Agus Fatah : Indonesia Darurat Membaca

FOKUSATU-Buku apa saja yang telah anda baca selama masa karantina akibat pandemi Covid 19?. Jika buku yang anda baca menarik, beritahu saya ya.

Saat pandemi seperti sekarang ini, sejatinya kita punya banyak waktu untuk membaca, sehingga waktu yang kita punya tidak terbuang percuma, ya enggak?

Membaca adalah budaya yang harus tetap kita pelihara dan kembangkan bagaimana pun kondisi kita hari ini. Karena ia cerminan dari kualitas pribadi, komunitas dan bangsa. Bangsa hebat adalah bangsa yang memiliki habit (budaya) baca kuat.

Negara manakah yang memiliki budaya membaca yang kuat? Berdasarkan penilaian Programme for Internasional Student Assement (PISA), negara yang meraih skor tertinggi dalam peringkat kemampuan membaca adalah Cina dengan skor 555, disusul Singapura dengan skor 549 dan Makau diurutan ketiga dengan skor 529.

Lalu diposisi berapa negara kita tercinta, NKRI harga mati?, inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun, Indonesia berada posisi ke 74 (skor : 371) diantara negara-negara didunia.

Apa makna posisi Indonesia pada penilaian tersebut? maknanya Indonesia mengalami kondisi yang memprihatinkan terkait kualitas sumber daya Insani di masa yang akan datang. Indonesia dalam kondisi darurat literasi (darurat membaca).

Lebih lanjut penilaian PISA tersebut juga menempatkan Indonesia “istiqomah” di posisi 70an. Untuk penilaian kemampuan matematika Indonesia menempati peringkat 73 dan peringkat 71 untuk kemampuan sains. Sedangkan Cina tetap eksis diurutan pertama pada penilaian matematika dan sains, disusul kemudian oleh Singapura dan Makau di posisi kedua dan ketiga.

Sementara berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait Indeks literasi membaca masyarakat diperoleh data bahwa 80-90% Provinsi di Indonesia memiliki skor merah. Artinya masyarakat tidak mengakses perpustakaan, tidak membaca buku. Dirumah juga tidak tersedia koran maupun majalah.

Harus ada upaya serius, konsisten, kontinyu dan sistemik yang mesti dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat agar Indonesia tidak “rabun membaca dan pincang menulis” demikian ungkapan penyair besar Taufiq Ismail. Sebab jika bangsa Indonesia tidak memiliki habit (budaya) baca tulis yang kuat, rasanya sulit menjadi bangsa hebat.

Agar buku dan kegiatan membaca menjadi budaya keluarga Indonesia maka kiranya mendesak dilakukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, pemerintah pusat dan daerah perlu memberikan perhatian khusus kepada daerah atau provinsi yang memiliki tingkat indeks literasi membaca rendah.

Kedua, perlu pemanfaatan informasi disertai kampanye penggunaan internet yang sehat, sehingga dapat menunjang peningkatan aktivitas literasi masyarakat.

Ketiga, perlu upaya massif sistematik dan struktural untuk meningkatkan akses terhadap fasilitas literasi publik, baik di sekolah maupun di masyarakat.

Keempat, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) perlu diimbangi dengan dorongan pembiasaan dirumah, misalnya melalui kebijakan “Jam Belajar” pada waktu berkumpul dengan keluarga.

Kelima, melibatkan pihak swasta dan dunia usaha dalam pemenuhan akses literasi melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan. Misalnya dengan membuka perpustakaan umum, perpustakaan sekolah dan perpustakaan komunitas.

Keenam, bersinergi dengan berbagai komunitas dalam mengkampanyekan gerakan literasi sekolah dan masyarakat.

Ketujuh, membiasakan kegiatan membaca dirumah bersama anggota keluarga.

Ambillah buku sekarang,
Bacalah dengan tenang.
Sampaikan pada semua teman-teman baca buku menyenangkan.
Bacalah sekarang, baca buku dengan hati riang,
jadikan membaca kebiasaan, agar terang bangsa dan masa depan.

Bangsa hebat adalah bangsa yang mempunyai habit (budaya) baca kuat.(* Agus Fatah (Founder Salman Literacy Agency)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *