Jual Jeroan Anjing Mati, Pria Ini Mengaku Takut Anaknya Tak Bisa Makan

FOKUSATU – Sukardi warga Rt 01 Dusun Plemantung, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul ditangkap polisi karena menjual jeroan bangkai anjing dan bangkai ayam di pasar tradisonal. Pria yang sudah berpuluh tahun menjual daging ini bersiasat agar meraup untung dari hasil penjualan daging tiren.

Penjualan daging tak layak konsumsi ini berhasil diungkap Unit Satintelbrimob Polda DIY berdasarkan laporan warga.
Panit Intel Satbrimob Polda DIY, Indra Uran menuturkan berdasarkan laporan warga diketahui awalnya Sukardi merupakan penjual tongseng daging anjing (sengsu) namun sudah berhenti sejak beberapa tahun yang lalu.

Kemudian Sukardi beralih menjual daging ayam mati dan jeroan anjing yang telah diolah. Indra mengatakan untuk mendapatkan bahan baku, Sukardi berkeliling ke kandang-kandang ayam di sekitar Kabupaten Bantul.

Jika mendapati ada ayam mati, ia pun membelinya dengan harga Rp2500 per ekor. Begitupun dengan jeroan anjing yang ia goreng dan dijual dengan mengakuinya sebagai jeroan iso babat sapi. “Jeroannya direbus, dibumbui terus digoreng. Ia mengaku itu jeroan sapi,” ujarnya saat ditemui saat penggrebegan, Kamis (28/12/2017).

Indra menambahkan daging dan jeroan itu dijual Sukardi ke Pasar Barongan, Bakulan dan pasar-pasar lain di seputar wilayah Bantul. Tempat jualannya kadang berpindah. Namun beberapa pembeli terkadang datang, mengambil langsung ke rumahnya. “Harganya kan miring, jadi orang pada beli,” imbuhnya.

Sukardi bersikeras tidak menjual bangkai hewan tersebut untuk konsumsi manusia. Ia mengaku daging dan jeroan itu dijual ke dua orang peternak babi untuk memberi makan hewan peliharaannya. Harganya berkisar antara Rp1.000-Rp2.000 per kilogram. Menurutnya dalam sebulan ia tidak menyetor secara rutin ke peternak tersebut. Pasalnya tidak setiap hari ada ayam maupun anjing yang mati. “Ya kadang kirim sekali habis itu libur, nunggu. Tidak selalu saya jual ke peternak, saya pernah mengubur juga kok,” katanya.

Ia mengaku terpaksa menjual bangkai hewan tersebut karena tidak tahu lagi harus bekerja apa. Oleh sebab itu ia nekat meskipun pengolahan daging tersebut pun tak luput dari bahaya penyakit dan kuman yang mengintai. Terkait laporan warga yang menyebut ia menjual ke pasar tradisional, ia mengelak mentah-mentah. Ia berkali-kali menegaskan jika ia tak pernah menjual daging tersebut untuk konsumsi. Menurutnya daging dan jeroan tersebut ia olah karena ogah rugi jika dijual langsung sebagai bangkai utuh. “Ya saya olah dulu. Saya tidak takut kok wong ini bukan dimakan orang. Saya cuma takut anak saya tidak bisa makan,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

36 + = 46