Lontong Cap Gomeh Wujud Akulturasi Budaya Asli Indonesia

WARTAHOT – Tak lama lagi masyarakat Tionghoa merayakan Imlek yang jatuh tanggal 28 Januari 2017. Bagi Anda yang merayakan hari raya Imlek (Tahun Baru Cina) mungkin tidak asing juga dengan perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada tanggal 12 Februari 2017. Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek. Bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh Go = Lima. Meh = Malam). Mengenai hari raya ini Anda mungkin mengenal kuliner yang biasa disebut lontong cap go meh.

Lontong cap gomeh lahir dari budaya peranakan antara budaya Tionghoa dengan budaya Indonesia. Hidangan ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng ati, telur pindang, abon sapi. bubuk koya, sambal, dan kerupuk. Lontong Cap Go Meh biasanya disantap keluarga Tionghoa Indonesia pada saat perayaan Cap go meh, yaitu lima belas hari setelah Imlek.

Lontong cap gomeh aslinya hanya sebatas nama karena masakan tersebut sebagai bentuk pembauran warga keturunan China dengan warga setempat khususnya di pulau Jawa. Seperti diketahui para pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa misalnya Semarang Pekalongan Lasem, dan Surabaya. Pada saat itu hanya kaum laki-laki etnis Tionghoa yang merantau ke Nusantara mereka menikahi perempuan Jawa penduduk lokal hal inilah yang melahirkan perpaduan budaya Peranakan-Jawa.

Perayaan aslinya sendiri menggunakan makanan simbolis yuanxiao atau lebih dikenal istilah ronde, yang menyimbolkan kesatuan keluarga, karena terbuat dari tepung ketan. Sebagai kuliner khas Jawa, ronde biasa disebut dengan wedang ronde.

Karena perpaduan falsafah tersebut Cap go meh oleh kaum peranakan Jawa mengganti hidangan yuanxiao (bola-bola tepung beras) dengan lontong yang disertai berbagai hidangan tradisional Jawa yang kaya rasa, seperti opor ayam dan sambal goreng. Lontong cap go meh dipercaya melambangkan akulturasi budaya dari semangat pembauran antara kaum pendatang Tionghoa dengan penduduk asli di Jawa.

Dipercaya pula bahwa lontong cap go meh mengandung perlambang keberuntungan, misalnya lontong yang padat dianggap berlawanan dengan bubur yang encer. Hal ini karena ada anggapan tradisional Tionghoa yang mengkaitkan bubur sebagai makanan kasta bawah. Bentuk lontong yang panjang melambangkan panjang umur. Telur dalam kebudayaan apapun selalu melambangkan keberuntungan, sementara kuah santan yang dibubuhi kunyit berwarna kuning Keemasannya melambangkan keberuntungan. (Gbr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

93 − 83 =