Ketulusan Sang Pemandu Impian

FOKUSATU-Bagi para pendaki gunung, pastilah nama “Sir Edmund Hillary” tidaklah asing. Dia dikenal di seluruh dunia sebagai orang pertama yang mampu menaklukkan puncak gunung Everest, yang merupakan puncak gunung tertinggi di dunia.

Sebelumnya telah banyak para pendaki gunung dunia, termasuk Edmund Hillary, yang berkali-kali melakukan ekspedisi untuk menaklukan puncak tertinggi tersebut. Namun selalu gagal tidak dapat benar-benar mencapai puncaknya karena memang medannya sangat sulit.

Sir Edmund Hillary yang berasal dari Selandia Baru sebenarnya sudah mulai melakukan ekspedisi penaklukkan puncak gunung Everest sejak tahun 1951. Namun akhirnya baru pada tanggal 29 Mei 1953, ia berhasil menjadi *orang pertama* yang menaklukan Puncak Everest pada ketinggian 29.028 kaki di atas permukaan laut. Keberhasilan ekspedisi penaklukannya tersebut dilakukannya bersama seorang _Sherpa_ (sebutan untuk pemandu orang asli Nepal) yang bernama Tenzing Norgay.

Keberhasilan Sir Edmund Hillary ini tentu saja menjadi peristiwa bersejarah dan fenomenal, dimana Perang Dunia II saat itu baru saja mereda. Berkat prestasi gemilangnya itulah, maka Sir Edmund Hillary mendapatkan penghargaan gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II, dan menjadi orang terkenal di seluruh dunia.

Lalu, bagaimana dengan Tenzing Norgay yang telah berjasa menjadi pemandu jalan bagi Edmund Hillary dalam ekspedisinya? Mengapa dia tidak diberi penghargaan yang sama dan terkenal seperti halnya Sir Edmund Hillary? Padahal dialah penentu keberhasilan Sir Edmund Hillary dalam ekspedisinya menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya di Puncak Everest…

Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali turun dari Puncak Everest, hampir semua wartawan dan reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary. Tapi ada seorang reporter yang “jeli” malah mewawancarai Tenzing Norgay. Berikut cuplikan wawancaranya :

Reporter (R) : “Bagaimana perasaan anda dengan keberhasilan menaklukan puncak gunung tertinggi di dunia?”

Tenzing Norgay (TN) : “Sangat senang sekali!”

R : “Apakah anda seorang _sherpa_ (pemandu) bagi Edmund Hillary? Tentunya posisi anda berada di depannya? Bukankah seharusnya anda menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Everest?”

TN : “Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah lagi mencapai puncak, saya mempersilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia ini.”

R : “Mengapa anda melakukan itu?”

TN : *”Karena itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya… impian saya adalah berhasil membantu mengantarkannya meraih impiannya…”*

Luar biasa!! Itulah sekelumit wawancara dan kisah seorang sherpa bernama Tenzing Norgay. Dia tidak menjadi serakah dan hasad hatinya karena takut kalah populer dengan rekan seperjuangannya, sekalipun punya kesempatan untuk itu. Nama besar dan penghargaan yang diperoleh Sir Edmund Hillary tidak dia sesalkan, tapi malah dia banggakan. Tenzing Norgay turut merasa bangga dan bahagia karena impiannya pun tercapai yaitu dapat membantu mengantarkan mitranya, Edmund Hillary, mencapai impiannya.

Nama Tenzing Norgay dan Edmund Hillary tersebut akhirnya diabadikan menjadi nama sebuah Bandara International di Nepal yaitu *Tenzing Hillary Airport*

Apa yang terpikir oleh anda setelah membaca kisah inspirasi di atas?
Cobalah kita renungkan beberapa hikmah dari kisah tersebut. Faktanya :
Kesuksesan itu tidak dapat kita raih hanya seorang diri, tanpa bantuan orang lain di sekitar kita.
Kunci kesuksesan itu adalah kerjasama tim yang solid dan tulus.

Siapa sajakah orang-orang di sekitar kita yang telah menjadi seorang _”Sherpa”_ bagi pencapaian kesuksesan kita selama ini…? orang-orang yang sebenarnya juga telah berjasa melakukan hal serupa seperti Tenzing Norgay?

Mungkin selama ini kita telah mengabaikan atau meremehkan peranan mereka. Bisa jadi selama ini kita hanya merasa bangga pada diri sendiri, dan tidak menghargai peran-peran mereka yang sesungguhnya telah berjasa mengantarkan impian kita. Padahal mereka telah dengan tulus mendukung kita, tanpa banyak menuntut apa-apa….

Mereka yang berperan sebagai “Tenzing Norgay” kita bisa saja :
Orangtua, guru,
Pasangan hidup, sahabat, mitra bisnis,
tetangga kita
atau Keluarga/Kerabat lainnya

Sudahkan kita ungkapkan rasa terimakasih yang tulus pada mereka, memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya dan mendo’akan kebaikan untuknya? Jika belum, seharusnya bukanlah suatu hal berat untuk kita lakukan dengan ketulusan hati…

Berdo’alah juga, semoga kita pun dapat menjadi seorang _”Sherpa”_(pemandu) yang berhasil membantu mengantarkan impian-impian orang-orang yang kita sayangi dengan tulus, seperti halnya Tenzing Norgay terhadap Sir Edmund Hillary.

Sebagai orangtua, semoga kita dapat menjadi _sherpa_ (pemandu) yang baik dan tangguh untuk anak-anak kita dalam mencapai impian-impian mereka, hingga kita bisa mengantarkan mereka melalui “karpet merah” kesuksesan mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Tentunya kesuksesan anak itu juga merupakan impian bagi setiap orangtua, bukan..?!

Khusus bagi para guru, semoga juga dapat menjadi “Tenzing Norgay” bagi anak-anak didiknya dalam meraih cita-cita mereka… dan menjadikan itu sebagai tabungan amal jariyah di akhirat nanti.

Aamiin Allahumma aamiin…

_Selamat beraktivitas, Selamat berkarya, Selamat mencetak sejarah dan Selamat beramal jariyah….

Selalu semangat…Allahu Akbar

Penulis : Dina Saptanti (Founder of AN NAHL Islamic School)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *