LAMAKERA EPICENTRUM PERADABAN ISLAM, IKHTIAR MELANJUTKAN GAGASAN PARA PENDAHULU

FOKUSATU-Sejarah menarasikan bahwa keunggulan construksi peradaban islam dibangun dengan kerangka epistemologi, dirawat dengan moral yang berlandaskan pada iman. Olehnya antara iman, ilmu dan moral ketiganya merupakan bahagian integral yg tak terpisahkan guna mendukung tegak dan keberlangsungan peradaban robbaniyah.

Sejarah juga tidak luput mengisahkan kepada kita tentang perjalanan, jatuh bangun peradaban suatu bangsa. Begitu banyak bangunan pencakar langit runtuh, hancur dan berantakan. Selain itu tragedi yang paling memilukan dihadapan kita, ialah betapa banyak negara, kekaisaran, emperium yang mencapai puncak kejayaan, kemudian perlahan runtuh dan bubar, tidak menyisahkan puing puing. Itu semua sebagai akibat dari proses pembangunan yg kehilangan dimensi iman, ilmu dan moral di dalamnya.

Contoh yang paling gampang terdekat dengan kita misalnya kerajaan Singosari, Daha, Majapahat, Mataram Hindu, Pajajaran, Sriwijaya, semuanya pernah jaya di zamannya, tapi kini hilang. Tetapi Mataram Islam, Kesultanan Yogyakarta, Paku Alaman, Mangku Negaran, Ternate, Tidore, Buton, Kerajaan Syiak, kerajaan Melayu Deli, Istana Maimun, Pontianak, Kesunan Cirebon, sampai hari ini masih terawat eksis meski perannya terbatas. Tetapi setidaknya keberadaan kesultanan atau kerajaan islam bisa menjadi jawaban atas tesis, bahwa peradaban islam akan terus bertahan bila dibangun atas fundamental velue iman, ilmu dan moral.

Sejarahpun menukilkan bahwa prilaku anomali dan ambigue para penyelenggara pemerintahan emperium sendiri yg mengabaikan dimensi moral, adalah factor utama yang menyebabkan runtuhnya suatu peradaban. Mereka berburu kekuasaan dg harta, kemudian menghamburkan harta, berfoya foya demi kepuasan ego dan keangkuhan kekuasaan. Di sisi lain kesejahteraan public, kemakmuran masyarakat, martabat public sebagai tujuan bernegara terabaikan. Bahkan penyelenggara emperium berlaku tidak adil dan diskriminasi pada golongan tertentu. Mari kita lihat factor runtuhnya emperium Islam Cordova yg perna jaya selama 7 abad. Namun akhirnya runtuh akibat runtuhnya moralitas politik di tangan penyelenggara emperium sendiri.

Untuk itu bila setiap kita bisa berpegang teguh pada prinsip dasar peradaban yaitu iman, ilmu dan akhlaq serta menjalankan secara konsisten maka sesungguhnya kita sdh menjalani misi profetic Muhammad Rosulullah. Baginda Muhammad bersabda, sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan peradaban manusia dari sejarah peradaban para nabi nabi sebelumnya.

Sejarah juga mencatat bhw warisan akhlaq yang ditinggalkan nabi Muhammad saw, telah membuahkan karya karya spektaculer. Yaitu perluasan wilayah dakwah dan kejayaan peradaban islam terus bertahan hingga 15 abad kemudian, termasuk pada generasi kita. Bahkan sampai yaumil kiyamah nanti.

Moga kita semua warga Lamakera yg meneladani akhlaq baginda Muhammad, sanggup menjadi energi terbaik, piranti yg kokoh, guna mengusung agenda besar, menjadikan Lamakera sebagai epicentrum peradaban islam.

Diakui ataupun tidak, nilai nilai seperti iman, ilmu dan amal sebagai pirantai dasar, shoftware sdh lama bersemi dan tumbuh berakar di Lamakera. Turut membentuk fundamental karacter, tumbuh menjadi identitas, dan pola hidup, para penduduk yg menempati bumi Lamakera. Tanpa nilai tsb saya kira Lamakerapun sdh sirna dari ruang sejarah.

Untuk itu tentunya keberadaan manusia Lamakera, suku suku di Lamakera, lembaga masjid dan lembaga pendidikan dapat diformulasikan secara integral menjadi infra structur social, actor dan pilar terwujudnya epicentrum peradaban islam di Lamakera. Semua komponen harus hadir dg tugas menyanggah dan menopang kerja peradaban yg berbasis di Lewotanah Lamakera.

Bila ingin menjadikan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam maka otomatis harus melibatkan totalitas penduduk Lamakera sebagai bahagian terpenting dlm proses kerja memajukan agenda peradaban ini. Maka langkah terpenting terlebih dahulu menyiapkan warga Lamakera dlm aspek, sikap mental, cara pandang dan pola hidup agar memiliki kesiapan menerima dan mendukung gagasan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam. Orang Lamakera patut menjadi tuan rumah terbaik dlm realisasi Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam.

Harus dimengerti bhw Focus Proyek Peradaban islam itu tidak hanya membangun hal hal yg bersifat fisik, seperti gedung megah, bangunan Indah pencakar langit. Itu semua bisa dikerjakan melalui proses diplomasi politik oleh kaum intelegencia Lamakera yg memiliki relasi kekuasaan politik maupun bisnis. Sedangkan Peradaban adalah produk akal budi, fikiran, jiwa yg berdaya cipta, berdasar pada tiga nilai fundamental, iman, ilmu dan moral. Ketiga faktor itu mendorong lahirnya etos kerja dan cita juang manusia yang menghasilkan suatu pranata yg meletakan dimensi manusia sebagai mahluk mulia, tertinggi, terhotmat dan berderajat. Peradaban berdimensi kemanusiaan akan tetap bertahan, lestari bahkan meningkat pengaruhnya bila dijiwai oleh iman, ilmu dan akhkaq.

Sementara bangunan besar, gedung megah pasti akan hadir mengikuti agenda besar yg sedang tumbuh Lamakera. Gedung megah dan mewah tidak akan hadir memperindah Lamakera, menambah sempurna kejayaan Lamakera bila di Lamakera tanpa ada ikhtiar dan kerja besar peradaban.

Olehnya perlu didorong, dg berbagai formulasi yg tepat agar setiap manusia Lamakera dapat berperan serta dan peran aktif menjadi aktor penggerak dan pendukung dlm kerja peradaban. Hal penting yg diperlukan ialah orang Lamakera menghadirkan cara pandang, keterbukaan jiwa, dan kemerdekaan berfikir menerima perubahan. Kemerdekaan berfikir untuk mengedepankan pemikiran positivistik. Membunuh sejauh mungkin watak premordialisme primitif yg mengedepankan ego dan mengabaikan fakta sejarah. Menjauhi sejauh jauhnya watak permusuhan, culas, fitnah, berburuk sangka, dan surat kaleng yg selama ini menjadi kebiasaan buruk. Tentu tradisi primitif ini tidak boleh hidup di tengah masyarakat yg menghargai competisi dan dialog akal sehat.

Ikhtiar mewujudkan Peradaban Islam di Lamakera bukan saja menjadi monopoli segelintir orang yg punya relasi kekuasaan, dan juga bukan hanya menjadi dominasi segelintir kaum intelegencia yg biasa membaca buku dan perpidato. Namun peradaban adalah kerja colektif, melibatkan semua komponen orang Lamakera sesuai dg kesanggupan, kemampuan, keahlian masing masing. Tentu dlm prosesnya perlu pengorganisasian sehingga semua usaha terorganisir, guna merahi hasil yg maksimal. Bila suatu proyek kebaikan yg tidak terorganisir maka bisa dihancurkan oleh suatu kebathilan yg terorganisir.

Setiap langkah peradaban khususnya tahap mewujudkan Lamakera Epicentrum Peradaban Islam dibutuhkan kerja berdasarkan networkong oleh segelintir kaum intelegencia dlm perencanaan, tata kelola dan pengorganisasian yg manageble.

Peran minoritas kaum intelegencia sebagai aktor atau prim over utama memiliki posisi tawar yg penting. Diharapkan pada minoritas intelegencia berperan untuk merumskan ide, mengkomunikasikan ide, menggerakan ide, dan mengawal ide. Agar ide ide peradaban itu berjalan memenuhi ruang sejarah, alias membumi di bumi Lamakera dan membuahkan hasil yg bermanfaat bagi siapapun.

Sejak thn 1941 Abdul Syukur menggoreskan pena peradaban, menancapkan pilar penegak peradaban. Lamakera saat ini memiliki human resourcis atau sumber daya peradaban yg relative tersedia sebagai pendukung dlm agenda peradaban. Dewasa ini kita warga Lamakera rasanya tidak lagi dlm posisi “Hope Subba Nuru Rara” karena kita sdh punya Subba Subba peradaban dan rara peradaban yg tersedia.

Karena itu Para Subba sebagai intelegencia Lamakera bertindak sebagai prim over, actor penggerak dan perambah jalan baru peradaban. Dengan terlebih dahulu meluruskan niat bhw tugas kita meneruskan, penyempurnakan garis rute dan memperbesar atmosfir peradaban yg telah dilakukan oleh para pendahulu.

Olehnya perlu kejujuran objectif, bukan basa basi untuk mengakui. Bhw dahulu ada tokoh penggerak peradaban, aba Haji Ibrahim Tuan Dasi dan generasi seangkatannya sebagai Peletak Landasan Peradaban Islam Lamakera. Dan dilanjutkan oleh Abd Syukur ID bersama generasi seangkatannya. Merekalah pengukir huruf peradaban dan penanam pilar sebagai tonggak peradaban. Melalui Taman Pendidikan Syukur dan Yayasan Tarbiyah Islamiyah berdirilah MIS, PGAP 4 Thn di kawasan perkampungan Islam sepanjang Pulau Flores, Kepulauan Solor, Alor dan Pulau Timur, dan PGA 6 Thn di Ende dan Kupang.

Dan lulusan PGA 6 Thn menjadi generasi pertama pengisi Job Departemen Agama di seluruh kawasan NTT. Lalu diikuti dg kebijakan pengangangkatan Guru Agama melalui Ujian Guru Agama untuk mengajar pada MIS yg dimiliki Tarbiyah maupun sebagai guru agama pada SD. Hal ini merupakan kerja peradaban otentic seorang tokoh intelegencia Abd Syukur ID, sebagai Pengurus Yayasan Tarbiyah Islamiyah dan Kepala Jawatan Pendidikan Agama Islam NTT.

Dan kita kita hari ini yang sedang bermetamorfosa di atmosfir peradaban, yang mengidentifikasikan dari sebagai Generasi Emas Lamakera, adalah produk otentik guru guru yg dicetak oleh kepelopran Aba Haji Ibrahim Tuan Dasi dan Putranya Abd Syukur ID, sejak thn 1937 aba Haji Memangku Jabatan sebagai Raja Lamakera.

Kejujuran objectif kita sebagai kaum intelegencia untuk mengakui kontiniutas sejarah ini penting, mengingat tidak ada sejarah peradaban suatu bangsa yg terlahir di ruang hampa. Dari sini kita baru melihat sejatinya urat nadi kesinambungan rute peradaban, tidak ada garis demarkasih antara generasi intelegencia Lamakera di zaman kita dan zaman generasi sebelum kita. Dan sekarang torehan pilar karya generasi Abd Syukur dilanjutkan oleh generasi Dr. HM. AliTaher Perasong.

Corak dan struktur serta muatan peradaban antara generasi Aba Haji Ibrahim Tuan Dasi, H. Abd Syukur ID dan Dr. HM Ali Taher Parasong hari ini tidak berubah bahkan tidak bergeser. Ketiga tiganya memiliki visi yg kuat tentang Islam dan Lamakera, ketiganya mempunyai Kekuasaan dan Jabatan. Aba Haji Ibrahim Tusn Dasi mempunyai Kekuasaan sebagai Raja Lamakera. H. Abd Syukur ID mempunyai yayasan Tarbiyah dan Kepala Jawatan Pendidikan Islam Kanwil NTT, terakhir menjadi anggota DPRD NTT. Sedangkan Dr. HM. Ali Taher Parasong selain sebagai activis Muhammadiyah juga Pengurus DPP PAN dan Anggota DPR RI, Pejabat Politik negara. Yang ingin saya katakan bhw ketiga putra Lamakera ini adalah sosok intelegencia yg memiliki ketokohan, kekuasaan dan relasi kekuasaan. Inilah rahmat kebenaran dan perubahan yg diberikan Allah pada Lamakera untuk umat dan bangsa.

Proyek bangunan peradaban islam kita berporos pada Pendidikan. Maka gerakan peradaban kita bermula dari memperkuat ikhtiar transendental. Dimana setiap manusia Lamakera senantiasa memi’rajkan dirinya kepada Allah, atau memperkuat iman. Lalu kembali membawa iman menghambahkan dirinya menjadi kholifah bertugas di setiap hamparan ruang bumi. Orang Lamakera menjadi hambah Allah mengembara menelusuri jalan di laut dan darat mencari kemuliaan dan keredlaan Allah.

Iman sebagai dasar pergerakan peradaban. Tentunya bila menjadi nelayan Lamakera, nelayan yg menghambahkan diri pada Allah. Begitupula menjadi papalele, juga papalele yg menghambah kepada Allah. Nelayan dan papalele bukanlah pekerjaan terhina dan tertindas, bila kedua agenda itu dijalani dg atas nama Allah. Dengan begitu semua activitas sebagai nelayan atau sebagai papale dimaksudkan untuk mencari ridloh Allah. Allah yg akan menjawab semua ikhtiar sebagai nelayan maupun papalele. Hasil yg diperoleh sebagai nelayan dan papele sekecil apapun diproyeksikan untuk mengelola hidup dan menyonsong masa depan. Dari sini cara orang Lamakera memuliakan diri sebagai manusia mahluk pilihan Allah. Dari sini pula orang Lamakera merencanakan agenda kehidupan untuk menjemput masa depan dan menciptakan era baru.

Era baru yang mengundang sorot mata dunia ke Lamakera. Karena Lamakera memberikan perspektif baru tentang pandangan dunia. Lamakera memberikan janji janji perubahan bagi siapapun yg datang ke Lamakera untuk bersemi menjadi anatomi kader peradaban islam.

Ikhtiar mewujudkan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam, adalah totalitas kerja kemanusiaan. Dimana manusia menghadirkan etos Kehambaannya sebagai kholifah di muka bumi, dg membaca, memahami, merumuskan setiap fenomena cosmologis yg nampal. Lalu mengelola secara tertib dan memanfaatkan untuk memakmurkan dan memartabatkan manusia. Dengan bacaan yg terstruktur pada setiap fenomena cosmos itu merupakan jalan baginya untuk mendapatkan hidayah atau menemukan iman pada zat yg maha absolut.

Peradaban yg berdimensi robbani, tidak akan pernah tumbuh di Lamakera, apalagi bermetamorfosa dan merembah menjadi atmosfir peradaban, sepanjang tidak diikuti dg tumbuhnya hidayah Allah di setiap diri manusia Lamakera. Maka orang Lamakera seharusnya memburuh hidayah Allah, memburuh rahmat Allah, sebelum melangka menggerakan peradaban.

QS al anam: 125 -126
Artinya:
* Barang siapa yg dikehendaki Allah akan mendapatkan petunjuk, dan akan membukakan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa yg dikehendaki sesat, Allah akan menyempit dan mensesakan dadanya, bagaikan orang mendaki gunung. Demikian Allah menimpakan siksa kepada orang yg tidak beriman.

* Dan inilah jalan Tuhanmu yg lurus, kami sdh menjelaskan ayat ayat kami kepada mereka yg menerima peringatan.

Peradaban Islam di Lamakera akan memperlihatkan corak otentiknya, bila orang orang Lamaker memulai dg bermunajah dan mewakafkan diri untuk menjadi mujahid dan mujahidah peradaban. Dengan senantiasa bersujud dan bermunajah keapada Allah. Allah akan menjawab dg menurunkan kedamaian dan kesejukan di hati setiap mukmin Lamakera. Tentu selanjutnya proses pembangunan di lewotanah Lamakera diiringi dg berlimpah cahaya rahmat dan hidaya Allah. Lamakera akan menjadi magnitic yg memicu kilau cahaya peradaban.

