Agus Fatah : Parenting With Mountainering

FOKUSATU-Ada berbagai metode yang para ayah dapat gunakan untuk membentuk karakter anaknya. Salah satu metode yang bisa digunakan para ayah untuk membentuk karakter anaknya adalah kegiatan mendaki gunung (Mountainering).

Banyak karakter anak yang bisa dibentuk oleh para ayah dalam proses pendakian gunung tersebut antara lain: sabar, kerjasama, tangguh, pantang menyerah, fokus, peduli syukur dll.
Disamping dapat membentuk karakter anak, pendakian gunung juga bisa membangun sisi spritual: aqidah dan akhlaq anak melalui tafakur/ tadabbur alam.

Mendaki gunung memang membutuhkan kekuatan fisik dan mental, anak anak kita punya potensi fisik dan mental yang bisa ditempa dalam proses pendakian gunung. Dan anak anak, terutama remaja umumnya suka tantangan dan pendakian gunung adalah tantangan yang menarik untuk ditaklukkan remaja.
Pengalaman kami di lapangan membuktikan hal tersebut.

Tahun 2004, kami bersama team (Bunda Neno Warisman dan Ayah Irwan Rinaldi) di minta sebuah perjalanan umroh untuk mengemas program Umroh untuk anak dan Remaja yang kemudian di singkat menjadi program UMAR ( Umroh Anak dan Remaja). Di Program UMAR tersebut setelah prosesi umroh selesai, kami mengajak anak anak untuk melakukan simulasi perang Uhud dan menantang mereka mendaki Jabal Tsur tempat Rasulullah bersembunyi bersama Abu Bakar menghindari kejaran para Kafir Quraisy.
Pendakian kami lakukan selepas sholat ashar dan tepat masuk waktu magrib kami tiba di Jabal Tsur.Tentu tidak semua remaja yang ikut pendakian sanggup mencapai puncak Jabal Tsur yang terjal dan berada di ketinggian 5000 kaki tersebut.

Kedatangan kami disambut ramah oleh penjaga Goa Tsur, seorang muslim berkebangsaan Afganistan,

” Assalamu’alaikum Ahlan wa sahlan fil ghoor Tsur, min aina antum?,”, begitu ucapnya,
” Wa’alaikum salam, nahnu min Induunisia, jawab kami.
“Maasyaa Allah, Induunisia ba’iid, baarokallah, tafadholuu, ijlisuu, qohwah au say,” begitu ia mempersilahkan kami duduk dan menawarkan kopi dan teh dengan penuh keramahan khas muslim timur tengah.

Kemudian kami ceritakan maksud kedatangan kami ke gua Tsur ini, yakni untuk menapak tilasi perjuangan Rasulullah.
Kepada dua remaja yang berhasil tiba dipuncak Jabal Tsur, kami bertanya apa kesan dan komentarnya tentangan pendakian Jabal Tsur ini?,
“Capek ya kak jadi Nabi”, jawab salah satu dari mereka.
Mendengar jawaban itu kami dan team kaget, tapi kami berusaha menyimpan kekagetan tersebut.
Dari atas puncak Jabal Tsur itu, kami menikmati pemandangan dan suasana kota Mekkah. Masjidil Haram tampak dari kejauhan menyembulkan cahayanya yang sangat terang dan mewah lewat lampu-lampunya yang besar.

Pulang dari umroh, kami dapat informasi bahwa remaja yang waktu kami tanya komentarnya tentang pendakian ke gunung Jabal Tsur menjawab dengan jawaban jadi Nabi itu capek kini aktif beribadah dan berkegiatan dimasjid. Ia menjadi aktifis remaja masjid, ditempat tinggalnya ( BSD Tangerang).

Subhanallah! Begitulah remaja, sering mengejutkan kita.
Kembali ke parenting with mountainering (membangun karakter anak melalui pendakian gunung). Berdasarkan pengalaman kami bersama team dalam menangani anak anak yang menghadapi masalah di usia remajanya, terutama bermasalah dengan orangtua akibat komunikasi yang kurang harmonis. Biasanya kami menanyakan pertanyaan yang hampir sama, baik kepada orang tua dan remaja. Kepada sang remaja kami bertanya, apakah keinginanmu yang ingin kamu lakukan bersama ayahmu?. Sang remaja itu menjawab:
” Mendaki gunung”.
Kepada sang ayah kami bertanya: “Apakah ayah pernah mendaki gunung bersama ananda?”

