Firdaus Turmudzi,M.Hum : Tabayun

FOKUSATU-Menyelamatkan kita dari ghibah, namimah dan fitnah

Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.

Pelajaran berharga dari pentingnya melihat, mendengar, membaca, dan bertanya adalah sebuah kebenaran dan kedamaian. Ke empat komponen itu musti menjaadi satu jika akan menanggapi sebuah berita, dan itulah yang dikenal dengan tabayun dalam istilah agama.
Kenapa musti bertabayun… ? belakangan ini di mana era informasi dan globalisasi yang masif akan informasi menantang kita untuk menyimpulkan sebuah berita yang valid dan tidak multi tafsir. Misalnya berita atau kabar , di tengah hiruk pikuk wabah pandemik Covid-19 yang semakin hari makin belum ada tanda-tanda “penurunan korbannya”, kita dihebohkan dengan viralnya bebasnya para narapidana, maraknya Begal dengan kekerasan, perampokan, munculnya peraturan pemerintah soal PSBB, larangan mudik dan banyak lagi yang lainya.

Jika apa yang kita Lihat, dengar, baca dan tanya akan sebuah hal atau berita tanpa kita satukan ke empat hal itu maka akan berakibat fatal keputusan atau kesimpulan yang akan kita dapat. Karenanya tabayun menjadi penting dalam menanggapi berita. Hal itu percis dengan Kisah tentang Abu Nawas dan Khalifah Harun Al Rasyid.

Dikisahkan bahwa pada suatu masa, Khalifah Harun Al-Rasyid marah besar pada Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima berita/ kabar bahwa Abu Nawas mengeluarkan FATWA bahwa “tidak perlu Rukuk dan Sujud dalam Shalat”.
Terlebih lagi, Raja Harun Al-Rasyid mendengar bahwa Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya adalah khalifah yang SUKA FITNAH !

Menurut menteri dan orang terdekatnya, Abu Nawas layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar hoax atau fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tetapi ada seorang penasihatnya yang memberi saran bahwa hendaknya Khalifah melakukan tabayun atau konfirmasi terlebih dahulu, langsung kepada yang bersangkutan.

Abu Nawas pun diseret ke pengadilan untuk di sidang oleh Khalifah.
“Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat bahwa Rukuk dan Sujud dalam Shalat itu tidak perlu dilakukan?” tanya Khalifah menahan marah.
“Benar, yaa khalifah.” jawab Abu Nawas dengan tenang.
Lalu apakah “Benar kamu mengatakan kepada masyarakat bahwa aku, Harun Al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?” Khalifah kembali bertanya, kali ini dengan nada suara yang lebih tinggi
”Benar, yaa Khalifah.” Abu Nawas masih menjawab dengan tenangnya
“Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!” kali ini Khalifah Harun Al Rasyid tidak bisa menahan marahnya. Ia berteriak dengan suara menggelegar,
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “wahai khalifah yang mulia , memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku di framing, dipelintir, seolah-olah aku berkata salah.”
“Apa maksudmu? Jangan kau membela diri, Kamu telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.” Lalu, Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang,
“wahai Khalifah yang mulia, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam shalat. Tapi dalam shalat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara shalat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud.”
Khalifah Harun Ar Rasyid sempat kaget dan diam setelah mendengarkan penjelasan dari Abu Nawas, sambil mengangguk agukan kepala khalifah bertanya lagi, lalu, “Bagaimana soal aku yang engkau sebut suka fitnah?” tanya Khalifah kali ini dengan nada mulai menurun.

Abu Nawas menjawab dengan senyum,
Oh… “ Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir surat Al-Anfal ayat 28, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, tentunya anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak. Itu berarti Anda menyukai ’fitnah’ (ujian) itu.”
Mendengar penjelasan dari Abu Nawas yang sekaligus kritikan itu, Khalifah Harun Al-Rasyid lalu berdiri sambil memeluk Abu Nawas dan meminta maaf akan kekeliruannya dalam menerima berita atau kabar tanpa bertabayun terlebih dahulu.

Tabayyun menghindari kita dari perkara GHIBAH, NAMIMAH DAN FITNAH
Dalam QS. Al-Hujarat: 6, disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Diterjemahkan telitilah, tabayun itu selaras dengan terjemahan Muhammad Sayyid Thantawi dalam Al-Qur’an At-Tafsir al-Muyassar, yang menerjemahkan fatabayyanu dengan fatatsabbatu (telitilah).

Penulis : Firdaus Turmudzi, M. Hum ( Pendakwah, Dosen, Aktivis Social, Kandidat Dr Pasca Sarjana Dakwah UIA, Sekretaris FAHMI TAMAMI MPW DKI Jakarta, FKDM DKI Jakarta)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *