Difteri Mulai Menyerang Pengungsi Rohingya

FOKUSATU – Pengungsi Rohingya yang menetap di pengungsian Cox’s Bazar, Kutupalong, Bangladesh, mulai terserang berbagai penyakit. Tempat tinggal yang kumuh dan kurangnya bantuan berupa makanan serta obat-obatan membuat kondisi para pengungsi memprihatinkan.

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini banyak pengungsi Rohingya yang terserang difteri. Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Corynebacterium. Gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, dan peradangan pada selaput lendir.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pengungsi Rohingya mengidap penyakit ini. Sebab, tidak semua pengungsi mendapat imunisasi difteri. Ditambah lagi tingkat kebersihan di lingkungan pengungsian sangat buruk.

Mereka sulit mendapatkan air bersih dan pelayanan kesehatan. Kabarnya, sampai saat ini penyakit tersebut telah menewaskan enam orang, sementara 110 lainnya masih menjalani perawatan intensif. Jika tidak segera diatasi, maka wabah lainnya seperti campak, kolera, dan rubella bakal menjangkiti pengungsi.

“Lingkungan yang kotor menjadi faktor utama timbulnya wabah tersebut. Tempat yang kotor menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit menular lain seperti campak, kolera, dan rubella,” ungkap perwakilan WHO di Bangladesh, Navaratnasamy Paranietharan, seperti dikutip dari laman resmi WHO, Minggu (10/12/2017).

Kini, pihak WHO bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Bangladesh, serta UNICEF guna menanggulangi wabah tersebut. WHO mengimunisasi para pengungsi agar terhindah dari bahaya penyakit meular itu.

“Kami harus memberikan vaksin kolera kepada sekitar 700.000 ribu pengungsi dewasa dan imunisasi campak-rubella untuk 350.000 anak-anak. Kami telah mengirim seribu obat untuk menanggulangi wabah difteri,” sambung Navaratnasamy Paranietharan.

Navaratnasamy Paranietharan menambahkan, cara paling ampuh mengatasi wabah tersebut adalah melalui imunisasi. Pihaknya mengupayakan pelayanan kesehatan yang memadai bagi para pengungsi yang melarikan diri dari Rakhine, Myanmar, sejak Agustus 2017 lalu.

“Kami bekerja sama dengan beberapa pihak untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi. Cara terbaik mengendalikan wabah ini adalah melindungi pengungsi melalui vaksinasi. Kami menjamin perawatan kesehatan bagi mereka yang telah terjangkit wabah tersebut,” tegas Navaratnasamy Paranietharan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 79 = 82