Construcsi Peradaban Islam, bertumpu pada otiritas dan kualitas antopocentrism, adalah suatu yg bersifat aksiomatic. Manusia yang beriman, membuahkan atmosfir intelegencia, dan kerja intelegencia melahirkan akhlaq atau karya mulia. Iman yg dimiliki manusia merupakan energi fundamental yg menggerakan pandangan intelegencia kemanusiaan untuk senantiasa melakukan proyeksi, dan merancang cita cita untuk menggerakan perubahan.

Iman kepada Allah melahirkan padangan kritis, dinamis dan progresif bagi setiap kaum intelegencia tentang komitment dan tanggung jawab dlm mewujudkan pranata dan perubahan social. Iman yg dinamis melahirkan etos kerja progresif, karacteristic pribadi yg berntegritas, peduli dan terlibat memperjuangkan tegaknya keadilan untuk mewujudkan martabat sosial tanpa diskriminasi. Di sinilah islam sebagai agama perubahan yg menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan.

Tentunya gagasan rancang bangunan peradaban itu dimulai dari institusi terkecil yaitu rumah tangga setiap warga Lamakera. Ibu yang rela, tulus mewakafkan rahimnya dan merawatnya untuk bersemi dan melahirkan generasi peradaban Lamakera. Ayah yg rela mewakafkan hidupnya untuk menafkahi generasi peradaban. Rumah Tangga diwarnai semangat spiritualisme dinamis dan cita cita progresif. Kita bisa membayangkan serendah dan sesederhana apapun kondisi kehidupan setiap keluarga Lamakera, namun di dalamnya terdapat cita cita besar tentang peradaban islam.

Para Ibu tiada hari tanpa kerja tulus mengunmandangkan doa mulia untuk lahirnya generasi peradaban yg berkualitas baik. Robby hably minasholihin. Robby hably minladunka dzurriyatun toyyibatun innaka samiuddua, (QS. Ali Imron: 38). Robby auzi’ni anasykuru ni’matakallati anamata alayya, waala walidayya, waan a’malu sholihan tardloh, washlihly wadzurriyaty inny tubtu ilayka wainny minal muslimin, (QS. alahqof: 15). Robbana wajaalna muslimina laka wamin dzurriyatana ummatan muslimatan, (QS. albaqoroh: 168). Doa ibu merupakan munajat sang ibu agar kelak generasi Lamakera yg terlahir dari rahimnya menjadi generasi supper cemerlang yg sanggup mengangkat marwah menentukan potret baru Lamakera ke depan.

Gambaran Lamakera sebagai epicentrum peradaban islam dapat dianalogikan seperti halnya akar sebuah pohon menghujam di bumi Lamakera, batangnya tegak lurus, kokoh dan kekar menadah dahan, ranting, dan di setiap ranting tumbuh daun yg rimbun, bunga yg indah dan buah yg lebat dan dinikmati oleh negeri di sekitarnya.

Dewasa ini Lamakera sedang berbenah diri, melanjutkan sejarah perjuangan para pendahulu, menjadikan Lamakera sebagai epicentrum peradaban Islam. Para pendahulu kami telah memilih lembah tandus Lamakera sebagai kampung untuk membangun hidup dan kehidupan. Mereka membuat perjanjian tentang luas wilayah Lamakera, dan bersepakat tentang nama Kampung Lamakera. Secara bertahap seiring dg perkembangan demografi penduduk, terbentuklah suku suku. Lalu diikuti dg pembentukan norma adat atau adat istiadat. Pembentukan pemimpin, pelembagaan Islam sebagai agama resmi penduduk Lamakera. Kemudian mendirikan sekolah dan mengundang para guru untuk memperkuat pengetahuan keislaman untuk warga Lamakera.

Dan sejak thn 2010 telah terlahir generasi kaum intelegencia membawa gagasan baru. Atas inisiatif dan prakarsa Dr. HM. Ali Taher Parasong, merenovasi bangunan masjid mendirikan menara masjid dan mendirikan Madrasah Aliah Plus Tarbiyah (sekarang sdh negeri) sebagai isyarat dan indikasi kebangkitan Lamakera. Dan akan diikuti dg program program yang lain seperti Lamakera mengaji, melahirkan para penghafal al Qur’an nantinya. Quran huddan linnas pentunjuk bagi manusia Lamakera untuk menjalani tugas membangun peradaban.

Sesungguhnya langkah langkah Ali Taher Perasong adalah merupakan kristalisasi dan continiutas spirit kerja peradaban yg telah dilakukan oleh generasi pendahulu. Abd Syukur Ibrahim Dasi dan Muhammad Ibrahim Tuan Dasi Raja Lamakera yg sangat besar pengaruhnya memberikan perhatian dalam membentuk arah baru Lamakera pada pengembangan dakwah dan pendidikan Islam.

Bangunan peradaban di Lamakera setidaknya nemerlukan 3 hal penting yg harus dilakukan oleh orang orang Lamakera sendiri baik yg berada di Lamakera maupun di perantauan. Yaitu konsolidasi iman, konsolidasi pemikiran, dan konsolidasi pergerakan.

Menjalankan ibadah spiritualitas yg khusuk karena Allah. Ibadah yg khusuk akan membuahkan kualitas iman yg meyakini adanya dimensi kebenaran ilahiyah dg segala ciptaannya. Iman nelahirkan optimisme untuk merebut era baru perubahan. Meyakini Kebenaran ilahiyah (sumber hidayah) akan membuahkan cahaya ilmu, membangun toeri, menggerakan kerangka berfikir. Dan setiap kerangka berfikir diikuti oleh etos gerakan perubahan, melalui karya karya. Semua yang dihasilkan itu merupakan manifestasi iman dan ilmu. Inilah proses paradigmatic menuju terwujudnya kesinambungan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam.

Lamakera Islamic Society, seperti telah disinggung sebelumnya. Yaitu dimulai dari menata fungsi dan peran setiap rumah orang dan penduduk Lamakera agar memiliki tradisi sholat, mengaji, dan belajar. Dari perspektif ini terbentuk spiritualitas sosial, pranata rumah sakinah, rumah yg sanggup memberikan proyeksi tentang era gemilang peradaban islam di Lamakera.

Setiap rumah suku dan balai suku berfungsi sebagai tempat pengajian, ta’lim, bertabayun oleh anggota suku tentang semua hal yg berkaitan dg pembangunan Lewo Tanah Lamakera. Terbentuk pranata ruhama baynahum. Rumah suku menjadi solusi atas setiap ketegangan, setiap kesulitan, melahirkan putusan putusan yang memperkuat dukungan kerja peradaban di Lamakera.

Bila setiap rumah warga Lamakera berkualitas sakinah spiritualitas, juga suku dan balai berkualitas ruhama baynahum, memiliki makna implikatif yg positif terhadap tegaknya proses pendidikan di Lamakera. Pendidikan pertama adalah keluarga di rumah, sedangkan masyarakat dan suku juga merupakan lingkungan pendidikan sosial yg menempa carakter pendidikan anak. Sementara sekolah formal sebagai tempat untuk mengurai agar setiap anak menemukan dirinya sesuai kecenderungan fitrah yg Allah ciptakan pada setiap manusia.

Tentu kerterkaitan peran antara pendidikan berbasis rumah, pendidikan berbasis suku, pendidikan berbasis sekolah, akan menunjang kemakmuran spiritualitas dan keadaban masjid Lamakera sebagai simbul peradaban. Dari perspektif ini dapat dipastikan warga Lamakera bisa menjadi penghuni rumah peradaban, sekaligus pencetak generasi peradaban di berbagai bidang, membangun optimisme, bhw warga Lamakera sanggup merambah jalan baru Epicentrum Peradaban Islam.

Ujung dari gerakan Lamakera Epicentrum Peradaban Islam, yaitu menjadikan Lamakera sebagai Perkampungan Pembenihan Islamic Human Resources. Tempat bersemi cikal bakal manusia peradaban yang kelak menjadi filosof muslim, di bidang ilmu kalam, ilmu Fiqih, Tasauf, arsitectur, kedokteran, politisi, negarawan, diplomat, technocrat, dan berbagai disiplin ilmu kauniah lainnya.

Idfa’billati hiya ahsan,
nun walqolam wama yasturun.

Tandang ke Gelanggang Walau Seorang, Pantang Surut Walau Mayat Menghadang.
Yakin Usaha Sampai.

Ciputat 6 Juli 2020

Penulis :MHR. Shikka Songge Peneliti: Politik dan Sosial Keagamaan CIDES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *