Cegah Radikalisme di Kampus di Masa Pandemi, Persatuan Dosen Agama Islam Nusantara (Persada Nusantara) Gelar Webinar Nasional

FOKUSATU-Persatuan Dosen Agama Islam Nusantara (PERSADA NU) menggelar Webinar Nasional dengan tema “Menangkal Radikalisme di Lembaga Pendidikan Dalam Situasi Covid 19” Sabtu (20/6) melalui media Zoom dan channel Youtube Cak Masykur. Dalam sambutannya Ketua Persada Nusantara Hatim Gazali, menyampaikan bahwa Dosen-Dosen Agama di Perguruan Tinggi Umum (PTU) kekurangan ruang untuk diskusi mencurahkan ide dan gagasannya. berbeda dengan dosen-dosen di PTKI seperti IAIN atau UIN. Oleh karena itu Persada Nusantara tergerak mengadakan kegiatan ini dikarenakan berdasarkan survey ada banyak civitas akademik dan juga ASN yang pro terhadap Indonesia bersyariat mendukung khilafah dan lain sebagainya.

Dalam Webinar Nasional ini menghadirkan empat narasumber yakni Brigjen Pol. Ir. Hamli (Direktur Pencegahan BNPT); Dr. Iwan Syahril, Ph.D (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud); Dr. Drs. Senawi SNHB, M.P. (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNU Yogyakarta) dan Dr. Supian Ramli, MA (Dosen Universitas Jambi).

Dalam paparannya Hamli menjelaskan “Ada tiga pandangan golongan radikal terhadap covid, pertama merupakan wabah atau musibah yang datang. Kedua anggapan covid berupa dukhan atau kiamat kecil sehingga waktu yang tepat untuk melakukan propaganda dan mencari dana. Pandangan yang ketiga covid itu adalah waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan, karena aparat pemerintah sedang lengah dan fokus terhadap covid. Hal ini terbukti di masa pandemic ini teman-teman Aparat Kepolisian sudah mengamankan teroris di beberapa tempat di Tanah Air.

Hamli menambahkan, Strategi yang harus dilakukan adalah pertama, harus memberikan pemahaman yang lurus dan benar, Kedua, harus diberikan wawasan kebangsaan; Ketiga, mengentaskan kemiskinan, Keempat, bijak dan lebih teliti di media sosial, karena media sosial ini dijadikan pintu para teroris dalam merekrut anggota; Kelima Mengikuti kebijakan pemerintah terkait dengan penanganan covid. Sehingga narasi bahwa pemerintah menghalangi umat Islam dapat dihindari.

Sementara itu Dr. Iwan Syahril, Ph.D menjelaskan bahwa Dalam konteks covid di bidang pendidikan Pemerintah melalui Kemendikbud mengacu kepada Bapak pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara yang begitu lengkap dan kompleks yakni bahwa pendidkan adalah untuk memerdekakan serta memanusiakan manusia secara utuh.

Pemateri selanjutnya Dr. Drs. Senawi SNHB, M.P. menjelaskan Ada tiga masalah serius yang mengancam lembaga pendidikan untuk maju. Pertama Radikalisme dan terorisme, kedua Penyalahgunaan Narkotika, dan ketiga pergerakan LGBT. Selain itu sudah ada proyek radikalisme di lembaga pendidikan diantaranya dengan pembinaan keagamaan khususnya bagi mahasiswa PTU atau sekolah umum.

Senawi juga menambahkan ada enam pintu masuk radikalisme di Kampus. Pertama melalui mahasiswa baru yang sudah terpapar sejak SMA; Kedua melalui Dosen dan Tenaga pendidikan yang telah disiapkan; Ketiga melalui kurikulum; Keempat melalui Masjid atau Musala dan Kelima melalui Asrama Mahasiswa dan beasiswa.

Pemateri terakhir Dr. Supian Ramli menjelaskan bahwa Radikalisme di lembaga pendidikan sudah mengakar, harus ada pola atau resep untuk menangkal hal tersebut. Upaya menangkal Radikalisme yakni dengan memaksimalkan Peran para pimpinan Perguruan Tinggi/ Kepala Sekolah, Dosen/ Guru PAI, Keluarga, Tokoh masyarkat, Aparat Penegak Hukum dan juga peran Oraganisasi mahasiswa atau siswa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *