FGD MKWU Pendidikan Agama, Pancasila, Dan Kewarganegaraan Berbasis Kekhususan Untuk Politeknik

FOKUSATU-Konsorsium mata kuliah wajib umum bersama dengan Unit Peningkatan Mutu Pembelajaran Politeknik Negeri Jakarta 11 Agustus 2020, mengadakan Forum Group Dicussion (PGD) dalam rangka menyamakan visi pembelajaran MKWU berbasis politeknik.

Dalam sambutannya, Wakil Direktur Bidang Akademis, Nunung Martina, M.T. mempertanyakan istilah “kekhususan” yang terdapat pada tema, semua pendidikan di Indonesia berbasis kompetensi, mohon istilah dapat disesuaikan dengan aturan yang ada.
Wadir I merasa berbahagia karena selama 12 tahun menjadi ketua P3AI, sekarang Unit Peningkatan Mutu Pembelajaran (UPMP), baru kali ini MKWU mengadakan FGD.

MKWU merupakan matkul wajib umum yang sangat penting, penerapannya di Politeknik Negeri Jakarta, nilai MKWU tidak boleh D. Walaupun IP 3,5 tetapi nilai MKWU D mahasiswa akan Drop Out (DO). Namun, pentingnya MKWU sampai saat ini sering dianggap sepele, sehingga mahasiswa kurang respek, institusi yang menganggap remeh kedudukan dosen, jika tidak tersedia dosen di suatu jurusan, dianggap boleh pinjem ke jurusan lain bahkan dosen latar belakang apapun bisa mengajar MKWU.

Pentingnya MKWU, tertulis dalam UU Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi tentang kurikulum, yaitu bahwa Kurikulum Pendidikan Tinggi dikembangkan oleh setiap Perguruan Tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi untuk setiap Program Studi yang mencakup pengembangan kecerdasan intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan. Kurikulum Pendidikan Tinggi wajib memuat mata kuliah Agama; Pancasila; Kewarganegaraan; dan Bahasa Indonesia. Kurikulun ini dilaksanakan melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Dosen MKWU sangat berat karena berada di dimain afektif yang tidak mudah untuk diukur
MKWU harus aplikabel dengan kompetensi dan dunia kerja, jadi pengembangan Kurkulum harus sesuai dengan kompetensi jurusan dan program studi yang ada di Politeknik.

Intinya, MKWU harus bervisi Indonesia yang menamamkan nilai-nilai Agama, Pancasila, wawasan nusantara, dan ketahanan nasional.
FGD yang dibuka oleh Wakil Direktur Bidang Akademia itu menampilkan narasumber Waway Qadratullah S.,Spd., M.Ag. dosen Agama Islam Politeknik Negeri Bandung. Sebagai pembukaan, dijelaskan bagaimana majunya negara Korea Selatan tapi kasus bunuh diri sangat banyak bahkan ada anak usia 10 tahun yang bunuh diri. Padahal di Korsel, tingkat pendidikan peringkat ke-5 dunia namum ada kelemahan pondasi dalam pendidikan di Korsel Pendidikan di Korsel seakan menanamkan ketidakbahagiaan pada siswa, dengan mamaksakan dirinya menjadi sempurna.

Contoh anak SMA menabung untuk operasi plastik.
Sebaliknya Indonesia tidak maju-maju, salah satunya karena orang Indonesia tidak konsisten, contohnya orang Indonesia jika berdagang beras tidak sukses, ganti besoknya dagang buah. Di Indonesia juga masih banyak masalah, antara lain korupsi, penyalahgunaan narkoba. Masalah ini hanya dapat diatasi denan aspek spiritual yang melandasi karakter baik dan buruk, yaitu penddikan agama
Melalui pendidikan agama, akan dibentuk ilmuwan/profesional yang agamis bukan ahli agama yang professional. Sehingga pendidikan agama harus sesuai dengan kompetensi, pembelajaran yang holistic dengan observasi untuk menggali pola keberagamaan di suatu masyarakat.
Nara sumber bidang pendidikan Pancasila adalah Kolonel Laut (E) Dr. Beni Rudiawan, S.E., M.M, M.Si. (Han). Dosen UNHAN itu membuka wacananya dengan lingkungan strategi yang melingkupi Indonesia baik global, regional, dan nasional.

Masalah yang dihadapi Indonesia ini dapat diatasi dengan pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila. Namun, semua orang mengaku Pancasila Ini tetapi kenyataannya masyarakat masih digerogoti dengan kemiskinan, korupsi, konplik SARA, kebodohan, narkoba, kerusuhan.
Bangsa Indonesia mengaku nasionalisme tetapi ketika dihadapkan pada kenyataanya gagap dalam penerapan nilai-nilai nasionalisme. Salah satu penyebabnya adalah indroktinasi dalam pendidikan Pancasila. Pembelajaran Pancasila harus menerapkan strategi yang membuat peserta didik aktif dan menyadari bahwa masalah kehidupan dapat diselesaikan dengan Pancasila.

Pembelajaran yang disarankan dengan pendekatan studi kasus, diskusi, seminar, role game, dan ugas kelopok. Hal ini akan membentuk pembelajar yang aktif sekaligus sebagai pembelajar yang keilmuan sehingga membentuk pribadi yang mempunyai keterampilan berkomunikasi, interaktif, mampu bekerja dalam kelompok, dan dapat menghargai orang lain. Inilah karakter yang saat ini dibutuhkan di Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *