengan menggunakan cara mengetes semua yang terlibat dalam proses pembelajaran. Dan jika memang terjadi pelanggaran maka akan ditangani oleh pihak yang berwajib, untuk menegaskan bahwa proses pembelajaran jangan sampai menambah korban covid-19.

Adapun pembicara kedua bernama Mustofa yang menjabat sebagai pimpinan DPRD Tangsel menyampaikan Seminar yang internasional jadi ada berbagai bahasa, temen-temen bisa ada yang seru-seruan juga di rumah. Kita harus bersyukur diberikan kekuatan untuk terus mendidik meski masa pandemi corona berbuat lebih dan kratif di masa mendatang.

Bagi Mustofa, wacana new normal bersumber pada keputusan pemerintah, terkait untuk pendidikan terlalu dini karena grafiknya belum menurun di Indonesia, salah satu kota di Surabaya sudah masuk zona hitam bukan merah lagi. Tapi melihat kondisi ekonomi yang menjerit bukan hanya pengusaha tapi kalangan pengusaha kecil dan seluruh masyarakat bisa bekerja, maka lahirlah new normal di sekolah.

Mustofa berharap masukan untuk DPRD Tangsel, karena menurutnya new normal bukan berarti mengembalikan pada situasi semula tapi ada standar dalam pendidikan oleh para ahli, baru kita berlakukan di new normal di sekolah.

Bukan berarti standar PSBB tidak ada, tapi harus tetap mengindahkan protokol kesehatan seperti ketika masuk sekolah ada penumpukan orang tua. Ketiga, ada perhatian khusus bagi pendidikan efek dari perlakuan new normal bagi anak, karena beberapa daerah sudah banyak anak yang terpapar korona. Dugaan anak kuat dari hantaman covid-19 ternyata terbantahkan, karena bukti anak-anak terjangkit korona banyak.

Mustofa berharap kita semua mempunyai hasil maksimal, tapi tetap memperhatikan kesehatan anak-anak kita. Ada ungkapan bahwa ilmu bisa dicari di lain waktu kesempatan, tapi nyawa belum tentu kita cari lagi.

Menurut Mustofa, Pemkot Tangsel belum mempunyai keputusan atau regulasi taktis tentang pelaksanaan pendidikan di era new normal, paralel dengan kebijakan dari pusat yang masih dirumuskan. Kendati demikian DPRD Tangsel telah melakukan koordinasi dengan Pemkot Tangsel terkait infra struktur dan kebijakan di sekolah agar menyesuaikan dengan protokol kesehatan sesuai regulasi PSBB Nasional.

Tangerang Selatan yang masuk zona merah harus mengedapankan pembelajarn di era normal dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, karena menurutnya Tangsel termasuk zona merah yang harus tetap diwaspadai.
Mustofa menyampaikan rapid test bisa kita dorong kepada Pemkot Tangsel untuk mengetes guru-guru dengan cara rapid tes, tapi prinsipnya anggota dewan hanya diberitahu pergeseran anggaran. Guru-gurunya bisa melakukan tes ke puskesmas terdekat dengan koordinasi dengan pihak terkait.
Terkait kewenangan sekolah memberikan discount,Mustofa mengatakan efek dari korona pada ekonomi juga pendidikan, karena ada sekolah hanya dapat 20 persen dari yang biasa didapatkan yang berpengaruh pada manajemen sekolah karena bingung dengan administrasi sekolah.

Saran Mustofa, dari forum ini melahirkan rilis terkait kondisi ini pada dinas pendidikan bisa dipublikasikan di media, tapi lagi-lagi terkait setiap yayasan mempunyai kebijakan yang berbeda seperti ada yayasan memberikan potongan.

Sementara pembicara ketiga bernama Susanti Sofyadi menyampaikan bahwa sisi kebijakan tentang pelaksaan pendidikan di era new normal masih dalam tahap perumusan. Susanti mengatakan pelaksanaan belajar on line selama PSBB sangat tergantung pada infra struktur internet, sehingga level kompetensi anak didik akan mengikutinya, jika fasilitas on line tidak memadai makan proses belajar mengajar juga tidak akan optimal. Untuk penyesuaian kurikulum, kata Susanti, berpatokan pada keterbatasan media pembelajaran dalam bentuk visual ada audio visual yang tersedia. Susanti mencontohkan siaran pendidikan di TVRI yang ada dalam beberapa aspek sangat membantu proses belajar mengajar on line, tapi menurutnya terhambat ketersediaan video yang belum sesuai dengan konteks pembelajaran.

TVRI menurut Susanti, terbatas dalam penyediaan media video sehingga baiknya diproduksi video yang sesuai dengan konteks pembelajaran.

Susanti menegaskan pasca Belajar Di Rumah (BDR) pertama memang banyak yang telah dikerjakan, tapi yang paling harus diperhatikan adalah kondisi psikologis anak-anak yang telah melalui belajar dari rumah, mengingat tingkatan kemampuannya harus diperhatikan secara baik. Karena setiap anak mempunyai kemampuan berbeda dalam menjalani proses belajar di rumah selama ini, sehingga harus melakukan penyesuaian prinsip dasar pembelajaran terutama menjamin kesehatan lahir batin semua yang terlibat dalam proses belajar mengajar.

Susanti menyampaikan kebijakan umum para era normal meliputi :
Penyesuaian jam belajar
Adaptasi muatan kurikulum (penyederhanaan jabaran KD)
Lakukan identifikasi awal tingkat kompetensi siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tingkat kompetensi siswa (teach at the right level).
Untuk BDR perbanyak pembelajaran melalui aktivitas.
Untuk pembelajaran di sekolah menerapkan prosedur pencegahan penyebaran Covid-19 yang ketat
Pergunakan berbagai metode untuk melakukan penilaian terutama portofolio.

Bagi Susanti, pada new normal yang terpenting prioritasnya adalah keamanan, kesehatan, dan keselamatan. Kalau daerahnya aman, tapi sekolah tidak aman, maka sekolah dilarang melaksanakan pembelajaran yang mengumpulkan massa. Begitu juga kalau komunitas sekolah menyampaikan tidak aman, maka tidak perlu dibuka jangan hanya pindahkan tatap muka.
Susanti menambahkan bahwa menutup sekolah bukan berarti pembelajaran tidak terjadi, pilihannya bisa melaksanakan belajar dari rumah, baik secara daring, luring, atau blended, yang terpenting orientasi pembelajarannya berdasar pada kebutuhan siswa, yang juga penting, jangan sampai penggunaan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh, hanya memindahkan tatap muka ceramah di kelas.

Dalam penutupnya Susanti menekankan siswa harus difasilitasi untuk aktif belajar bukan berpusat pada guru, karena sekarang ini tidak ada tuntutan yang kuat siswa harus ikut ujian. Ini menjadi kesempatan bagi guru dan kepala sekolah untuk membuat inovasi-inovasi hal-hal yang relevan untuk kebutuhan belajar siswanya.

Pembicara keempat DR. Dirgantara Wicaksono, M. Pd menyampaikan dasar hukum program belajar terdiri dari:
Surat edaran perpanjangan kegiatan belajar mengajar di rumah dalam masa tanggap darurat covid19 tahap1-3 dengan nomor surat terakhir 065/900/DISDIK/2020.
Surat perintah tugas Dinas Pendidikan dan Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Kabupaten Banjar.

Persiapan Penyederhanaan Kurikulum Kedaruratan Nomor surat 425/929/PTK/Disdik
Dari dasar hukum tersebut, Pak Dirgantara membagi apa yang bisa dilakukan meliputi: 1-Program belajar dari rumah,
2-Program belajar siaran radio,
3- Workshop Online oleh PGRI dan 4-Penyederhanaan kurikulum kedaruratan.

Pak Dirgantara menegaskan program belajar online memungkinkan dilakukan dengan jaminan jaringan internet, melalui aplikasi zoom dan grup watsh up, program belajar offline untuk sekolah dengan sinyal internet tidak memungkinkan lewat pemberian lembar tugas harian dan pemberian tugas kecakapan hidup.

Pembicara kelima Erfi Fitri Susari menyatakan kondisi global UNESCO mencatat selama pandemi Covid-19, pada April 2020 sebanyak 300 juta lebih anak usia sekolah di dunia mengalami hambatan proses belajar, baik pelajar di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. UNESCO mencatat selama pandemi Covid-19, pada April 2020 sebanyak 300 juta lebih anak usia sekolah di dunia mengalami hambatan proses belajar. Baik pelajar di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Faktanya praktik pembelajaran dengan daring tidak sederhana yang dipikirkan.
Erfi menambahkan bahwa risiko coba dan salah dalam proses pembelajaran di rumah selama ini meliputi, pandemi Covid-19 menguji keandalan pembelajaran daring tersebut, Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bisa menjadi potret kerumitan pembelajaran daring. KPAI mencatat 213 keluhan dari berbagai daerah terkait pembelajaran jarak jauh ini dan terbukti 14 orang anak meninggal dari 500 anak yang positif terjangkit Covid-19.
Menurutnya model pembelajaran berbasis internet bukan barang baru, yang artinya perjumpaan guru dan murid bukan dengan tatap muka secara langsung itu sudah ada Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah membuka ruang pembelajaran berbasis internet.

Saran Erfi Pendidikan di era new normal harus memperhatikan ;
Pemutakhiran data kesiapan sekolah di daerah yang memiliki data langsung kesiapan sekolah.
Kesiapan infrastruktur sekolah demi menjaga penerapan social distancing terlaksana dengan baik.

Rapid tes guru dan karyawan dipastikan aman tak adapenularan dari pihak sekolah.
Penambahan ruang, sanitasi dan angkutan umum khusus anak sekolah.
Adapun untuk tujuan pendidikan daring menurut Erfi meliputi
Memastikan pemenuhan hak peserta didik dalam mendapatkan layanan pendidikan
Melindungi warga sekolah
Mencegah penyebaran dan penularan covid-19 di satuan pendidikan
Memastikan pemenuhan dukungan psikologis bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua.
Erfi menyampaikan khusus di lingkungan SD Cikal Harapan I BSD selama ini telah merancang ketentuan jika proses belajar mengajar di era new normal diberlakukan seperti menjamin protokol kesehatan hingga memberdayakan UKS.

Erfi menambahkan di beberapa negara telah melakukan pelaksanaan pendiidkan sekolah dengan tatap dalam new normal, setelah menjalani covid lebih dari delapan bulan hidup berdampingan dengan covid. Seperti di Australia hanya melakukan tatap muka sekali dalam satu minggu dengan melakukan evaluasi daring. Begitu juga di China yang telah banyak kita dengar, tapi pertanyaannya bagaimana di negara kita dan lebih khusus lagi kita di Tangerang Selatan. Menjadi PR kami di sekolah swasta yang bukan terbilang kecil yang kami kerjakan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *