Dua Koki Cantik Ini Paling Kehilangan Sosok Bondan Winarno

FOKUSATU – Meninggalnya pakar kuliner Indonesia, Bondan Winarno, Rabu (29/11/2017), menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan penggemar. Pria yang terkenal dengan jargon Maknyus dan Top Markotop itu meninggal dalam usia 67 tahun karena penyakit yang diderita sejak 2005 silam.

Kepergian Bondan Winarno di Rumah Sakit Harapan Kita, Rabu pagi pukul 09.05 WIB itu membuat dua koki cantik nanseksi, Aiko Sarwosri dan Farah Quinn berduka. Mereka menyampaikan salam perpisahan kepada Bondan melalui laman Instagram masing-masing.

Lewat akun @farahquinnofficial, Farah Quinn mengungkapkan kesedihan atas kepergian Bondan untuk selamanya. Menurutnya, Bondan merupakan salah satu sahabat yang sangat baik. “Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Sedih sekali kita telah kehilangan sahabat dan salah satu pakar kuliner Indonesia. Pak Bondan Winarno. Turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Sending love and prayers,” tulis dia.

Sama seperti Farah Quinn, Aiko juga merasa kehilangan sosok senior seperti Bondan. Mantan kekasih Saipul Jamil itu turut berduka atas meninggalnya Bondan yang banyak memberikan inspirasi. “Masyarakat Indonesia kehilangan salah satu pakar kuliner hebat Indonesia. Selamat jalan Pak Bondan Winarno. Turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian beliau. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. We already miss u pak,” ungkap Aiko.

Aiko Sarwosri (Instagram @aiko_sarwosri)Selama berkecimpung di dunia kuliner, Bondan memang banyak memberikan inspirasi kepada koki muda seperti Farah Quinn dan Aiko. Dia merupakan salah satu food tester yang sangat populer. Padahal, sebelumnya dia mengawali karier sebagai penulis lepas dan jurnalis.

Ungkapan kesedihan Aiko Sarwosri atas kematian Bondan Winarno (Instagram @aiko_sarwosri)

Ungkapan kesedihan Aiko Sarwosri atas kematian Bondan Winarno (Instagram @aiko_sarwosri)

Dikutip dari Wikipedia, pria yang terkenal dengan jargon Maknyus dan Top Markotop ini pernah menjadi pemimpin redaksi surat kabar Suara Pembaruan pada 2001-2003. Jauh sebelum itu, dia dikenal sebagai penulis lepas yang karyanya dimuat beberapa surat kabar nasional, mulai dari Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Tempo, hingga Asian Wall Street Journal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 3 = 1