Parenting with mountainering adalah salah satu metode dan solusi terhadap persoalan parenting ( pola asuh ayah) yang “kering”.
Saya punya seorang sahabat pendaki gunung sejati yang memang hobinya (kerjanya) mendaki gunung. Silahkan anda sebut saja gunung di Indonesia secara random (acak) kemungkinan besar gunung tersebut sudah beliau daki. Lebih dari 30 gunung sudah beliau daki bersama putrinya.
Beliau memilih mengasuh anaknya : menanamkan karakter, tangguh, fokus, pantang menyerah, sabar, kerjasama dan bersyukur melalui aktifitas pendakian gunung. Hampir setiap liburan sekolah ia siapkan pendakian gunung untuk anaknya. “Saya ini pendaki gunung, beginilah cara saya mendidik anak saya”, begitu jawabanya saat saya tanya tentang bagaimana beliau mendidik anaknya.

Sang ayah ini tidak sedang bereksperimen atau bermain main dalam mendidik anak anaknya, karena mendidik anak bukanlah pekerjaan main main. Beliau merasakan betul bagaimana kegiatan mendaki gunung itu telah menempa dan membentuk karakternya.
Parenting with mountainering ini sudah ia lakukan sejak anaknya berusia 8 tahun. Dan bersama anaknya ia sudah mendaki puncak gunung tertinggi di Indonesia, yakni puncak Jaya wijaya (Cartenz) Papua di tahun 2017. Beliau bersama anaknya juga pernah melakukan pendakian tektok (tanpa jeda) selama sepekan mendaki 3 gunung: gunung Slamet, Sundoro dan Sumbing ( Triple S). Dan tahun lalu beliau bersama anaknya berhasil melakukan pendakian ke gunung Kilimanjaro, gunung tertinggi di Afrika (5.895 m)

Subhanallah, luar biasa apa yang dilakukan ayah ini., dan alhamdulillah hasilnya sebanding dengan usahanya. Hasil tidak akan menghianati kerja keras begitu qoute kekinian menggambarkannya. Anaknya kini telah tumbuh menjadi seorang remaja muslimah tangguh, low profile dan peduli pada sesama. Kepeduliannya pada sesama tersebut ia wujudkan dalam aksi nyata membantu sesama: korban bencana Tsunami di Palu dan Donggala dan korban banjir di Bogor dan Bekasi tahun lalu. Dan putrinya ini tercatat sebagai relawan termuda di lokasi bencana.

Siapakah sosok ayah hebat ini?, beliau adalah: Founder Petualang Muslim, aktifis masjid Daarussalam perumahan Kota Wisata Cibubur, beliau adalah : Aulia Ibnu. Sampai Article ini ditulis Ayah Aulia begitu kami memanggilnya, bersama putrinya Khansa Syahla (siswa kelas 8 SMP Annahl) baru saja berhasil menancapkan bendera merah putih di puncak gunung Patah Bengkulu dalam rangkaian uji coba pendakian 7 trek terpanjang) (7 Longest Hiking Trail) di gugusan pulau Nusantara. Saat ini Khansa adalah pemegang rekor Seven Summit Indonesia (Pendaki 7 Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia). Mari kita doakan Khansa bisa mewujudkan mimpinya untuk mendaki gunung Elbrus di Rusia dan gunung Aconcagua di Argentina. Kita doakan pula agar Khansa menjadi putri sholehah yang bermanfaat bagi ummat. Aamiin…

Yuk kita didik anak anak kita menjadi anak anak yang tangguh, sabar, fokus, mampu bekerja sama, merasakan langsung kebesaran Ilahi, peduli lingkungan melalui pendakian gunung.
Kalau bukan sekarang kapan lagi? Mumpung Allah masih memberi kita waktu dan kesehatan.

#parentingwith mountainering
#greenparenting

Agus Fatah
(Penggagas Green Parenting)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *