Aceng Nasir : Elvis, Bung Karno dan Anak Muda Antara Musisi dan Politisi

FOKUSATU-Elvis Presley adalah pengagum berat Sukarno, bisa dikatakan dialah Sukarnois dari Amerika kesukaan Elvis bukan pada pemikiran Bung Karno – karena Elvis adalah sosok yang malas membaca – tapi kesukaannya pada Bung Karno adalah pada pribadi yang flamboyan selain itu Elvis kerap diceritakan oleh manajernya yang keturunan Belanda Kolonel Tom Parker soal Bung Karno yang legendaris itu.

Namun yang diam diam menyukai Bung Karno justru John Lennon, tapi sayangnya ketika Bung Karno di masa jaya jayanya tahun 1963-1965, John Lennon masih anak anak dan sedang hot-hotnya Beatles, ungkapan Bitel Bitelan saat itu diumbar Bung Karno sebenarnya dalam rangka perang budaya kerna saat itu Indonesia sedang bersiap hajar Malaysia dan Singapura, tapi setelah Bung Karno melemah karena operasi politik Suharto, justru di Eropa pemikiran pemikiran new left berkembang dan semangkin canggih, di Perancis ada revolusi anak muda tahun 1968. Setelah John Lennon menyendiri dan agak mengabaikan Beatles, John Lennon kerap berpikir politik kiri, oleh sebab memang dia berasal dari kaum blue collar di Liverpool, beda dengan Paul McCartney yang berasal dari kelas menengah white collar, pandangan pandangan kiri John Lennon kemudian mengarah pada rincian Marxism paling otentik yaitu : “Membebaskan manusia dari keterasingannya”, dari sinilah kemudian lahir lagu paling legendaris sepanjang masa : “Imagine” Pandangan Marxian John Lennon segaris dengan pandangan Bung Karno, yaitu : “Politik Pembebasan” dan uniknya setelah Sukarno jatuh politik pembebasan jadi alat penting perkembangan dunia dan jadi alam pikir anak muda setelah kemudian jaman berganti dimana “Politik Pembebasan” yang separuh utopis, Hippies digantikan anak anak muda Yuppies (young urban profesional) ala Thatcherian.

Revolusi Perancis Mei 1968 sebenarnya adalah “Politik Pembebasan” paling gemuruh sepanjang jaman, awalnya adalah protes mahasiswa terhadap Universitas Universitas yang dianggap kolot, kemudian meluas pada penyadaran bahwa Perancis dikuasai kaum tua yang tidak adaptif terhadap perkembangan jaman, ada slogan yang terkenal saat revolusi mei 1968 itu “Il est interdit d’interdire” (“dilarang melarang”). Revolusi dilakukan dengan cara jenaka dan bergembira, semua pidato pidato di depan massa dengan cara melucu serta mengolok olok, walaupun sedikit ada kekerasan karena bentrok mahasiswa dengan Polisi, tapi Revolusi Jenaka itu justru mengakhir “De Gaulle” jatuh dari kekuasaannya, si jangkung pahlawan perang dunia II yang bisa melibas Jenderal Petain justru gagal mempertahankan kekuasaannya karena tertawaan mahasiswa.

Revolusi Mei 1968, menginspirasi banyak gerakan gerakan muda di seluruh dunia, di wilayah timur eropa konsepsi Tirai Besi mulai digugat, di Jepang timbul gerakan muda pembaharu yang tak puas Jepang nurut saja dengan Amerika Serikat, di Brasil dan Meksiko meledak revolusi muda yang tak suka dengan kaum tanah dan para bandit politik. Di Amerika Serikat Revolusi digerakkan para penyanyi, Joan Baez dan Bob Dylan jadi simbol paling diingat sejarah dalam revolusi bunga yang menantang perang Vietnam, kerumunan besar anak anak muda mencari kebebasan di peternakan Max Yasgur dan dari sinilah kaum Hippie menguasai dunia.

Revolusi pembebasan anak muda yang punya wabah gerakan mendunia itu justru berakhir di Indonesia, gerakan anak anak mahasiswa yang melawan Suharto dan berkehendak bebas atas pelarangan pelarangan tentara awalnya adalah gerakan otentik tapi kemudian malah jadi gerakan rivalitas antara Jenderal Mitro dengan Ali Moertopo, aspri-nya Suharto yang doyan klaim sana sini sebagai hasil gerakan politiknya untuk cari muka depan Suharto, belum lagi kemudian Ali Sadikin terseret dalam pidato pidato politik di kalangan mahasiswa dan mulai jadi idola baru, Gerakan mahasiswa itu meledak dalam kerusuhan Malari 1974, kebingungan mahasiswa dan operasi intelijen yang rapi meledakkan semua peristiwa sehingga Suharto melibas semua unsur Sukarnois terakhir yang terbawa dalam gerbong Orde Baru di tahun 1968 karena masih diperlukan dalam proses peralihan kekuasaan, seluruhnya dihabisi sampai pada titiknya Ibnu Sutowo ditendang keluar dari Pertamina, dan sampai saat ini Pertamina jadi perusahaan minyak yang lemah serta sapi perahan paling brutal sepanjang sejarah National Oil Company…

Gerakan mahasiswa yang massif kemudian jadi perlawanan perseorangan dan orang yang paling berani adalah pelawak Dono yang dengan keberanian revolusioner pasang poster besar di depan lapangan golf Rawamangun, dimana setiap akhir pekan Pak Harto main golf, poster itu ditulis dengan huruf besar : “GANTUNG SUHARTO”, sejak 1965 hanya Dono yang seberani itu, tapi Dono lepas dari serangan intelijen dan operasi senyap penangkapan, karena ya kan ada Indro Warkop disitu, siapapun tau Indro adalah anak pejabat yang amat berpengaruh. Tapi setelah itu gerakan politik intelektual digerakkan kelompok Warkop di puncak kekuasaan Orde Baru yang garang memainkan bayonet.

Di depan bayonet bayonet Suharto, Kelompok Warkop memberikan sodoran politik satir : “Tertawalah sebelum tertawa itu Dilarang” itu adalah kalimat paling terkenal sepanjang sejarah dan sebuah cara “mati ketawa ala Indonesia”…kelak di tahun 1998 pelawak Dono paling depan berdiri menantang Suharto, di barisan terdepan demonstran dan kerap jadi ikon politik anak anak muda di generasi yang lebih muda. Ia hanya berharap Indonesia ke depan menghargai kemanusiaan, intelektualitas dan kebebasan berekspresi.

Sudah lama anak anak muda menertawai sebuah kekonyolan dan sikap jenaka tapi sikap jenaka anak anak muda jangan diabaikan karena dari situlah sebuah kekuasaan bisa tenggelam.(*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *